Bab 18
Diana tersenyum menerima minuman itu, mengucapkan terima kasih, lalu meneguk sedikit.
Sinar matahari jatuh di lehernya yang terangkat, putih dan ramping.
Pupil mata Yanto mendadak menyempit!
Darah seketika naik ke kepala!
Tanpa berpikir panjang, dia melangkah cepat, menepis lengan teman laki-laki Diana itu, dan berdiri menghalangi di depan Diana.
Gerakannya kasar, disertai keganasan yang hampir seperti naluri.
"Kamu apa-apaan sih?" Mahasiswa itu terhuyung, lalu menatap Yanto dengan marah.
Diana juga terkejut oleh kejadian mendadak itu, botol minum di tangannya nyaris terjatuh.
Dia menengadah, dan begitu melihat Yanto, keningnya langsung mengerut, matanya memancarkan kejengkelan yang tidak disembunyikan.
"Yanto, kamu mau apa?"
Yanto tidak menghiraukan teman laki-laki itu, hanya menatap tajam ke arah Diana, matanya dipenuhi urat merah yang menakutkan.
"Kita perlu bicara." Suaranya serak, bergetar karena penekanan emosi yang ekstrem.
"Nggak ada yang perlu kita bicarakan." Suara Diana ding

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link