Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 7

Sementara itu, di lokasi pernikahan Keluarga Prasetya. Dekorasi mewah dan cahaya gemerlap saling berpadu, membuat seluruh tempat tampak seperti di dalam mimpi. Darian berdiri di atas panggung, sementara pembawa acara tengah berbicara. Namun, pikiran Darian sudah melayang jauh, tertuju pada Nadia. Dia penasaran apa yang sedang Nadia lakukan saat ini? Apakah Nadia sedang bermain ponsel, atau menatap keluar jendela sambil melamun, merindukan dirinya? Darian menahan napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan. Tiba-tiba, pintu lokasi pernikahan terbuka perlahan. Diiringi musik yang merdu, Elita melangkah maju dengan gaun pengantin putih bersih. Pandangan Darian langsung tertuju padanya, dan untuk sesaat, dia seolah melihat Nadia melangkah mantap ke arahnya. Gambaran itu begitu nyata dan indah sampai membuat Darian terdiam. Saat Elita berdiri di hadapannya dan suara pembawa acara terdengar, Darian tersadar dan menegur dirinya sendiri dalam hati. "Aku pasti sudah gila!" Acara tetap berjalan lancar, hingga tiba saat tukar cincin. Suasana mencapai puncaknya. "Elita, apakah kamu bersedia menerima pria di depanmu ini sebagai suamimu? Dalam sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, apakah kamu akan selalu setia padanya hingga akhir hayatmu?" Elita tersenyum lembut dan berkata dengan suara halus, "Aku bersedia." Mendengar itu, sang pendeta menoleh ke arah Darian. "Darian, apakah kamu bersedia menerima wanita di depanmu ini sebagai istrimu? Dalam sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, apakah kamu akan selalu setia padanya hingga akhir hayatmu?" Darian sedikit terkejut, dan matanya tampak kosong sejenak. Bayangan Nadia muncul tak terkendali di pikirannya, namun dia juga tahu, dengan latar belakang keluarga yang terhormat, Elita adalah pasangan yang sempurna untuk pernikahannya. Saat bibirnya hendak menjawab, tiba-tiba pintu lokasi pernikahan didorong dengan keras. "Darian, apakah kamu benar-benar yakin ingin menikahinya?" Suara itu nyaring dan tegas, seperti guntur yang meledak di tengah pesta pernikahan. Darian menoleh secara refleks, dan matanya langsung tertuju pada Nadia yang berdiri di pintu. Dia mengenakan gaun merah yang mencolok dan cerah, dan beberapa pengawal mengikuti di belakangnya. Saat pandangannya bertemu dengan Nadia, detak jantung Darian terhenti sejenak, kemudian menjadi lebih cepat tak terkendali. Belum sempat dia sadar sepenuhnya, orang tua Darian sudah cepat-cepat melangkah menghampiri Nadia dan menghentikannya. Ibu Darian, Sarah, membuka mulut lebih dulu, tatapannya penuh dengan rasa jijik. "Kamu Nadia, 'kan? Aku tahu kamu pernah pacaran dengan Darian, tapi bukankah kalian sudah putus?" "Nggak semua orang bisa seenaknya mendekat ke Keluarga Prasetya. Sekarang kamu masih nekat mendekati kami? Memalukan sekali!" Ayah Darian, Lukman, ikut menghela napas dingin, tatapannya penuh dengan penghinaan. "Benar-benar orang rendahan yang nggak pantas tampil di hadapan orang seperti kami!" "Hari ini adalah hari bahagia anakku dengan Elita, dan kamu datang mengacau. Sungguh nggak pantas!" Ibu Darian menatap Nadia dari atas ke bawah, penuh dengan rasa jijik. "Dasar, coba lihat dulu posisi dan statusmu sendiri!" "Elita adalah putri Keluarga Zaraya, perbedaan kalian jelas bak bumi dan langit." "Sebaiknya kamu cepat sadar diri dan pergi dari sini. Jangan buat dirimu makin malu!" Mendengar ucapan tajam dan merendahkan itu, Nadia menyunggingkan senyum sinis di bibirnya. "Oh? Putri Keluarga Zaraya?" "Kalau statusnya begitu terhormat, kenapa nggak ada satu pun anggota Keluarga Zaraya yang hadir di pernikahannya?" "Atau apakah Keluarga Zaraya memang nggak menganggap penting acara ini, atau justru sang putri menyimpan rahasia sehingga mereka merasa malu untuk datang?" Begitu kata-kata itu terlontar, suasana langsung gaduh. Orang-orang mulai saling berbisik dan berdebat, sementara wajah orang tua Darian berubah muram, pandangan mereka langsung tertuju pada Elita. Sementara itu, Elita menatap sejenak dengan mata panik, tapi berusaha tetap tenang dan bersuara lantang. "Ayah dan kakakku sangat menyayangiku, tentu saja mereka memperhatikan pernikahanku!" "Mereka belum datang karena ada urusan bisnis penting yang mendesak. Setelah selesai, mereka pasti segera datang!" Nadia mendengus sinis. "Oh ya? Benarkah? Bukankah katanya kamu adalah putri kesayangan mereka? Kalau putri kesayangan sendiri menikah, seharusnya urusan lain bisa ditunda dulu, bukan begitu?" Elita terdiam seketika, bingung dan gagap tak bisa menjawab. Nadia melangkah maju beberapa langkah dengan sepatu hak tingginya, mendekatkan diri ke arah mereka. "Mungkin saja, kamu sama sekali bukan putri Keluarga Zaraya, melainkan penipu belaka!" Para tamu terheran-heran dan mulai berbisik-bisik. Di bawah tatapan tajam semua orang, Elita menegakkan lehernya dan mencoba bersuara lagi. "Kamu bicara omong kosong!" "Kamu nggak bisa seenaknya menuduh identitasku hanya karena ingin menikahi Darian! Sebelum pernikahan dimulai, aku sudah menelepon ayah dan kakakku. Mereka bilang pasti akan datang sebelum pernikahanku selesai!" Melihat Elita begitu yakin, ayah dan ibu Darian sedikit tenang, lalu menatap Nadia dengan tatapan penuh hina. "Dasar wanita gila! Kamu bahkan nggak pantas menjadi pelayan untuk Elita, tapi berani datang mengacau di sini." "Keamanan, usir wanita gila ini keluar. Jangan sampai dia merusak suasana!" Nadia mendengus dingin. "Haha! Akulah putri asli Keluarga Zaraya. Kalian yakin ingin mengusirku?" Mendengar itu, beberapa petugas keamanan saling berpandangan, terlihat ragu-ragu. Melihat ibu Darian terpaku, Elita semakin kesal. "Jadi ternyata kamulah yang mencoba menyamar sebagai putri Keluarga Zaraya. Keamanan, cepat usir wanita gila ini keluar!" Ibu Darian tersadar dan segera memerintahkan beberapa petugas untuk maju, sementara pengawal Nadia dengan sigap melindungi dirinya dari belakang. "Awas saja kalau kalian berani menyentuh bos kami!" Tiba-tiba, di luar terdengar suara lantang yang menggema. "Keluarga Zaraya tiba!" Suasana yang sebelumnya gaduh, seketika menjadi hening. Semua mata tertuju ke arah yang tak jauh dari situ. Satu per satu mobil mewah datang, lalu berhenti rapi di depan pintu masuk.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.