Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3 Dia Tetap Semaunya Seperti Dulu

Saat kembali dari rumah sakit ke apartemen sementara tempat dia tinggal, hari sudah gelap. Tania mandi dengan pikiran kosong, lalu menjatuhkan diri ke atas ranjang, membiarkan ponselnya berdering cukup lama. Baru setelah dering itu berhenti, tak lama kemudian bunyi notifikasi pesan masuk terdengar. Saat dibuka, ternyata dari Aldo, hanya satu kalimat yang sangat singkat. [Nenek besok pulang ke negara ini, jam tujuh pagi aku menjemputmu, kita ke bandara bersama.] Dia memang seperti itu, bahkan caranya mengirim pesan pun terasa penuh sikap memaksa. Setelah berpikir sejenak, Tania membalas: [Aku masih ada urusan, aku nggak ikut.] Setelah mengirim pesan itu, Tania langsung mematikan ponsel dan terlelap di atas ranjang. Mungkin karena masuk angin, tidurnya tidak nyenyak, tubuhnya terus terasa dingin lalu panas bergantian. Hingga menjelang subuh barulah dia tertidur lebih pulas, namun tak lama kemudian terbangun oleh suara pintu yang digedor keras. Bangun dengan sangat kesal, dari lubang intip dia melihat wajah Aldo yang tak sabar, membuat amarahnya makin memuncak. Tania sengaja mengunci pintu rapat-rapat, lalu kembali ke ranjang untuk tidur lagi. Tak lama kemudian terdengar suara 'brak' keras, dan detik berikutnya Aldo muncul di ambang pintu kamar, masih memegang kunci yang sudah rusak karena ditendang. "Kuncinya memang nggak kuat ditendang." Aldo berusaha berdalih. Tania mengernyit, tenggorokannya terasa gatal dan terbatuk. "Aku sudah bilang aku nggak mau ikut. Seharusnya kamu ingat, kita sudah bercerai." "Kita bercerai nggak berarti kamu nggak perlu menjemput Nenek. Kamu juga tahu kondisi jantung Nenek nggak baik." Aldo menjawab dengan tatapan yakin, seolah merasa alasan itu pasti membuat Tania tak bisa membantah. "Kamu yang mengajukan perceraian itu. Kamu yang nggak memikirkan Nenek, itu nggak ada hubungannya denganku." "Bagaimana sikap Nenek padamu selama ini, rasanya nggak perlu aku ingatkan lagi. Tania, apa kamu nggak merasa dirimu seperti orang yang nggak tahu balas budi?" Aldo bertanya, di mata hitamnya yang berkilau tampak cahaya yang tak bisa dipahami Tania. Dengan tangan mengepal erat di bawah selimut, Tania memaksa dirinya memejamkan mata. Dia akan pergi menjenguk Nenek, tetapi bukan bersama Aldo. Sejak Aldo melepaskan cincin itu, hubungan terakhir yang tersisa di antara mereka pun sudah terputus. Pilihan yang dia ambil sekarang adalah kesadaran yang seharusnya dimiliki seorang mantan istri, sekaligus harga diri terakhirnya dalam pernikahan ini. Aldo terdiam, suasana menjadi agak kaku. Setelah beberapa saat, tangan Tania mulai terasa pegal, dia berkata pelan, "Pak Aldo, kalau nggak ada urusan lain ... " Kalimatnya belum selesai, aura kuat yang begitu dikenalnya mendekat. Dia membuka matanya dengan terkejut, wajah Aldo tiba-tiba sudah begitu dekat di hadapannya. "Kamu ... " Aldo langsung mengangkat tubuh Tania. Tiba-tiba terangkat ke udara, Tania refleks melingkarkan tangan di leher Aldo. Aldo berbalik dan langsung berjalan ke luar. Mengetahui bahwa hari ini pria itu tidak akan menyerah, Tania buru-buru berkata, "Aku ikut, biarkan aku ganti baju dulu!" Aldo mengabaikannya, langsung menggendong Tania turun ke bawah dan memasukkannya ke dalam mobil. "Turunkan aku!" Tania tetap bersikeras, meski kepalanya terasa pusing dan tenggorokannya perih. Kata-katanya sama sekali tidak terdengar mengancam. Aldo bukan hanya tidak menurunkannya, pria itu bahkan mengunci pintu mobil. Tania menahan kesal, menatap bagian belakang kepala Aldo. Aldo melirik kaca spion, melihat ekspresinya, lalu bersiul pelan. Sepanjang perjalanan, tak satu kata pun terucap lagi di antara mereka. Saat mobil tiba di bandara, dari kejauhan terlihat Nenek berdiri di pinggir jalan sambil menyeret dua koper besar, sedang berbincang dengan seorang pria muda. Setahun tak bertemu, Nenek tampak makin bersemangat dan bugar. Aldo membunyikan klakson dan mendekatkan mobil. Nenek berambut perak itu langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan penuh antusias. Amarah yang mengganjal di dada Tania pun mereda cukup banyak, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum. Aldo turun membantu Nenek memasukkan barang bawaannya. Nenek dengan lincah masuk ke dalam mobil, menarik tangan Tania dengan hangat. "Tania! Akhir-akhir ini kangen sama Nenek nggak? Bocah bandel ini nggak mengganggumu, 'kan?" Belum sempat menjawab, Nenek menoleh ke luar mobil dan melambaikan tangan. "Dokter Cedric, ini cucu dan cucu menantuku. Aku minta mereka sekalian mengantarmu." Baru saat itu Tania menyadari bahwa pria muda tadi belum pergi. Dia berdiri di samping mobil, sedikit membungkuk, mendengarkan dengan serius. Senyum tipis dan hangat terukir di wajahnya, membuat orang merasa nyaman. "Halo, Cedric Johandi." Dia mengangguk memberi salam, sopan namun tetap menjaga jarak. Menyadari dirinya masih mengenakan piama, wajah Tania langsung terasa panas, dia menunduk dan tidak bersuara. Setelah memasukkan barang, Aldo menyapa Cedric dan mengajaknya naik ke mobil. Cedric adalah pendengar yang baik, sepanjang perjalanan hanya Nenek dan Aldo yang saling bertanya jawab. Tania mendengarkan dengan tenang, perasaannya bercampur aduk. Saat hampir sampai di rumah dan mobil berhenti di lampu merah, Aldo tiba-tiba berkata, "Nek, aku dan Nona Tania sudah bercerai." Saat Aldo menyebut "Nona Tania", nadanya terdengar dingin dan wajar. Bahkan Tania sendiri tertegun beberapa saat sebelum menyadari bahwa yang pria itu maksud adalah dirinya.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.