Bab 18
Album itu terasa dingin di genggamannya, bahkan sudut-sudutnya menusuk telapak tangannya.
Reza menarik napas panjang, melangkah maju beberapa langkah, lalu memegang Nara erat di sampingnya.
Dia tahu kekuatannya terlalu besar, tapi ini sudah hasil dari usaha menahan diri sebisa mungkin.
Hanya Tuhan yang tahu betapa cemburu dan rasa ingin memilikinya meledak begitu melihat ada lelaki lain di dekat Nara.
"Nara ... aku ... aku ingin memberimu sebuah hadiah," kata dia, suaranya rendah dan bergetar, berusaha terdengar tenang.
Dia kira, setelah dua hari pergi tanpa sepatah kata, Nara pasti akan peduli dengan kepergiannya.
Namun siapa sangka, begitu Nara melihatnya, kalimat pertama yang keluar justru. "Bukannya kamu sudah pergi? Kok masih di sini?"
Mendengar itu, Reza hampir tak mampu mempertahankan senyum di wajahnya. Tubuhnya kaku, lalu dia tersenyum paksa beberapa kali, suaranya terdengar tegang. "Nara ... mana mungkin aku pergi?"
Dia menahan diri, mengabaikan keberadaan lelaki lain yang me

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link