Bab 11
Staf penerbangan menatapnya sekilas, lalu menolak dengan sopan, "Mohon maaf, Pak, kami nggak bisa mengungkapkan informasi penumpang."
"Dia istriku!" raung James dengan mata memerah. "Aku harus berbicara dengannya!"
"Pak, kalau kamu memiliki urusan mendesak, kamu bisa mencoba menghubunginya secara pribadi," balas staf itu.
"Ponselnya mati!" ujar James.
"Kalau begitu, kami minta maaf, kami nggak bisa membantu lebih jauh," jawab staf itu.
James berdiri tertegun di tengah bandara yang dipenuhi orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan ketidakberdayaan yang mendalam.
James berjalan mondar-mandir di aula itu seperti lalat tanpa kepala, menatap layar informasi yang terus memperbarui jadwal penerbangan ke berbagai belahan dunia.
Dia tidak tahu ke mana wanita itu pergi.
Dia bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.
Pada akhirnya, James hanya bisa berkendara pulang.
Rumah yang kini tanpa Camelia itu terasa sedingin lemari es.
Dulu, tak peduli semalam apa pun James pulang, akan selalu ad

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link