Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

Pengacaranya segera membalas. [Diterima. Kedua pihak dalam perjanjian telah menandatangani. Setelah prosedur dimulai, akan ada masa tenang perceraian selama satu bulan. Setelah masa tenang berakhir, perceraian dapat didaftarkan secara resmi.] Setelah membalas dengan satu kata "baik", Cynthia meletakkan ponselnya, menatap gelapnya malam di luar jendela dengan pandangan kosong. Dalam beberapa hari berikutnya, Cynthia mengurung diri di rumah, seperti cangkang kosong yang kehilangan jiwanya. Makan, tidur, melamun, tidak menangis, tidak membuat keributan, tidak berbicara. Stanley tampak sibuk mempersiapkan tahap terakhir dari rencananya, sehingga jarang pulang. Kalaupun pulang, selalu larut malam dengan tubuh berbau alkohol. Tatapan Stanley padanya tetap lembut, bahkan terasa lebih penuh perasaan daripada sebelumnya, mungkin demi membuat kejutan yang akan datang tampak lebih dramatis. Melihat aktingnya, Cynthia hanya merasakan mual dan kepedihan yang mendalam di dalam hati, namun tetap harus menahannya. Dia tidak boleh menunjukkan sedikit pun kelemahan. Tidak seperti biasanya, malam itu, Stanley pulang lebih awal. Dia masuk ke kamar tidur, dan melihat Cynthia bersandar di tempat tidur sambil melamun. Dia berjalan mendekat, duduk di sisi ranjang, lalu mengulurkan tangan dan mengusap rambutnya. Tubuh Cynthia tanpa disadari menegang, tetapi dia menahan diri untuk tidak menghindar. "Cynthia, beberapa hari ini perusahaan terlalu sibuk, aku jadi mengabaikanmu." Suara Stanley terdengar rendah dan lembut, penuh rasa bersalah. "Besok ada pesta ulang tahun seorang teman. Temani aku ke sana untuk menyegarkan pikiran, ya?" Hati Cynthia terasa perih, tetapi wajahnya tetap tenang, dia hanya mengangguk ringan. "Baiklah." Stanley tampak puas dengan kepatuhannya. Pria itu membungkuk dan mengecup keningnya. "Istirahatlah lebih awal." Malam berikutnya, Stanley membawa Cynthia yang telah berdandan anggun menghadiri sebuah pesta ulang tahun yang mewah. Baru setelah memasuki aula pesta dan melihat sosok perempuan bergaun putih yang dikerumuni banyak orang, bak seorang putri, Cynthia benar-benar memahami tujuan sebenarnya Stanley membawanya ke sini, untuk mempermalukannya. Orang yang berulang tahun adalah Yolanda. Perempuan yang benar-benar dicintai Stanley. Dia membawa istrinya sendiri untuk menghadiri pesta ulang tahun perempuan yang ada di hatinya. Saat Cynthia mengikuti Stanley masuk, Yolanda sedang berdiri di tangga, mengenakan gaun putih, anggun seperti seekor angsa putih yang mulia. Melihat mereka, Yolanda tersenyum dan menyambut, "Stanley, Cynthia, kalian datang." Stanley mengangguk dan menyerahkan hadiah di tangannya. "Selamat ulang tahun." "Terima kasih." Yolanda menerimanya, lalu dengan sangat natural menggandeng lengan Stanley. "Stanley, temani aku menari tarian pembuka, ya? Seperti dulu." Stanley melirik Cynthia. Cynthia memalingkan pandangan. "Baik," kata Stanley. Dia melepaskan tangan Cynthia dan berjalan bersama Yolanda menuju lantai dansa. Musik pun mengalun. Mereka berpelukan dan menari. Sang pria tampan dan tegap, sang wanita cantik dan memesona. Langkah mereka selaras, seolah memang ditakdirkan sebagai pasangan. Para tamu di sekeliling pun melayangkan pandangan kagum, ada yang iri, ada pula yang seakan memahami segalanya. Cynthia ditinggalkan sendirian di tempatnya, seperti sebuah hiasan yang terasa janggal. Dia dapat merasakan tatapan dari segala arah, penuh selidik, iba, atau bahkan rasa puas melihat penderitaannya. Tiba-tiba, segelas sampanye disodorkan ke hadapannya. "Kenapa berdiri sendirian di sini?" Miko entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Senyum genit terukir di wajahnya, setelan jas merah marun membuat wajah tampannya yang penuh aura menantang terlihat makin memikat. Cynthia menerima gelas itu. Jarinya bergetar, lalu perlahan dia menoleh dan menatap Miko. Wajahnya tampan dan menawan, berkesan urakan namun memikat, sama sekali berbeda dengan sikap Stanley yang dingin dan berkelas. Dulu dia selalu tidak mengerti, mengapa Stanley yang di siang hari dingin dan penuh tata krama, saat malam tiba seolah berubah menjadi orang lain. penuh gairah, dominan, dan sangat posesif. Sekarang dia mengerti. Karena memang bukan orang yang sama. "Jangan dipikirkan," kata Miko sambil tersenyum. "Stanley dan Yolanda sudah dekat sejak kecil. Setiap tahun, tarian pembuka di ulang tahun Yolanda selalu ditarikan bersama Stanley. Biasakan saja." Cynthia tidak berkata apa-apa. Dia menatap mata Miko dan tiba-tiba menyadari bahwa tatapannya ke arah Yolanda sama seperti tatapan Stanley, penuh hasrat ingin memiliki dan ketertarikan. Ternyata ... Miko juga menyukai Yolanda.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.