Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 9

"Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu bawa abu ibuku ke sini! Apa yang telah kalian lakukan! Siapa yang izinkan kalian gali kuburannya?!" Elisa berteriak dengan putus asa. Kevin melangkah maju dan menahannya. "Orang pintar itu bilang ibumu terlalu pendendam. Kalau dia nggak sepenuhnya disingkirkan, dia akan ambil nyawa Bibi Nita dalam waktu kurang dari tiga hari." "Orang yang masih hidup lebih penting dari orang yang sudah meninggal." "Elisa, kamu harus mengerti." Mengerti apa? Tidak ada orang yang bisa menerima hal ini! "Dasar binatang buas! Kamu menodai jiwa orang yang sudah meninggal! Kamu pasti akan mati dengan mengenaskan!" Elisa menampar wajah Kevin dengan keras. Nita berteriak dan bergegas keluar, lalu berlutut di depan Elisa. "Nona Elisa, aku mohon padamu. Jangan lukai Kevin, jangan rusak hubungan kalian demi orang sepertiku." "Kevin, cepat lepaskan Nona Elisa! Aku nggak akan obati diriku lagi! Nggak ada gunanya orang sepertiku hidup, biarkan aku mati saja! Lebih baik mati daripada lihat orang yang kusukai menikah dengan orang lain ...." Nita menangis tersedu-sedu. Dia bahkan tidak lupa menyampaikan rasa putus asanya pada Kevin. Benar saja, Kevin langsung tersentuh setelah mendengar ini. Keraguan dan keengganan yang muncul setelah melihat tampang Elisa langsung berubah menjadi tekad yang lebih kuat karena air mata Nita. Kevin mengikat Elisa di pintu. Lalu memerintah untuk merenovasi halaman depan. Setengah jam kemudian, tim konstruksi datang. Dalam waktu kurang dari 10 menit, halaman yang dulunya penuh dengan bunga telah berubah drastis sampai tidak bisa dikenali lagi. Suara Elisa sangat serak karena menangis, dia berusaha untuk melepaskan dirinya. Tapi malah menyisakan bercak darah yang mengerikan di kulitnya. Hal yang mengenaskan terjadi. Saat Kevin memerintahkan untuk menuang abu Alysa ke dalam semen, kemudian dituangkan untuk membuat jalan yang akan diinjak-injak oleh orang, Elisa mengeluarkan jeritan yang memilukan meski suaranya hilang. "Ibu!" "Kevin! Beraninya kamu lakukan hal itu!" "Aku akan bunuh kamu! Aku akan bunuh kalian!" Setiap ucapannya penuh dengan kebencian yang mendalam. Urat di dahi Elisa bahkan sampai menonjol. "Elisa!" Kevin meraung dengan keras, wajahnya dingin dan penuh amarah. Tapi terdapat secercah kepanikan yang tidak disadari olehnya melintas di matanya. "Itu cuma abu, nggak usah berlebihan. Selain itu, Bibi Nita hampir terbunuh oleh mimpi buruk ibumu setiap malam. Ini semua agar dia bisa istirahat dengan tenang." Istirahat dengan tenang? "Kevin, dia adalah ibuku! Ibu yang melahirkan dan membesarkanku! Kamu perlakukan kami seperti ini demi wanita pembohong itu .... Hahaha, bagus. Bagus sekali!" Pita suara Elisa benar-benar sudah rusak. Dia pura-pura gila dan memuntahkan darah setiap kali berbicara. Kevin memalingkan wajahnya. "Kamu akan memahamiku setelah menenangkan dirimu." Kevin melambaikan tangannya, para pekerja mulai meratakan jalan. Saat semen pertama jatuh ke tanah, Elisa langsung menangis tersedu-sedu. "Ibu!" Dia berteriak dengan sedih. Suaranya menghilang di tengah kegelapan. Begitu terbangun lagi, dia sudah berada di rumah sakit. Elisa pingsan sepanjang malam. Begitu membuka matanya, hari keberangkatannya sudah tiba. Jadwal penerbangannya pukul tiga sore. Kali ini, Elisa tidak membuat keributan, tidak berteriak akan membunuh Kevin dan Nita. Melainkan meninggalkan rumah sakit dengan tenang dan pergi ke rumah Alysa. Halaman rumah masih berantakan. Jalanan yang bercampur dengan abu ibunya sudah mengeras. Tidak bisa digali. Sudah terlambat .... Pita suara Elisa rusak parah dan kehilangan suaranya. Dia bahkan tidak bisa mengucapkan kata "ibu". Elisa berjalan dengan perlahan, lalu menyentuh setiap sudut rumah ini dengan tangannya. "Ibu, maafkan aku yang durhaka ini. Aku nggak bisa buat Ibu istirahat dengan tenang." "Ibu, jangan salahkan aku bertindak dengan kejam. Aku cuma nggak mau benda milik kita dihancurkan oleh orang lain." Air mata mengalir di wajahnya. Elisa berdiri di depan pintu untuk waktu yang lama, lalu mengeluarkan korek api. Bensin telah dituang hingga habis. Daripada membiarkan Nita dan Kevin menempati rumah ini, lebih baik biarkan rumah ini menghilang dari dunia ini untuk selamanya. Bum! Begitu korek api dijatuhkan, api langsung menyembur ke langit. Elisa menyeka air matanya, lalu berbalik di tengah kobaran api yang dahsyat ....

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.