Bab 21
Fajar duduk sendirian di kantor yang kosong dan dingin, mendengarkan laporan asistennya tentang kebangkrutan Keluarga Wibisana dan pelarian Wira.
Dia tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Justru hatinya terasa semakin hampa.
Dia sendiri yang memutus satu-satunya ikatan rapuh yang masih menghubungkan Wulan dengan masa lalunya. Dan pada saat yang sama, dia juga benar-benar menutup jalan bagi Wulan untuk kembali.
Tatapan Fajar tertuju pada layar komputer, pada salinan hasil pemulihan teknis dari dokumen perceraian. Di sana terpampang tanda tangan Wulan yang tegas, rapi, tanpa sedikit pun keraguan. Kini, setiap goresannya terasa penuh dengan tekad untuk pergi selamanya.
Penyesalan dan keputusasaan yang luar biasa menelannya seperti gelombang besar, membuatnya sulit bernapas.
Kondisi Fajar merosot dengan cepat, terlihat jelas oleh siapa pun.
Pria yang dulu dingin, rapi, dan penuh kendali itu kini tampak kurus, cekung, dengan bayangan kelam dan kelelahan yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link