Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3 Sekarang Kamu Sudah Berani Membantah?

"James." Adele tidak menyangka prosesnya akan semudah ini, sampai tidak tahan memanggilnya. James menoleh, menjauhkan ponsel dari telinga. "Masih ada urusan?" Adele baru hendak bicara, tapi tiba-tiba teringat hubungan gelap antara James dan Anggita yang masih butuh dirinya sebagai tameng pelindung. Kalau sekarang dia bicara soal cerai, James pasti tidak akan setuju. Bahkan surat cerainya bisa dibatalkan. Setelah mempertimbangkan, Adele memutuskan mencari waktu lain saja. "Nggak ada. Kamu lanjutkan pekerjaanmu saja." James tidak mau membuang sedetik pun, langsung berbalik dan pergi. Wajah Adele langsung dingin. Mawar merah itu dia lempar begitu saja ke tempat sampah. Dia menyimpan surat cerai dan bersiap keluar rumah, baru turun ke bawah, sudah mendengar suara cemas ibu James, Windy Kinar. "Aduh bagaimana ini, kalau terus nggak bisa makan apa pun, nanti anaknya nggak dapat nutrisi, bagaimana bisa berkembang dengan baik?" Adele tidak ingin ambil pusing dan terus berjalan keluar, namun Windy malah memanggilnya. "Berhenti." "Adele, belakangan ini kakak iparmu sedang nggak punya selera makan. Dia ingin makan jamur kuping biji teratai bikinanmu. Kamu buatkan sekarang juga." Windy sudah sejak lama ingin punya cucu. Sejak hari Adele menikah masuk ke Keluarga Hauten, Windy sudah bicara dengan jelas. Di antara kedua menantu, siapa pun yang melahirkan keturunan Keluarga Hauten duluan, maka dialah yang akan mewarisi posisi nyonya besar keluarga. Sekarang Anggita yang lebih dulu hamil. Kakak James sudah meninggal karena kecelakaan. Anak dalam kandungan Anggita menjadi satu-satunya keturunan putra pertamanya. Tentu saja seluruh perhatian Windy tertuju padanya. Selama enam bulan ini, Windy hampir memusatkan seluruh perhatiannya untuk menjaga kehamilan Anggita, takut terjadi sedikit saja masalah. Bahkan soal James selalu menemani Anggita kontrol kehamilan pun, itu terjadi karena seizin Windy. Sebaliknya, Adele selama tiga tahun menikah tidak ada tanda-tanda mengandung. Ditambah lagi Keluarga Suria yang makin hari makin merosot, membuat Windy semakin tidak puas padanya. Cara bicaranya pun semakin tajam dan tidak enak didengar. Sejak hamil, Anggita mengalami reaksi kehamilan yang parah. Dia tidak selera makan, satu-satunya yang dia suka hanya sup jamur kuping biji teratai buatan Adele. Melihat itu, Windy hampir setiap dua atau tiga hari sekali menyuruh Adele membuatkan makanan manis itu. Sebelumnya karena kakak James baru saja meninggal dan Adele merasa kasihan pada Anggita, jadi dia tidak menolak. Lama kelamaan Adele malah dianggap pembantu rumah tangga oleh mereka. Sekarang setelah memergoki perselingkuhan mereka, dia tidak perlu lagi merugikan diri sendiri. Adele bahkan langsung menolaknya. "Hari ini aku nggak sempat." Windy benar-benar tidak menyangka Adele akan menolaknya. Sejak menikah sampai sekarang, apa pun yang dia suruh, Adele selalu menurut. Tidak pernah membantah sepatah kata pun. Sekarang berani-beraninya bilang tidak? Windy seketika memasang wajah masam, suaranya meninggi. "Kamu sudah tiga tahun menikah ke sini, Keluarga Hauten nggak pernah sedikit pun merugikanmu. Sekarang hanya diminta membuatkan semangkuk sup jamur kuping biji teratai saja kamu juga nggak mau? Adele, aku kasih tahu ya, Keluarga Hauten ini nggak memelihara orang malas. James menikahimu juga bukan untuk dijadikan pajangan!" Hati Adele terasa sesak. Sejak Keluarga Suria jatuh, demi membantu ayahnya, dulu dia masuk ke perusahaan keluarga dan membuat banyak pencapaian. Berkat usahanya, kondisi Keluarga Suria sempat membaik lagi. Kalau saja bukan karena Windy yang bilang menantu Keluarga Hauten harus menjadi istri yang baik, hanya boleh fokus pada Keluarga Hauten, dia tidak akan mundur dari pekerjaannya. Bahkan setelah menikah, dia menyerahkan seluruh hidup dan waktunya untuk James dan Grup Hauten. Selama ini Windy hanya melihat bagaimana Keluarga Hauten membantu Keluarga Suria. Dia sama sekali mengabaikan betapa besar pengorbanan Adele untuk James, Keluarga Hauten, dan Grup Hauten. Sekarang, dia malah dicap sebagai pajangan tidak berguna. Saatnya sadar. Dia harus kembali ke posisinya yang semula, membantu ayahnya membangkitkan kembali bisnis Keluarga Suria! Saat Adele sedang melamun, Windy sudah berjalan ke depannya. Gayanya seolah kalau Adele berani menolak, dia akan langsung menamparnya. "Kenapa masih bengong saja? Cepat pergi buatkan! Kalau sampai kakak iparmu kenapa-kenapa, aku akan menyuruh James memutus semua dana Keluarga Suria!" "Terserah." Adele sudah tidak ingin menahan diri lagi. Dia berbalik dan hendak pergi. Windy terdiam. Adele berani-beraninya bicara dengan nada seperti itu padanya? Wajahnya langsung menjadi bengis. "Sepertinya selama ini James terlalu memanjakanmu. Sekarang kamu sampai berani melawan!" "Ada apa?" Suara dingin pria tiba-tiba terdengar dari lantai atas. Windy mendongak dan melihat James turun. Dia pun langsung mengadu. "Lihat istri seperti apa yang kamu nikahi? Dia sekarang sudah nggak menganggapku sebagai ibu mertua lagi! Kalau kamu terus diam saja, suatu hari nanti dia mungkin berani memukulku!" Mendengar keluhan Windy, tatapan James ke arah Adele seketika berubah dingin. Yang membuat Adele sakit hati bukan karena Windy yang memutarbalikkan fakta. Tapi tatapan James yang begitu dingin. Tatapan yang langsung menganggap dirinya yang salah.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.