Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 1

Elisa Yanas yang merupakan sosialita terkenal di Kota Jiran telah kembali! Dia kabur sebelum iring-iringan pengantin tiba, mengumumkan status lajangnya di internet, lalu menyewa 99 model pria dan mengadakan pesta kolam renang yang mewah di Manor Kinar. Suara musik dan kembang api memenuhi manor. Elisa mengenakan rok mini merah yang mencolok. Dia menari di antara kerumunan, lalu mengangkat jam tangan berlian yang seharga puluhan miliar. "Orang yang mendapatkannya bisa tidur denganku nanti malam!" Byur. Semua pria langsung melompat ke kolam renang begitu jam tangan itu dijatuhkan. Tidak peduli bagaimanapun juga Elisa adalah wanita ketiga tercantik di dunia dan juga memiliki ukuran payudara 36D, siapa yang tidak ingin tidur dengannya? "Semoga orang yang mendapatkannya adalah pria yang tampan! Aku telah kembali lajang hari ini dan punya banyak energi untuk bersenang-senang sepanjang malam!" Elisa tertawa dengan keras di tepi kolam renang. Tiba-tiba suara pria terdengar dari belakang. "Kamu mau bermain dengan siapa sepanjang malam?" Setelah itu, ratusan pengawal berpakaian hitam menerjang ke dalam. Mereka memegang parang besar dan terlihat seperti iblis. Dalam dua menit, mereka telah melemparkan semua orang ke dalam kolam renang. Teriakan dan kutukan terdengar. "Kau nggak lihat? Kevin dan pengikutnya nggak boleh masuk ke dalam!" Elisa menunjuk ke tanda di pintu masuk dengan ekspresi masam. Raut wajah Kevin Muran semakin memasam. "Kamu kabur dari pernikahanmu, lalu permalukan dirimu dengan mereka cuma untuk mempermalukanku?" "Bagaimana mungkin?" Elisa mengangkat alisnya. "Tuan Muda Kevin harusnya puas dengan mempelai wanita yang kuberikan." Katanya sambil tersenyum. Hanya saja, tatapan sedih di matanya telah mengkhianatinya. Sebelum Nita Loram muncul, tidak ada orang yang bisa membayangkan jika orang kolot seperti Kevin yang menganggap ciuman sebelum menikah sebagai hal yang tidak senonoh, akan bermasturbasi sambil melihat wanita lain tidur. Sedangkan wanita itu adalah pacar ayahnya dan calon ibu tirinya! Elisa tidak mengetahui kapan Kevin menyukai Nita. Tapi karena mereka sudah berkencan selama dua tahun, Elisa memilih untuk mundur dan mengirim wanita yang disukai oleh Kevin ke pesta pernikahan. Sayang sekali pria itu tidak menyukai hadiah ini. Kevin melirik sekelompok pria dan wanita yang berpakaian minim di tengah kolam, amarahnya sudah mencapai batasnya. "Sepertinya mereka yang buat kamu jadi seperti ini." "Bukan urusanmu!" "Elisa, tiga tahun sudah berlalu. Tapi kamu masih nggak tahu kapan harus berhenti buat masalah." Pria itu mengangkat dagunya, para pengawal segera menyeret beberapa teman Elisa keluar. Mereka masih mengenakan bikini dan berteriak dengan keras karena tubuh mereka hampir terekspos. "Apa yang mau kamu lakukan!" Teriak Elisa dengan keras. Elisa mengangkat tangan untuk menampar Kevin, tapi pria itu mencengkeram dagunya erat-erat. "Kamu sangat keras kepala, pantang menyerah dan sulit ditaklukkan. Kamu telah buat masalah sebesar ini, tapi masih nggak malu dengan perbuatanmu. Satu-satunya solusi adalah hukum orang yang buat kamu jadi anak pembangkang." Para pengawal mulai mencambuk temannya. Ada orang yang hendak menghentikan hal ini, tapi segera dicambuk sampai berdarah. Jeritan kesakitan terdengar dengan jelas! Rongga mata Elisa memerah. Dia menjerit dan berusaha untuk menerjang ke depan, tapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Saat salah satu temannya dicambuk sampai pingsan, Elisa baru mengakui kekalahannya. "Aku sudah tahu kesalahanku." Kevin melepaskan tangannya. Elisa segera menerjang ke depan, lalu mendorong pengawal yang hendak mencambuk lagi. "Cepat berhenti! Aku sudah permalukan Keluarga Muran, kamu bisa hukum aku seorang!" "Kamu yakin?" "Selama kamu lepaskan temanku!" Kevin baru mengangguk dengan puas. Kevin memerintah para pengawal untuk membawa semua orang yang terluka ke rumah sakit, lalu membawa Elisa ke aula leluhur rumah Keluarga Muran. Semua anggota Keluarga Muran hadir di sana. Nita berlutut di tengah aula, terlihat jelas dia sehabis dipukul. "Kevin ...." Dia tersenyum dengan iba. Kevin mengangguk kecil. Raut wajahnya tenang, tapi dia tanpa sadar mencengkeram tangan Elisa dengan erat. "Kamu menyakitiku!" Elisa segera menepis tangannya. "Kalau kamu kasihan padanya, kamu saja yang dipukul mewakilkannya! Dia sudah dibawa ke tempat tidurmu, tapi kamu malah nggak berani sentuh dia. Kamu pengecut sekali."
Previous Chapter
1/24Next Chapter

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.