Bab 3
Nara bukan orang yang dikuasai emosi. Selama ini dia selalu rasional dan tenang.
Namun di dalam mimpi, dia berubah menjadi seseorang yang bahkan tak dia kenali, berteriak histeris dan bertengkar habis-habisan dengan Reza.
"Kamu bilang kamu lelah? Aku juga pernah bilang aku bisa pulang menemuimu, tapi justru kamu yang marah dan menolakku, mengatakan aku nggak seharusnya meragukan cintamu yang katanya nggak akan berubah."
"Kamu menyalahkanku karena pergi ke luar negeri, padahal itu keputusan yang kita buat bersama. Kamu sendiri yang bilang hidupku nggak boleh hanya berisi cinta. Dan aku juga sudah berjanji, setelah lulus, aku akan kembali ke sisimu dan nggak akan pergi lagi."
"Aku bisa merasakan kelelahanmu, dan aku juga pernah bertanya alasannya. Tapi kamu menolakku dengan alasan nggak mau membuatku khawatir, lalu mengalihkan pembicaraan."
Dalam mimpinya, Nara meluapkan semua pertanyaan itu dengan liar. Namun akhirnya tetap sama seperti kenyataan, berakhir tanpa penyelesaian.
Keesokan paginya, Nara terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Saat dia mengangkat pandangan, tatapannya langsung bertemu dengan Reza.
Reza terdiam beberapa saat. Melihat wajah Nara yang pucat, Reza akhirnya menghela napas panjang.
"Kita baik-baik saja. Jangan ribut lagi, ya?"
Dia mengenakan mantel hitam panjang di luar kemeja putihnya, tetap rapi dan tenang. Lalu dia setengah berlutut, menunduk, dan dengan sabar memakaikan sepatu hangat ke kaki Nara.
Garis wajah Reza yang tajam dan matang bertumpuk dengan bayangan dirinya yang dulu masih belia di ingatan Nara. Namun di dadanya tidak lagi muncul perasaan apa pun, yang tersisa hanya rasa getir dan dingin.
"Aku dan Cyntia cuma atasan dan bawahan. Kalau kamu masih ragu, hari ini juga aku bisa mengajakmu ke rumah sakit."
"Baik," jawab Nara. Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara ringan, "Nanti aku juga ingin bicara denganmu."
Semalam, dia sudah mengambil keputusan. Dia akan melanjutkan studi, memilih kampus, dan memesan tiket keberangkatan untuk sepekan ke depan.
Bukan karena emosi sesaat, justru karena dia telah memikirkannya matang-matang.
Terlepas dari apakah Reza mengucapkannya karena emosi sesaat atau tidak, kata-kata itu sudah terlanjur menancap, seperti serpihan kecil yang meremuk ke dalam dirinya. Perihnya samar, namun terus terasa.
Sejak awal, yang Nara inginkan hanyalah cinta yang utuh dan jujur.
Jika itu tidak lagi ada, dia lebih memilih melepaskannya, meski harus menanggung sakit yang mendalam.
Namun demi menghormati Reza, Nara tetap ingin mengatakannya dengan jelas, setidaknya agar perpisahan ini berakhir dengan layak.
Mereka tiba di depan gedung rumah sakit tanpa sepatah kata pun.
Saat mobil berhenti, ponsel Reza berdering. Dari ujung sana, samar-samar terdengar suara perempuan yang bergetar, seolah menahan tangis.
Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, Reza menoleh dan berkata ada urusan mendesak yang harus segera dia tangani, lalu meminta Nara menunggu di kantor terlebih dulu.
Nara sempat ingin mengatakan bahwa dia tidak tahu arah, namun pintu mobil sudah tertutup dengan tergesa. Yang tersisa hanya punggung Reza yang menjauh cepat.
Area parkir yang luas itu mendadak terasa kosong dan menekan, menyisakan Nara seorang diri.
Rumah sakit itu terlalu besar. Dia menghabiskan cukup lama hanya untuk menemukan arah yang benar.
Setelah naik lift langsung ke lantai sepuluh, Nara melangkah ke meja perawat, berniat menanyakan letak kantor yang dimaksud.
Namun yang terdengar justru suara para perawat muda yang berbicara dengan penuh antusias. "Tuh, 'kan! Cyntia cuma ditegur pasien beberapa kata saja, langsung telepon, dan Dokter Reza sampai datang terburu-buru!"
Langkah Nara terhenti seketika.
Jadi inilah yang disebut Reza sebagai "urusan mendesak" hingga dia tanpa ragu meninggalkannya begitu saja.
"Menurutku, Dokter Reza memperlakukan Cyntia seperti pacarnya."
"Baik itu konsultasi atau operasi, semuanya diajari langsung dari awal sampai akhir. Benar-benar seperti pacar siaga 24 jam. Bahkan pernah ada keluarga pasien yang bercanda menanyakan kapan mereka menikah."
Seorang perawat lain menurunkan suara dengan ragu-ragu. "Tapi bukannya Dokter Reza sudah punya tunangan?"
Yang lain mendecak tak peduli. "Pacarnya di luar negeri. Jauh, nggak kelihatan, dan nggak bisa disentuh. Mana bisa dibandingkan dengan Cyntia? Senyum manis sedikit saja, hati Pak Reza langsung luluh."
Nara berdiri terpaku cukup lama, hingga rasa mentertawakan diri sendiri perlahan menelannya.
Saat dia akhirnya berbalik, barulah dia menyadari Reza dan Cyntia berdiri di ujung lorong.
Jaket longgar yang dikenakan gadis itu terasa begitu familier di mata Nara. Itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan yang pernah dia berikan kepada Reza.
Dia masih ingat dirinya pernah bertanya mengapa Reza tidak pernah memakainya. Saat itu, Reza tersenyum dan berkata bahwa jaket itu terlalu berharga, jadi dia menyimpannya dengan baik.
Ternyata, kebohongan itu belum pernah berhenti.
Entah berapa banyak dusta manis yang dia rajut selama tiga tahun terakhir, hingga setiap kali kebenaran tersingkap, rasanya seperti jaring yang saling bertaut, menjerat Nara sampai tubuh dan hatinya penuh luka.
Cyntia menangis tersedu-sedu, wajahnya basah oleh air mata, tampak begitu rapuh dan menyedihkan.
Reza dengan lembut menyeka air mata di pipinya. Tatapan matanya dipenuhi kelembutan yang nyaris meluap. "Sudah, jangan menangis. Bukankah aku sudah membelamu?"
"Selama aku di sini, nggak akan ada siapa pun yang berani menyakitimu."
Dihibur dengan suara lembut oleh pria berkuasa itu, Cyntia akhirnya tersenyum di balik sisa tangisnya. Bibirnya sedikit mengerucut manja sebelum dia bertanya dengan nada manja. "Lalu ... bolehkah kamu ceritakan padaku, siapa wanita yang meneleponmu tadi malam itu?"
Reza terdiam.
Mungkin hanya berlangsung beberapa detik, namun bagi Nara, jeda itu terasa sepanjang pergantian musim.
Seakan setelah melewati satu abad yang sunyi, barulah dia mendengar suara Reza yang rendah dan datar. "Cuma teman. Nggak begitu akrab."