Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 1

"Nona Anita, apakah kamu yakin ingin menghapus semua informasi identitasmu? Setelah menghapusnya, keberadaanmu akan lenyap, nggak akan ada seorang pun yang bisa menemukan." Anita terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan tegas. "Ya, aku memang nggak ingin ada yang bisa menemukanku." Orang di ujung lain telepon tampak sedikit terkejut, tetapi segera memberikan jawaban, "Baiklah, Nona Anita. Prosedurnya diperkirakan akan selesai dalam waktu setengah bulan. Mohon bersabar menunggu." Setelah memutuskan sambungan telepon, Anita membuka ponselnya, lalu memesan tiket pesawat menuju Negara Farlan untuk keberangkatan dua minggu mendatang. Di saat yang bersamaan, TV sedang menayangkan siaran ulang konferensi pers Grup Amarand. Seminggu yang lalu, Pandu Amarand, CEO dari Grup Amarand, meluncurkan sebuah koleksi perhiasan. Dia menggunakan berlian dan permata paling murni di dunia untuk menciptakan mahakarya unik untuk istrinya, yang dia beri nama .... Antaji. Ini diambil dari namanya, Anita Amaji. Dengan itu, dia mengumumkan kepada dunia bahwa Pandu akan selamanya mencintai dan memuja Anita. Begitu koleksi Antaji diluncurkan, topik tersebut langsung meledak menjadi pembahasan populer nomor satu di berbagai platform media sosial. Seluruh dunia maya membicarakan kisah cinta mereka yang dianggap bagaikan dongeng. Setelah tayangan konferensi pers berakhir, TV mulai menampilkan wawancara jurnalis dengan orang-orang di jalanan. "Halo, apakah kamu mengetahui tentang kisah cinta luar biasa antara Pak Pandu dan istrinya?" Seorang wanita bergaun bunga menjawab dengan wajah penuh rasa iri, "Siapa yang nggak tahu tentang kisah cinta mereka? Sebelumnya, Pak Pandu bahkan secara khusus menerbitkan sebuah buku berisi catatan kecil tentang istrinya. Hanya karena istrinya suka memakan ceri, dia menanam seluruh halaman vilanya dengan pohon ceri. Aku menyuruh suamiku menirunya, tapi dia mengatakan dia nggak bisa menjadi pria seperti itu. Benar-benar membuat orang lain iri!" Kemudian, jurnalis itu mewawancarai beberapa orang lainnya. Seorang mahasiswi berdiri di depan mikrofon dengan tangan di dada dan mata berbinar. Dia berkata, "Mereka itu definisi cerita fiksi yang menjadi kenyataan. Pak Pandu benar-benar pejuang cinta sejati. Empat tahun yang lalu, saat Bu Anita mengalami gagal ginjal dan nyawanya berada di ujung tanduk, Pak Pandu sangat panik. Begitu hasil tes kecocokannya keluar, dia mengabaikan semua tentangan, langsung naik ke meja operasi untuk memberikan ginjalnya. Dia mengatakan kalau istrinya adalah nyawanya. Kalau istrinya nggak ada, dia juga nggak ingin hidup lagi. Pria macam apa yang bisa sehebat itu?" ... Jurnalis itu mewawancarai banyak orang. Tak satu pun dari mereka yang tidak merasa iri pada cinta Pandu untuk Anita. Berita itu diputar berulang kali, tetapi Anita hanya bisa menarik sudut bibirnya, tersenyum pahit penuh ejekan pada diri sendiri. Sejak kecil, karena parasnya yang jelita, dia selalu memiliki banyak pemuja. Namun, karena perceraian orang tuanya yang terjadi saat Anita masih kecil, dia tidak pernah menaruh harapan pada cinta. Tidak peduli siapa pun yang datang menyatakan cinta, Anita akan selalu menolaknya dengan mengatakan, "Maaf, aku nggak sedang mencari kekasih. Aku nggak tertarik pada hubungan asmara." Sampai dia bertemu dengan Pandu. Berbeda dari yang lain, pria itu mengejarnya dengan gigih selama tiga tahun. Meskipun sudah ditolak berkali-kali, semangat Pandu justru makin berkobar. Bahkan suatu kali, Pandu nekat mengikuti balapan mobil yang mempertaruhkan nyawa, hingga dia hampir kehilangan separuh nyawanya. Semua ini hanya demi memenangkan sebuah kalung yang disukai Anita. Baru pada saat itulah, hati Anita akhirnya luluh. Setelah mereka bersama, cinta pria itu tidak berkurang sedikit pun. Sebaliknya, dia mencurahkan segalanya demi membahagiakan Anita, hingga perlahan hati Anita yang keras pun melunak sepenuhnya. Pandu bahkan melamarnya sebanyak 52 kali sebelum akhirnya Anita merasa yakin untuk mengambil langkah berani, lalu setuju untuk menikah dengannya. Pada hari lamaran itu, Anita menatap cincin di jari manisnya dengan mata berkaca-kaca. Dia berujar pada Pandu, "Pandu, mulai sekarang aku akan berusaha menjadi istri yang baik bagimu. Dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, aku nggak akan pernah meninggalkanmu. Hanya ada satu hal yang harus kamu ingat. Aku nggak bisa menoleransi pengkhianatan dalam bentuk apa pun. Kalau kamu membohongiku, aku akan menghilang selamanya dari duniamu!" Kenangan indah di masa lalu itu kini hancur berkeping-keping oleh kenyataan yang kejam, menguap bagai ilusi. Tiga bulan yang lalu, Anita mengetahui bahwa Pandu memiliki wanita lain di luar sana. Pria itu menemaninya di siang hari, tetapi pergi menemani wanita itu di malam hari. Hati yang dulunya utuh untuk Anita seorang, kini telah terbagi menjadi dua. Semuanya seperti kata pepatah. Yang memulai dengan begitu membara, justru yang pertama mendingin. Sedangkan yang lambat jatuh cinta, justru tetap membara tanpa bisa berhenti .... Anita tersenyum getir. DiIa mematikan TV, lalu mencetak surat cerai yang telah dia siapkan sejak lama. Anita membubuhkan tanda tangan satu per satu. Kini, ucapannya di masa lalu menjadi kenyataan. Anita akan menepati janjinya, menghilang selamanya dari dunia pria itu! Setelah menandatanganinya, Anita memasukkan surat cerai itu ke dalam sebuah kotak hadiah yang indah, lalu membungkusnya dengan rapi. Satu jam kemudian, Pandu mendorong pintu, lalu masuk ke rumah. Sebelum sempat mengganti sepatunya, pria itu bergegas menghampiri Anita, memeluknya dengan lembut sambil membujuk dan meminta maaf, "Maafkan aku, Anita. Hari ini aku terlambat karena harus mengambil perhiasan ini. Aku melewatkan perayaan ulang tahun pernikahan kita. Jangan marah, ya?" Pandu mengeluarkan kotak berisi perhiasan Antaji untuk merayunya. Kerah kemeja hitam pria itu sedikit terbuka, sementara kancing paling atasnya terlepas. Saat Pandu menundukkan kepala, Anita bisa melihat banyak bekas ciuman dan cakaran di balik kerah baju pria itu. Pemandangan itu menusuk matanya dengan rasa sakit yang luar biasa. Apakah dia pergi mengambil perhiasan, atau baru saja selesai tidur dengan Julia? Sepertinya pria itu baru saja beranjak dari tempat tidur Julia. Namun, Pandu tidak menyadari keanehan istrinya. Dia memakaikan perhiasan itu pada Anita dengan mata penuh cinta. Cahaya perhiasan itu memantulkan kilau yang memesona, membuat paras cantik Anita tampak makin menawan. "Anita, kamu cantik sekali," puji Pandu dengan tulus, sementara matanya dipenuhi dengan kekaguman. Anita tidak menunjukkan kegembiraan. Dia menyodorkan kotak hadiah berisi surat cerai itu ke hadapan Pandu dengan mata memerah sambil berkata, "Ini untukmu." Pandu tampak bingung. "Apa ini?" Anita tersenyum simpul. "Hadiah. Kamu sudah menyiapkan hadiah untuk ulang tahun pernikahan kita, jadi tentu saja aku harus membalasnya." Mata Pandu seketika berbinar bahagia. Dia tampak sangat menghargai pemberian itu, ingin segera membukanya. Namun, Anita menahan tangannya. "Buka ini setengah bulan lagi." "Kenapa?" tanya Pandu tidak mengerti. Anita menekankan setiap katanya, "Karena hadiah ini akan jauh lebih bermakna kalau dibuka setengah bulan lagi." Ketika mendengar itu, Pandu tertegun sejenak. Dia tidak bertanya lebih lanjut, hanya meraih tangan Anita, lalu menciumnya dengan lembut. "Apa pun yang dikatakan kesayanganku, aku akan menurutinya. Aku akan menantikan kejutan ini," ujar Pandu. Setelah berkata demikian, pria itu segera bertingkah seperti anak anjing yang patuh. Dia mengambil selembar kertas catatan, menuliskan sesuatu, lalu menempelkannya dengan sungguh-sungguh di atas kotak hadiah itu. [Buka setengah bulan lagi.] Anita mengamati dalam diam saat suaminya melakukan semua itu. Dia berpikir, 'Pandu, aku harap kamu akan benar-benar merasa terkejut saat waktunya tiba.'
Previous Chapter
1/27Next Chapter

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.