Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

"Kamu ... apa maksudnya?" Butuh waktu lama sebelum aku mendengar suaraku sendiri yang serak. Di mata Darren, sekilas tampak rasa bersalah, namun segera menghilang tanpa jejak. Dia menarikku ke dalam pelukannya, menepuk punggungku seolah sedang menenangkan. "Sharon, aku sudah bilang, menantu Keluarga Porat harus punya latar belakang bersih dan nggak boleh terlalu mencolok. Kamu dulu hidup di dunia kekerasan, ditambah lagi kamu anak simpanan. Baik dari reputasi maupun asal usul, semuanya nggak bagus. Keluarga khawatir kamu akan merusak aturan. Demi membuat mereka menerimamu, aku hanya bisa pakai cara ini." Sambil berbicara, dia seperti memberi sedekah dengan menyelipkan pena ke tanganku. "Sharon, asal kamu tanda tangan ini, Thanksgiving tahun ini aku akan membawamu pulang ke rumah Keluarga Porat." Tanganku tanpa sadar mengepal, tubuhku sedikit gemetar. Setelah menikah dengannya, orang-orang Keluarga Porat selalu saja datang menghina diriku. Namun demi dia, semuanya kutahan. Aku bahkan takut dia akan sedih jika tahu, jadi aku menanggung semuanya sendirian. Agar diakui oleh keluarganya, aku sampai membuang seluruh harga diriku, berusaha menyenangkan orang-orang yang merendahkanku. Padahal dia tahu betul betapa aku ingin diterima oleh keluarganya, namun tetap membiarkanku menanggung penghinaan ini selama tiga tahun. Sekarang, demi memastikan Sania bisa mewarisi Geng Eldan tanpa hambatan, dia bahkan bisa menemukan alasan serendah ini. Keheninganku tampaknya membuat Darren tidak senang. Nada suaranya meninggi, disertai ketidaksabaran. "Sharon, kamu anak wanita simpanan. Dari awal memang nggak pantas menjadi pewaris." Anak wanita simpanan. Kalimat ini sudah terlalu sering kudengar. Padahal selama ini aku selalu mengatakan padanya kalau ibuku adalah istri pertama ayahku, yang pergi karena ditipu. Setiap kali mendengarnya, dia selalu memelukku dan menenangkanku, mengatakan kalau dia tidak akan pernah menjadi bajingan seperti ayahku. Namun hari ini, saat dia kembali menghina ibuku, aku akhirnya tidak bisa menahan diri dan mengatakan kebenaran. Wanita "Ibuku bukan simpanan. Ibu Sania yang ...." "Cukup!" Darren memotong perkataanku dengan keras. Kebencian dan amarah di matanya tidak bisa dia sembunyikan. "Sharon! Waktu itu kamu hampir membuat Sania kehilangan nyawanya. Dia berbaik hati dan memilih memaafkanmu. Selama bertahun-tahun ini kamu terus menargetkan Sania, tapi dia nggak pernah mempermasalahkan, bahkan dengan lapang dada memintaku menjagamu, adiknya. Tapi bagaimana denganmu? Anak haram yang nggak layak tampil di depan umum, masih juga ingin merebut sesuatu yang bukan milikmu." Dia tidak memercayaiku. Di kepalaku hanya tersisa kata-kata itu. Ternyata pengertian dan rasa hormat yang selama ini kupikir ada, hanyalah kebohongan yang dia ucapkan demi terus menipuku. Jantungku terasa bergetar hebat. Aku membuka mulut, namun tidak sanggup mengeluarkan suara. Setelah lama, aku akhirnya bertanya dengan suara gemetar. "Sesuatu yang bukan milikku ... termasuk kamu juga?" Ekspresi Darren membeku, seolah baru menyadari kalau dia salah bicara. Dia segera mengganti wajahnya dengan ekspresi bersalah, lalu memelukku dengan lembut. "Sharon, kenapa kamu selalu suka berpikir sembarangan? Aku adalah suamimu, tentu saja aku milikmu. Tapi sekarang kamu sudah punya suami yang menyayangimu, tinggal menjadi istriku di rumah sudah cukup. Nggak perlu terjun ke dunia penuh darah dan kekerasan itu. Lagi pula, bagaimanapun juga, kamu memang berutang pada Sania, 'kan? Soal Geng Eldan, jangan dipikirkan lagi." Bahkan sampai detik ini, dia masih berakting di hadapanku. Aku menutup mata dengan lelah, lalu mendorongnya perlahan. "Aku nggak akan tanda tangan. Darren. Geng Eldan dibangun dengan dukungan kakekku. Itu milikku dan aku nggak akan menyerahkannya pada siapa pun." Dulu aku yang terlalu bodoh, salah mengira tipu daya sebagai ketulusan. Demi pria yang tidak mencintaiku, aku sudah melepaskankan terlalu banyak hal. Namun sekarang, aku tidak akan seperti itu lagi. Sikapku sangat tegas. Darren tampak murka. Dia membanting perjanjian itu ke atas nakas dan menatapku dengan kesal. "Sharon, selama ini aku terlalu memanjakanmu sampai kamu menjadi keras kepala begini. Sepertinya kamu perlu diberi sedikit hukuman." Sambil berkata begitu, dia berjalan keluar dan memanggil anak buahnya. "Jaga Nyonya. Tanpa izinku, jangan biarkan dia keluar. Selain itu, jangan beri dia makan, sampai dia tahu salahnya."

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.