Bab 24
Prang!
Cangkir kopi yang dipegang Yanto benar-benar terlepas, jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, cairan cokelat dan serpihan porselen muncrat ke mana-mana.
Dia berdiri mendadak, kaki kursi menggesek lantai mengeluarkan bunyi nyaring yang menusuk telinga.
"Itu cuma mimpi!" teriak Yanto dengan suara serak, matanya merah, penuh pembuluh darah. "Bukan kenyataan! Diana, itu mimpi!"
Diana diam menatap kelakuannya yang kehilangan kendali, lalu perlahan menggelengkan kepala.
"Nyata atau nggak, kamu sendiri tahu, Yanto."
"Aku bukan berubah."
"Aku sudah mati sekali."
"Di kehidupan sebelumnya, aku menyerahkan nyawaku untukmu. Di kehidupan ini, aku ingin menyimpannya untuk diriku sendiri."
Setiap kata bagai pisau berlapis es, menancap dalam ke jantung Yanto.
Yanto terhuyung mundur selangkah, lalu merangkap meja agar tidak jatuh, dadanya tampak terangkat-turun hebat, napasnya berat seperti alat pompa tua.
Lalu, seolah tersadar tiba-tiba, dia melesat maju dan meraih tangan Diana yang terlet

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link