Bab 8
Darah mengalir deras menyusuri tulang belikat Neisha.
Tiba-tiba terdengar dentuman keras lagi.
Sebilah pisau indah menembus telapak tangan kiri Andien dalam sekejap.
Gerakannya begitu cepat, nyaris tidak terlihat.
Andien mengerutkan kening. Warna darah di wajahnya memudar sedikit demi sedikit.
Dia menarik senyum mengejek dan menatap tajam Louis yang menyerangnya.
Melumpuhkan tangan kirinya adalah tanda kesetiaan Louis pada Neisha.
Yang lebih ironis lagi, pisau yang menusuknya itu adalah hadiah ulang tahun ke-18 yang dia asah sendiri dan berikan pada Louis.
Wajah Louis muram saat dia menggendong Neisha yang pucat tanpa darah.
"Aku bisa memaklumi kamu mau melampiaskan amarah, makanya aku sengaja disingkirkan."
"Tapi kamu nggak seharusnya sekejam ini."
Dari sudut pandangnya saat masuk, jika Neisha tidak memiringkan tubuhnya, pisau itu akan tepat menembus jantungnya.
Andien dengan cekatan mencabut pisau dari tangannya, menerima perban dari sekretaris, lalu membalutnya dengan asal.
Sejak awal sampai akhir, dia tidak mengeluarkan satu suara pun.
Louis menatapnya dalam-dalam, lalu berbalik pergi sambil menggendong Neisha.
"Louis, kamu akan menyesal."
Suara Andien sangat datar.
Langkah kakinya berhenti sejenak.
"Dalam hidupku, nggak ada kata menyesal."
Andien menatap punggungnya yang menjauh, entah kenapa teringat hari ketika anak mereka keguguran.
Untuk pertama kalinya, Louis berlutut di sisi Andien dan menitikkan air mata.
Mengulang kata-kata yang telah berkali-kali dia ucapkan dulu.
"Maaf ... maaf ...."
Namun sekarang, dia justru ingin menghancurkan tangannya dengan tangannya sendiri.
Andien asal menyeka darah yang merembes dari telapak tangannya, lalu menerima laporan yang diserahkan sekretaris.
Dia melakukan tes DNA menggunakan anak Neisha yang telah meninggal dan air liur Louis.
Tidak ada hubungan darah.
Anak yang sekarang ada di perut Neisha, besar kemungkinan juga bukan milik Louis.
Andien tertawa kecil dengan suara rendah, tiba-tiba merasa begitu sedih dan ironis.
"Kepala Keluarga, hal ini perlu diberitahukan ke Pak Louis?"
"Nggak perlu."
Andien menyalakan korek api dan membakar laporan itu.
Louis terlalu curiga, dia tidak akan percaya kata-katanya, hanya percaya apa yang dilihatnya sendiri.
Justru Andien menantikan hari ketika Louis mengetahui kebenarannya.
Waktu keberangkatan ke laut ditetapkan pada malam hari.
Andien dan Louis masing-masing membawa orang mereka sendiri.
Louis membuka kerudung yang menutupi kepala Neisha, memastikan semua orang tahu identitasnya.
Namun di belakangnya tidak ada satu pun orang dari pihak Keluarga Waney.
Andien menghela napas pelan.
Pada akhirnya, mereka tetap sampai di titik ini.
Di dalam hatinya, anak yang digunakan untuk memperkuat posisi kekuasaan tetap lebih penting daripada dirinya.
Sebagai kepala keluarga, Andien memang seharusnya menemani Neisha naik ke kapal.
Saat melewati bahu Louis, dia melepas cincin pernikahan yang telah dikenakannya di jari manis kiri selama lima tahun dan lalu dikembalikan pada Louis.
Jakun Louis bergerak naik turun.
Melihat dia tidak menerimanya, Andien langsung melemparkannya ke laut.
Saat memasuki kabin, tiba-tiba sepasang tangan besar yang memegang kain putih menutup rapat mulutnya.
Neisha mendorongnya lalu berlari keluar.
Dari luar pintu terdengar helaan napas Louis.
"Andien, setelah Neisha melahirkan anak itu, aku akan menjemputmu kembali."
Detik berikutnya, Andien pun tidak sadarkan diri.
Saat dia terbangun lagi, kapal sudah berlayar ke laut lepas.
Orang yang menyerangnya telah dibereskan.
Dia berjalan ke dek, melihat sekretaris mendorong mayat yang sudah dipersiapkan sejak awal, bersama sekoci ke laut.
"Kepala Keluarga, semuanya sudah siap."
Andien menunduk menatap laut yang gelap dan dalam. Ombak yang bergulung segera menelan jasad bernama "Andien".
"Suruh orang ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus semuanya."
Kapal berbalik arah, berlayar menuju kota yang baru.
Langit di kejauhan mulai memutih, Andien tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya menjadi lega.
Louis, ini terakhir kalinya aku membantumu.
Tidak ada perceraian, yang ada hanya perpisahan karena kematian.