Bab 21
Tepuk tangan kembali bergema, bercampur decak kagum.
Dicky naik ke panggung untuk menerima barang lelang.
Sesuai prosedur, dia harus berjabat tangan dengan perancangnya.
Dia berjalan ke hadapannya, cahaya lampu terasa menyilaukan.
Dia mengulurkan tangan.
Jarinya dingin, bergetar halus hampir tak terlihat.
Tangan wanita itu hangat dan kering, berjabat ringan lalu segera dilepas.
Senyum formal terlihat pas di sudut bibirnya.
"Terima kasih atas dukungan Pak Dicky terhadap kegiatan amal."
Suaranya tenang, sopan, berjarak.
Dicky menatapnya dalam-dalam.
Jakunnya bergerak.
Ribuan kata menyumbat dadanya, membakar, dan akhirnya hanya berubah menjadi satu kalimat serak.
"Desainmu ... sangat indah."
"Selamat."
"Terima kasih." Senyum Alice tidak berubah dan sedikit mengangguk.
Proses selesai, mereka turun dari panggung.
Lorong belakang panggung sempit, dipandu staf, keduanya berjalan berdampingan sebentar.
Dicky mencium aroma samar yang asing dari tubuhnya, bukan wewangian apa pun yang ada dalam i

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link