Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 2

Angin larut malam bertiup masuk lewat jendela, membuat gudang terasa agak dingin. Stefano berbaring dengan masih mengenakan pakaiannya. Obsesi yang membebani dirinya selama tujuh tahun seakan menghilang, tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Dahulu selalu cemas dan gelisah hingga sering sulit tidur, tetapi kini dia merasa sangat mengantuk. Sayangnya, tepat saat dia hampir terlelap, sebuah tangan menyentuh dadanya dan mengelusnya pelan. Stefano membuka mata dan melihat tatapan Wenny yang dipenuhi hasrat, dan langsung mengerti apa yang diinginkannya. Dahulu, selalu Stefano yang mengambil inisiatif, sementara Wenny hanya menanggapi dengan tidak sabar. Namun menghadapi inisiatif pertama Wenny, hati Stefano justru terasa sangat tenang, tubuhnya tidak bereaksi sama sekali. Wanita di hadapannya terasa seperti sebongkah es. Wenny mengerutkan kening, lalu berkata dengan kesal, "Ada apa ini?" Stefano menyingkirkan tangannya, lalu memejamkan mata kembali. "Capek." Wenny sampai gemetar karena marah dan merasa terhina, lalu berkata dengan kesal, "Masih marah karena kejadian siang tadi? Aku sudah menjelaskannya. Urusanku dengan Sandy sudah selesai, kenapa kamu terus mempermasalahkannya?" Yang menjawabnya hanyalah napas Stefano yang panjang dan teratur. Di dalam gudang yang remang, tatapan Wenny menyala-nyala penuh amarah. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Jangan sok jual mahal. Lain kali jangan datang memohon padaku." Disertai suara pintu yang dibanting keras, Stefano tetap tidak menggubrisnya. Dia tidak lagi seperti dulu, yang langsung panik dan membujuk ketika Wenny tidak senang sedikit saja, bahkan sampai berlutut memohon maaf. Setelah melepaskan obsesinya, emosinya tidak lagi digerakkan oleh wanita itu. Malam itu, dia tertidur lelap. Tidur nyenyak pertama dalam tujuh tahun. Keesokan paginya, setelah bangun, Stefano tidak langsung menyiapkan sarapan untuk ibu dan anak itu. Dia malah menyeduh secangkir teh dan menikmati waktu bebasnya sendiri. Angin sepoi-sepoi berembus, bunga kamelia di luar jendela sedang mekar. Sepertinya hari ini akan cerah. Stefano membuka ponselnya, berharap bisa menghabiskan dua puluh sembilan hari ke depan dengan menyenangkan, tidak lagi bersedih karena ibu dan anak itu, dan tidak akan meneteskan air mata untuk mereka. Linimasa media sosial Sandy kembali diperbarui. [Apa yang selalu kuingat, akhirnya mendapat jawaban. Setiap kali aku membutuhkannya, dia selalu muncul tepat waktu. Terima kasih, Tuhan, atas hadiah ini.] Foto yang menyertainya adalah siluet seorang wanita sedang memasak bubur di dapur, dengan tambahan stiker hati hasil editan. Stefano langsung mengenali bahwa wanita yang memasak bubur itu adalah Wenny. Dia mengenakan piama sutra, memperlihatkan bahu indahnya dengan sebuah tahi lalat merah, dan di jarinya terpasang cincin berlian pesanan khusus Chanel. Sejak menikah, Wenny selalu memiliki fobia kebersihan yang parah. Dia menjauhi dapur, dan tidak pernah sekalipun memasakkan makanan untuknya. Namun kini dia justru memasak bubur untuk mantan pacarnya, dengan gerakan yang begitu terampil, membuat orang takjub akan ketenangan waktu yang seolah berhenti. Hati Stefano tetap tenang. Dia hanya melirik sekilas lalu mengunci layar. Entah Wenny sengaja membalas dendam atas penolakannya semalam, atau memang sudah tidak sabar ingin kembali menikmati kehangatan cinta pertamanya. Dia tidak peduli lagi. "Mana sarapanku?" Dari belakang terdengar suara tidak puas. Zian keluar dari kamar dan melihat tidak ada sarapan cantik seperti biasanya di atas meja. Wajah kecilnya dipenuhi amarah, lalu dia berteriak pada Stefano, Aku lapar, cepat buatkan!" Stefano berbalik dan menatapnya dengan dingin, jelas merasakan sikap angkuh anak lima tahun itu yang sama seperti ibunya. Mereka selalu memperlakukannya seperti pembantu di rumah ini. Stefano menunjuk ke arah kulkas dan berkata dengan datar, "Ambil sendiri." Zian tertegun. Dia belum pernah melihat sisi Stefano yang sedingin ini. Dia berdiri terpaku, tidak tahu harus bagaimana, tetapi segera teringat pada status mereka, lalu berkata dengan marah, "Kamu 'kan pengasuhku! Kalau nggak masak, aku akan suruh Mama menghukummu!" Stefano menatap Zian dengan tenang. Anak itu memang tak tahu membalas budi. Makin ditoleransi, makin menjadi-jadi. Untungnya, dia sudah lama tidak lagi menaruh harapan padanya. "Kalau mau makan, cari Om Sandy-mu." Suasana hati yang baik sudah rusak. Stefano malas menanggapi teriakannya dan masuk ke kamar untuk membereskan barang. Semua barang yang berhubungan dengannya harus dibuang, untuk memberi tempat bagi Sandy. Selama ini, hadiah dari Wenny sangat sedikit. Namun meski hanya barang-barang kecil yang tidak berharga, Stefano selalu menyimpannya seperti harta. Sayangnya, sekarang semua itu hanya membuatnya merasa muak. Stefano mengumpulkan hadiah-hadiah itu ke dalam satu kantong, lalu keluar dari vila, dan kebetulan bertemu Wenny yang baru pulang setelah semalam tidak pulang. Wenny tertegun. Di matanya terlintas rasa canggung dan bersalah, seolah ingin menjelaskan sesuatu. Stefano mengabaikannya dan langsung berjalan ke arah tempat sampah. Wenny mengerutkan kening dan berkata tidak senang, "Tadi malam depresinya Sandy kambuh, aku pergi menenangkannya. Jangan salah paham. Karena aku berani mengaku, berarti hatiku bersih. Jadi kamu ... " "Aku nggak salah paham." Stefano tidak ingin mendengar pembelaan munafik Wenny. Dia melempar kantong itu ke dalam tempat sampah. Karena terlalu keras, sebuah boneka kain terlempar keluar. Wenny mengenali asal-usul boneka itu, wajahnya langsung berubah, lalu berkata tidak percaya, "Apa maksudmu?" Entah kenapa, sikap tenang Stefano justru membuat hatinya diliputi rasa gelisah yang tak bisa dijelaskan. Ekspresi Stefano tidak berubah. Dia tersenyum dan berkata, "Barang-barang itu sudah berjamur. Kalau tetap disimpan di vila, bisa menumbuhkan bakteri dan nggak baik untuk kesehatan, jadi aku buang saja." Wenny menatapnya dengan ragu, tetapi tidak berpikir lebih jauh. Dia mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Stefano tetap berdiri di luar sampai truk sampah mengangkut semua itu pergi, memastikan tidak ada kemungkinan untuk diambil kembali, barulah dia berbalik. Hadiah dari Wenny, termasuk dirinya sendiri, sudah berjamur. Barang-barang yang berjamur, makin jauh dibuang, makin baik.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.