Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 6

"Penjelasan?" Stanley seolah mendengar lelucon. Dia menatap Yolanda dengan dingin. "Penjelasan apa yang perlu aku kasih padamu? Siapa yang kucintai dan dengan siapa aku bersama, apa hubungannya denganmu?" Kata-kata tanpa belas kasihan itu membuat Yolanda tersedak. Wajahnya seketika pucat pasi, menatapnya dengan tak percaya. Di sampingnya, Miko juga mengerutkan kening, menatap Yolanda dengan nada menyalahkan. "Yola, kali ini memang kamu yang keterlaluan. Cynthia 'kan istri Stanley, bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu?" Yolanda menatap dua pria di hadapannya. Dua orang yang dia kira akan selalu membelanya, memanjakan dan melindunginya, kini justru menyalahkannya demi wanita lain. Air matanya mengalir makin deras. Dia marah dan terluka. "Baik! Baik! Stanley, Miko! Kalian sekarang membelanya, ya?! Baik! Aku pergi! Aku nggak akan mengganggu kalian lagi!" Usai berkata demikian, dia mendorong Miko dan berlari keluar dari ruang rawat sambil menangis. Miko refleks hendak mengejar, namun setelah melirik Stanley, dia menghentikan langkahnya. Stanley tidak mengejar Yolanda. Dia berbalik, berjalan ke sisi tempat tidur Cynthia, menatap wajahnya yang pucat dan luka bakar di tangannya. Alisnya berkerut, suaranya direndahkan, dan berkata penuh penyesalan. "Cynthia, maaf. Aku nggak melindungimu dengan baik. Sejak kecil kami memang terlalu memanjakan Yola, dia jadi manja dan keras kepala. Tapi kali ini dia benar-benar keterlaluan. Aku akan memintanya meminta maaf kepadamu." Miko juga mendekat dan menyahut. "Iya, Cynthia, tenang saja. Yola hanya bertindak gegabah sesaat. Nanti akan kami nasihati baik-baik." Melihat mereka berdua saling bersahut-sahutan "bermain sandiwara", Cynthia hanya merasa sangat konyol dan pilu. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya kembali memejamkan mata. Beberapa hari berikutnya, Stanley tinggal di rumah sakit untuk merawat Cynthia. Stanley sangat telaten, menyuapi makan, membantu membersihkan tubuhnya, menemaninya berbincang. Terkadang Cynthia menatap wajahnya, berusaha mencari sedikit saja jejak kepura-puraan. Namun, dia tidak menemukannya. Dia tampak begitu tulus, begitu lembut, sama seperti lima tahun terakhir. Kadang Cynthia merasa limbung, bertanya-tanya apakah percakapan yang dia dengar hari itu hanyalah mimpi buruk. Namun, luka di tangannya dan rasa sakit di tubuhnya terus mengingatkannya. Itu bukan mimpi. Hari itu, Stanley ada urusan di perusahaan dan pergi lebih dulu. Cynthia pergi sendiri untuk menjalani pemeriksaan. Saat menunggu lift di lorong, tiba-tiba seseorang menutup mulutnya dari belakang. Bau menyengat menyeruak. Pandangannya menggelap, dan dia kehilangan kesadaran. Saat terbangun kembali, Cynthia mendapati dirinya dikurung di dalam sebuah kandang besi. Kandang itu besar, dan di dalamnya bukan hanya ada dirinya, tapi juga belasan ekor anjing. Anjing-anjing besar, menyeringai memperlihatkan taring dengan air liur menetes dan mata berkilat kehijauan, menatapnya seperti serigala kelaparan. Cynthia sangat takut anjing. Saat kecil dia pernah digigit anjing, dan itu meninggalkan trauma psikologis. Bertahun-tahun ini, bahkan anak anjing pun tak berani dia dekati, apalagi begitu banyak anjing besar. "Lepaskan aku! Tolong!!" Dia menjerit ketakutan, memukul-mukul kandang sekuat tenaga! Namun, jeritan dan pukulannya justru makin merangsang anjing-anjing buas itu. Mereka menerjang mendadak dan menggigitnya! "Aah!!!" Taring-taring tajam menembus kulit, rasa sakit yang hebat menerpa! Cynthia meronta-ronta, menendang dan memukul, tetapi tenaganya tak seberapa di hadapan anjing-anjing buas yang kelaparan! Kaki dan lengannya seketika digigit hingga berlubang-lubang, darah mengalir deras! Tepat saat dia mengira akan digigit sampai mati, dalam kesadarannya yang samar, dia seakan mendengar percakapan dari luar kandang. Itu Stanley dan Miko! Mereka ... ada di luar?! "Stanley, sudah cukup, 'kan?" Suara Miko terdengar. "Tergesa apa." Suara Stanley tetap dingin. "Yola menangis berhari-hari gara-gara kejadian di rumah sakit, dia bahkan nggak sanggup makan. Kalau bukan karena wanita ini, aku sudah lama bisa bersama Yola, dan nggak perlu menyembunyikan kebenaran darinya hingga dia menderita bertahun-tahun. Hukuman sekecil ini masih ringan." Jadi ... ini karena Yolanda! Karena Yolanda merasa "diperlakukan tidak adil" di rumah sakit, maka dia dihukum dengan cara seperti ini, demi melampiaskan kemarahan Yolanda?! Stanley bahkan merasa ... keberadaan Cynthia telah menghalangi dirinya bersama Yolanda?! Jantungnya terasa seperti dicabik berulang kali oleh taring-taring anjing buas itu, sakitnya membuatnya nyaris sesak napas! Tepat saat dia hampir pingsan karena sakit, Stanley akhirnya berkata, "Sudah. Seret dia keluar, kirim ke rumah sakit." Kandang dibuka, seseorang hendak masuk untuk menyeretnya. Namun saat itu juga, Miko tiba-tiba menghentikan. "Tunggu." Stanley bertanya, "Kenapa?" Miko berkata dengan datar, "Kamu benar. Kalau bukan karena dia, Yola nggak akan menderita. Aku juga tumbuh besar bersama Yola. Melihatnya begitu tersiksa, aku pun seharusnya melampiaskan kemarahanku untuknya." Stanley tampak ragu. "Jangan sampai terlalu parah. Nanti sulit menjelaskannya." "Apa susahnya menjelaskan?" Miko tak ambil pusing. "Nanti bilang saja dia diculik dan disiksa penculik. Lagi pula semua lukanya akibat gigitan anjing. Ditambah sedikit yang lain juga nggak masalah." Setelah itu, Cynthia mendengar suara logam bergesekan dan diseret. Lalu, dia diseret kasar keluar dari kandang oleh beberapa orang, dan matanya ditutup kain hitam. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Miko. Ketakutan yang luar biasa membuat seluruh tubuhnya gemetar. Kemudian, dia merasakan dirinya dibaringkan di atas sesuatu yang dingin, keras, dan dipenuhi tonjolan tajam! Apakah itu ... ranjang paku?! Belum sempat dia bereaksi, dorongan kuat datang dari belakang! Dia didorong keras dari atas ranjang paku, lalu ditahan dan digulingkan berulang kali dengan tenaga penuh di atas permukaan yang dipenuhi paku tajam itu! "Aah!!" Rasa sakit yang tidak terlukiskan seketika menjalar dari punggung dan ke seluruh anggota tubuhnya! Paku-paku tajam menembus kulit dan dagingnya, merobek luka-luka berdarah yang begitu dalam hingga menampakkan tulang. Setiap kali berguling terasa seperti menjalani hukuman pengulitan hidup-hidup! "Satu, dua, tiga ... sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan!" Seseorang menghitung dengan dingin di sampingnya. Tepat sembilan puluh sembilan kali! Saat putaran terakhir berakhir, tubuh Cynthia sudah berlumuran darah, tak ada satu inci pun kulit yang utuh. Kesadarannya pun sepenuhnya tercerai-berai dalam penderitaan ekstrem, lalu dia pingsan.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.