Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 8 Membuat Grup Suria Kembali ke Puncak

Alasan utama Grup Suria bangkrut adalah karena entah menyinggung siapa, jadi bisnis mereka ditekan dengan sangat parah. Walau setelah bangkrut mereka mencoba bangkit kembali, namun karena perubahan zaman dan ayah Adele, Arman Suria, tidak punya orang yang bisa membantunya, Grup Suria tidak pernah bisa kembali seperti dulu. Saat Adele tiba di Grup Suria, resepsionis langsung menyambut dengan hormat dan berkata, "Nona Besar, Pak Armand sudah menunggu Anda di atas." "Baik." Adele berjalan menuju lift. Di perjalanan tadi, dia sudah menelepon Arman dan mengetahui kalau ayahnya ada di kantor, jadi dia tidak perlu pulang ke rumah. Setibanya di depan kantor, Adele mengetuk pintu. Dari dalam terdengar suara. "Masuk." Adele pun membuka pintu dan berjalan masuk. Arman sedang duduk di sofa sambil memeriksa dokumen. Karena terlalu banyak pikiran dan kerja keras selama bertahun-tahun, ditambah ibunya Adele telah lama tiada dan tidak ada yang mengurusnya, rambut Armand sudah memutih banyak, padahal usianya baru lima puluh tahun lebih. Adele yang melihatnya merasa sangat sedih. Suaranya sedikit bergetar. "Ayah." "Adele sudah datang ya, duduk!" Arman menutup laptopnya, menepuk kursi di sebelahnya, lalu mulai menyeduh teh. Adele duduk di sampingnya, sambil melambaikan tangan. "Nggak perlu repot, aku duduk sebentar saja." Mungkin karena ekspresi Adele tidak terlihat baik, Arman sudah bisa menebak. "Apa orang Keluarga Hauten menindasmu lagi?" Beberapa tahun ini, tidak ada yang lebih paham keadaan Adele di rumah Keluarga Hauten selain dirinya. Melihat putrinya dizalimi, Arman merasa sangat bersalah. "Semua ini karena ayah nggak punya kemampuan, nggak bisa mempertahankan Grup Suria, sampai membuatmu harus menikah dengan Keluarga Hauten demi membantu perusahaan. Kamu jadi harus menanggung perlakuan dingin dari mereka. Ayah benar-benar bersalah padamu." Adele menggeleng. "Bukan salah ayah. Waktu itu aku sendiri yang rela menikah dengan James." Dia menyukai James dan selalu berharap bisa menikah dengannya. Jadi saat Keluarga Hauten mengajukan pernikahan, dia benar-benar senang dan bersemangat. Selama ini dia membantu James dalam bisnis karena berterima kasih pada Keluarga Hauten yang telah menolong Keluarga Suria. Namun, dia sama sekali tidak menyangka, pernikahan yang dia harapkan bisa berjalan sampai tua, justru berakhir dengan begitu menyedihkan. Arman menghela napas berat. "Kalau saja Keluarga Suria nggak jatuh seperti ini, mana mungkin Keluarga Hauten berani memperlakukanmu seperti itu? Nando juga nggak akan pergi. Semua ini salah ayah!" Saat menyebut nama Nando, hati Adele ikut merasa sesak. "Masih belum ada kabarnya?" Wajah Arman penuh penyesalan. "Dia seperti lenyap dari bumi ini, nggak ada seorang pun yang tahu keberadaannya." Adele menghiburnya. "Walaupun nggak ada Nando, aku tetap bisa kembali membantu Anda. Mulai sekarang, aku mau memusatkan perhatian pada bisnis Keluarga Suria, membantu meringankan beban Anda." Arman terkejut. "Lalu bagaimana dengan Keluarga Hauten?" Adele tidak menyebut soal ingin bercerai dengan James, takut membuat ayahnya semakin cemas. "Setelah berhasil mendapatkan Proyek Resor Namis itu, untuk sementara waktu dia nggak akan terlalu membutuhkanku. Saat itu aku bisa punya waktu untuk membantu Anda." Arman memang berharap Adele bisa kembali membantunya. Dia hanya punya satu anak perempuan. Orang lain tidak bisa diandalkan. Untungnya Adele berprestasi, selama ini tidak pernah membuatnya cemas. Saat sekolah prestasinya bagus, sekarang kemampuan kerjanya juga luar biasa. Oleh karena itulah dulu Nyonya Siska memilih Adele menjadi cucu menantunya. Jika Adele bisa kembali, Arman yakin Grup Suria pasti bisa kembali ke puncak kejayaannya. "Baik, Ayah menyambutmu kembali." Arman membuka tangan. Adele langsung memeluknya dan berkata di dalam hati. Juga selamat datang pada diriku yang dulu yang akhirnya kembali. Setelah keluar dari Grup Suria, Adele langsung naik taksi menuju bar yang sudah disepakati. Yuri sudah datang lebih dulu. Begitu Adele duduk, Yuri langsung menuang penuh segelas minuman untuknya. "Malam ini, buang semua hal yang membuatmu kesal. Ayo, minum!" Adele tidak peduli seberapa keras alkohol itu, dia mengangkat gelas dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Sejak menikah, dia tidak pernah minum setetes pun alkohol. Sekarang dia tidak ingin menahan dirinya lagi. Yuri merasa hanya minum saja tidak seru. Matanya melirik ke arah keramaian, lalu menyeringai, "Tadi aku dengar bos bilang malam ini ada beberapa model pria baru. Badan dan wajahnya nggak ada lawan. Ayo, aku temani kamu pilih beberapa model!" Adele bahkan belum sempat menjawab, tubuhnya sudah ditarik pergi.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.