Bab 15
Dana donasi 200 miliar yang dijanjikan Bu Tania masuk ke rekening keesokan harinya.
Saat menerima pesan dari Bu Janita, Wina sedang makan di restoran dekat kampus bersama Rena dan Kevin.
Melihat pesan di layar ponselnya bertuliskan dana donasi telah diterima, dia mengangkat alis dan melirik meja sebelah, tempat dua bersaudara Setiadi duduk berhadapan sambil masing-masing menunduk memainkan ponsel.
Wanita itu tersenyum tipis, meletakkan ponselnya, lalu berjalan mendekat dan mengetuk ringan meja di depan mereka. "Tolong pesankan tiket untukku."
Keduanya serempak mendongak dengan wajah terkejut.
Wina tersenyum manis kepada mereka. "Aku sudah memikirkannya. Besok aku akan pulang ke Kota Waringin bersama kalian."
"Benarkah!?"
Dua bersaudara itu berseru bersamaan.
"Tentu saja."
Wina berpura-pura menghela napas tak berdaya. "Tapi kalian juga tahu, aku pernah mengalami trauma psikologis akibat perundungan kampus oleh Susan. Kali ini, perlakuan kalian membuat penyakit lamaku kambuh."
"Jadi, kal

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link