Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 1

Pada usia enam belas tahun, ayah Alisa Laurent meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Bahkan sebelum masa tujuh hari berkabung usai, ibunya telah membawanya menikah lagi dan bergabung dengan Keluarga Winata. Alisa menolak gagasan kehidupan baru yang selalu dibanggakan ibunya. Penolakan itu pula yang membuatnya sulit menerima kehadiran adik tiri, Andre Winata. Andre mengenakan kemeja putih berpotongan rapi, dengan semua kancing terpasang hingga ke bawah jakun. Sikapnya sangat tenang. Saat pertama kali bertemu sosok anak baik yang selalu dipuji ibunya, dorongan untuk mengusik citra sempurna itu justru bangkit dalam dirinya. Mengganggu Andre pun segera menjadi satu-satunya hiburan baginya di vila yang senyap itu. Dia melonggarkan dasi Andre yang selalu tertata tanpa cela, meninggalkan jejak kaki di sepatu putihnya, serta menempelkan permen karet pada halaman pembuka buku pelajarannya. Tindakan yang paling keterlaluan adalah ketika Alisa menggiring Andre untuk menguping percakapan ayah tiri dan ibunya di balik dinding kamar. Dia melihat ujung telinga Andre memerah, Alisa mendekat, lalu berbisik di telinganya. "Anak baik, apakah kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?" Andre seketika menepis tangan Alisa. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi. Di sorot matanya bergolak rasa malu, tersinggung, dan keterpojokan yang menyesakkan. Alisa tersenyum seperti rubah yang baru saja berhasil memperdaya mangsanya. Dalam enam tahun berikutnya, dia semakin menjadi-jadi dan terus menguji batas kesabaran Andre dengan berbagai cara. Sementara itu, Andre selalu diam. Hanya saja di kedua matanya tersimpan bayang gelap yang tidak pernah dia pahami. Pada malam kelulusan kuliah, Alisa pulang dalam keadaan mabuk. Dia mencegat Andre di selasar tangga, lalu menarik tangan Andre dan menekannya ke pinggangnya. "Hal sederhana seperti ini pun masih harus kuajari?" Dia menyalakan api besar yang tak terbendung. Sejak saat itu, sudut-sudut sepi di rumah berubah menjadi kelas terlarang, Cara bernapas saat berciuman, cara menggigit cuping telinga pasangan saat terangsang, hingga cara menelusuri titik-titik kenikmatan dalam tubuh .... Dia menyentuh otot Andre yang tegang dan menikmati sensasi kendali atas situasi tersebut. Andre pada awalnya kaku dan canggung, lalu perlahan semakin terampil, hingga akhirnya tenang dan cekatan. Pada suatu malam berhujan, keadaan berbalik. Andre mengambil alih kendali dan menahan Alisa di bawahnya. Ujung hidungnya bergesek lembut di sisi leher Alisa, lalu berbicara dengan suara parau. "Kakak, sekarang giliranku yang mengajarimu." Saat itu, Alisa merasakan tubuhnya bergetar, dipenuhi rasa sangat bersemangat dan puas. Serigala muda yang dia besarkan dengan tangannya sendiri, kini akhirnya menunjukkan taringnya. Alisa tenggelam dalam kenikmatan tersembunyi itu dan mengira permainan berbahaya tersebut akan terus berlanjut. Hingga suatu hari, dia menerima undangan dari grup tari terbaik di luar negeri yang memintanya bergabung sebagai penari solo. Kesempatan yang selama ini dia impikan dan jalan baginya untuk sepenuhnya keluar dari bayang-bayang ibunya dan melangkah ke dunia baru yang bebas. Namun, dia teringat pada Andre. Hubungan yang rumit tapi membara di antara mereka adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dalam masa muda Alisa yang suram. Dia bahkan pernah diam-diam membeli sepasang cincin, berniat mempertaruhkan masa depannya sendiri. Saat menatap kembali surel tersebut, batin Alisa jatuh ke dalam kebimbangan. Ketika dia gelisah dan berniat mencari Andre untuk berterus terang, layar ponselnya tiba-tiba menyala. Itu berasal dari nomor yang tidak dia kenal, berisi sebuah video tanpa keterangan apa pun. Alisa menahan rasa cemas yang samar, lalu menekan tombol putar. Kamera tampak tersembunyi di salah satu sudut ruang kerja. Gambarnya agak gelap, tapi cukup jelas. Andre duduk di kursi berlengan berlapis kulit, memangku seorang gadis bergaun putih. Alisa ingat gadis itu bernama Aqila Candra, pegawai magang baru di perusahaan Andre. Tangan Andre berada di pinggang gadis itu, tepat di posisi yang sama seperti permintaan Alisa saat mabuk dulu. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkung samar, lalu mengucapkan kalimat yang sangat familier bagi Alisa. "Hal seperti ini pun masih perlu aku ajarkan?" Wajah Aqila memerah, tubuhnya sedikit gemetar, memperlihatkan sikap yang malu-malu dan lemah. Video itu masih berlanjut. Pakaian mereka satu per satu jatuh ke lantai kayu dan embusan napas yang memburu semakin jelas. Andre dengan sabar membimbing Aqila, sama seperti dulu Alisa membimbingnya untuk mengenal dan memahami tubuhnya sendiri. Melihat dua orang yang berpelukan di layar, pikiran Alisa mendadak kosong dan aliran darahnya seperti membeku. Ponsel itu terlepas dari tangannya yang bergetar, lalu menghantam karpet dengan bunyi tumpul. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki dan tangannya, meresap hingga ke sela-sela tulangnya. Andre mengulang semuanya, menyalin setiap cara menggoda yang dulu dia terima dari Alisa, termasuk interaksi paling pribadi, paling kacau, sekaligus paling nyata menurut Alisa, lalu memakainya pada wanita lain, tanpa berubah sedikit pun! Alisa berpegangan di tepi meja, nyaris muntah. Dia seketika mengambil ponselnya, lalu melangkah cepat ke ruang kerja Andre dan mendorong pintu hingga terbuka. Andre sedang bekerja. Saat mendengar suara dari Alisa, dia mengernyitkan dahi dengan tidak senang. Alisa menyodorkan ponselnya ke depan Andre, memutar video yang baru saja dia terima. Hingga video selesai diputar, ekspresi Andre tidak berubah sedikit pun, tanpa tanda gugup meski baru saja terbongkar. Dia menatap Alisa dengan tenang, bahkan sempat tersenyum tipis. "Bagaimana hasil belajarku selama ini? Kakak puas nggak?" Suara Alisa bergetar karena emosi yang memuncak. "Kenapa?" Andre terkekeh dan berdiri, menatap kemarahan Alisa dengan tenang. "Sudah lama bermain tanpa status yang jelas. Kukira kita sama-sama paham. Sepertinya Kakak sungguh mengira kita sedang saling menjalin asmara?" Andre mendadak maju selangkah. Tangan yang dulu bebas menyentuhnya kini mengangkat sehelai rambut panjang Alisa, suaranya rendah. Posturnya sangat intim, tapi justru seperti bisikan iblis yang dingin dan lirih. "Kakak selalu menikmati peran pemburu. Tak pernahkah terpikir, bahwa kau hanyalah buruan yang dipermainkan?" "Hanya saja buruan ini terlalu mudah. Sekadar gerakan jari, sudah terpancing." Kepala Alisa berdengung. Dia menatap Andre dengan tidak percaya. Awalnya dia sekadar mengusik adiknya untuk bersenang-senang, tapi setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan demi kenangan membuatnya larut tanpa mampu dia cegah. Andre dengan saksama memijat pergelangan kakinya yang bengkak setelah latihan tari, menyiapkan bekal untuk dia bawa saat bepergian, meski gerak-geriknya masih kaku. Dia dulu dengan sengaja menggugah keinginan Andre, hingga saat emosi memuncak, Andre tanpa sadar berbisik kata-kata cinta di telinganya.... Terkadang bahkan Alisa sendiri tidak mampu membedakan apakah itu main-main atau tulus. Hingga pada akhirnya, dia sendiri tak ingat sejak kapan dirinya larut dalam hubungan yang terjalin diam-diam dan tak pernah diungkapkan pada siapa pun. Bahkan dia pernah memikirkan selamanya.... Dia memejamkan mata sejenak, lalu berbicara dengan keberanian yang tersisa. "Selama bertahun-tahun ini, apakah kau tak pernah tulus sedikit pun?" Tatapan Andre sempat terhenti. Seolah mendengar lelucon, sorot matanya perlahan meredup menjadi sinis, dingin dan hampa tanpa kehangatan sedikit pun. "Apakah ibumu yang menjadi selingkuhan itu pernah tulus? Ketika dia merenggut martabat ibuku hingga berakhir pada kematian tragis, mungkin dia tak pernah menyangka bahwa suatu hari putrinya akan berdiri di hadapanku, merendahkan diri hanya demi ketulusan yang sangat konyol." "Kakak, aku sudah lulus dan resmi diakui. Sepertinya kamu masih perlu banyak belajar!" Ternyata perasaan ambigu yang selama ini tampak manis dan intim hanyalah perangkap yang dia bangun di atas kebencian. Dunia Alisa runtuh seketika. Rasa hina yang sangat dalam menyergapnya, membuat tubuhnya mendadak dingin. Dia menegakkan sisa harga dirinya, menatapnya tajam tanpa berkedip. "Apakah kamu nggak takut jika aku menyebarkan video itu ke publik, lalu sosok polosmu hancur?" Begitu kalimat itu terucap, senyum di sudut bibir Andre membeku. Sorot matanya berubah gelap. "Kamu boleh mencobanya." "Aku pastikan, mimpi menarimu dan kehidupan kaya yang susah payah ibumu dapatkan akan hancur tanpa sisa!" Seolah kesabarannya benar-benar habis, selesai berbicara dia pergi dengan langkah lebar. Itu justru menegaskan bahwa seluruh kejadian hari ini hanyalah akibat yang Alisa datangkan sendiri. Dengan menahan air mata di sudut matanya, dia meraih ponsel dan menekan nomor panggilan internasional. "Halo. Terkait undangan dari kelompok tarimu, aku bersedia menerimanya." "Hanya saja, aku punya satu permohonan...."
Previous Chapter
1/22Next Chapter

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.