Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 4

Suasana seketika jatuh ke titik beku. Pengawal dari kedua pihak sama-sama bergerak sedikit, tangan mereka menekan pinggang. Andien mengangkat tangan memberi isyarat berhenti, memperlihatkan bekas luka dalam di antara ibu jari dan telunjuk tangan kirinya. Itu adalah luka yang dia dapatkan saat Louis baru dibawa kembali ke Keluarga Ginusga dan belum lama berkuasa, ketika dia diculik dan Andien nekat menyelamatkannya. Saat itu dia menahan satu tebasan pisau dari penculik, darah mengalir membasahi pergelangan tangannya yang putih, namun dia sama sekali tidak merasa sakit. Sekarang, hanya karena satu kalimat dari Louis, dia justru merasa luka itu mulai terasa sakit. Selama bertahun-tahun ini, setengah dari semua yang didapatkan Louis bersumber dari dirinya, yang tanpa ragu membereskan semua pekerjaan kotor dan memalukan yang tidak pantas ditampilkan ke publik. Itu jelas bukan sesuatu yang bisa dibandingkan dengan seorang anak. "Kamu tahu dia bodoh, tapi tetap membiarkannya datang menantangku. Itu kesalahanmu." Wajah Louis tidak menunjukkan emosi apa pun, hanya sorot matanya yang sedikit meredup. "Ke depannya, dia nggak akan muncul lagi di hadapanmu." Louis berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Untuk jangka waktu yang lama setelah itu, Andien tidak pernah melihat Louis maupun Neisha. Hanya saja, cukup banyak kerabat yang datang mengajukan permohonan untuk berangkat ke laut. Semuanya dia tolak dengan alasan Neisha sudah menandatangani dokumen tersebut. Setelah menolak kerabat ke-20, Andien mengirim satu pesan pada Louis. [Selama kamu mau cerai, aku akan mengganti posisi Neisha yang berangkat ke laut.] Status lawan bicara menunjukkan sedang mengetik, tapi pada akhirnya tidak ada balasan apa pun. Selama periode itu, Andien tetap rutin pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Jelas-jelas semua hasil normal, tapi sudah lima tahun, dia tetap tidak bisa hamil. Perut bagian bawahnya juga pernah terkena tikaman demi Louis. Setiap kali hujan turun, rasa sakit itu muncul kembali dan tidak ada obat khusus yang bisa benar-benar menyembuhkannya. Neisha pernah mengejeknya, mengatakan kalau dia terlalu banyak berbuat dosa, tangannya sudah ternoda terlalu banyak darah, sehingga bahkan anak pun enggan bereinkarnasi ke dalam rahimnya. Andien merasa perkataan itu masuk akal. Itulah sebabnya dia tidak keberatan jika tangannya harus berlumur darah beberapa kali lagi. Saat membawa obat dan hendak pergi, Andien berpapasan dengan Neisha dan Louis di tikungan lorong. "Louis, dokter bilang obat ini kalau diminum terlalu banyak bisa bikin orang nggak bisa hamil tanpa ketahuan. Nanti pulang, kamu campurkan ke makanannya, ya?" Louis terdiam sejenak. "Nggak perlu melakukan itu." Mata Neisha seketika memerah. "Aku hanya takut ... kalau tiba-tiba dia bisa hamil, kamu pasti akan meninggalkanku. Aku hanya ingin kamu menunjukkan kesetiaanmu ...." "Kamu tahu kan, dia punya segalanya, sementara aku hanya punya kamu." Louis paling tidak tahan melihat air matanya. Ujung jari Louis mengusap air matanya dengan penuh sayang, lalu menunduk dan mencium bibir merahnya yang lembut. "Jangan menangis." Itu ciuman yang dalam dan penuh nafsu. Itu adalah ekspresi yang sudah lama tidak pernah Louis tunjukkan padanya. Andien berdiri di sana tanpa ekspresi, menyaksikan keduanya bermesraan, sementara kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. "Aku sudah mengabulkan semua permintaanmu." "Soal keberangkatan ke laut, aku sudah memikirkan jalan keluarnya untukmu." Mata Neisha langsung berbinar. "Semua wanita yang ikut ritual doa harus ditutup wajahnya sebelum berangkat ke laut. Saat itu, aku akan cari orang untuk menggantikanmu naik ke kapal." Neisha langsung melompat girang ke dalam pelukannya. Louis memeluknya erat, tapi di saat Neisha tidak bisa melihat, dia sedikit memalingkan wajah dan menatap Andien. Di mata masing-masing, tidak ada rasa takut maupun keterkejutan. Andien tahu, kata-kata Louis itu bukan hanya untuk Neisha, tapi juga untuk dirinya. Selama Louis mau, selalu ada cara. Hanya saja, orang yang dipilih bisa jadi kerabat Keluarga Waney atau bisa juga ... dia. Namun Louis tidak ingin sampai pada titik itu. Begitu Andien tiba di rumah, benar saja, Louis langsung menyusul. Dia dengan cekatan mengenakan celemek dan masuk ke dapur, memasak empat lauk dan satu sup yang paling disukai Andien. Saat dia membawanya ke kamar, Andien masih sedang memeriksa dokumen. "Makanlah sedikit. Kamu sudah lama nggak makan masakan buatanku." Andien melepas kacamata berbingkai emas dari hidungnya, melirik hidangan itu dengan datar. "Nggak ada tambahan apa pun di dalamnya." Louis menjelaskan seolah sedang membujuknya. Untuk membuktikannya, dia sendiri yang lebih dulu mencicipi satu suap. "Perkataan di rumah sakit tadi hanya buat menenangkan gadis kecil itu." "Dia baru saja keguguran, emosinya nggak stabil." Andien tersenyum tipis. "Kamu sedang menyalahkanku?" "Bagaimana kalau aku bilang anak itu sebenarnya sengaja dia gugurkan sendiri?" Louis tidak menjawab. Namun dari tatapannya, Andien sudah membaca maksudnya. Mungkin karena keduanya telah melakukan terlalu banyak hal keji, jauh di lubuk hati masing-masing, selalu ada kewaspadaan terhadap satu sama lain. Sampai sekarang, meski yang diucapkan adalah kebenaran, tetap saja mereka tidak bisa sepenuhnya memercayai satu sama lain. Andien baru saja hendak menerima makanannya, ketika ponsel di saku Louis tiba-tiba berdering. Begitu tersambung, suara Javon yang terdengar panik langsung terdengar. "Gawat, Pak Louis, Nona Neisha diculik!"

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.