Bab 5
Saat hendak pergi dengan Natasha dalam pelukannya, William tiba-tiba menginjak botol kosong, kotak obat depresi Selina.
Ekspresi Natasha tertegun, mencoba mengulurkan tangan untuk menghentikannya, tapi William mengambilnya terlebih dahulu.
"Depresi?"
"Salah satu trik barumu lagi?"
Mata Selina berkaca-kaca. Bahkan dengan kebenaran tepat di depannya, William tetap tidak akan mempercayainya.
William mencibir, "Selina, aku memperlakukanmu seperti ratu setiap hari. Kamu nggak pernah bergerak, aku bahkan nggak membiarkanmu membawa apa pun saat kita pergi keluar. Apa aku kurang cukup baik untukmu? Apa yang membuatmu depresi?"
"Aku benar-benar nggak tahu kenapa kamu berpura-pura seperti ini."
Kata-kata William yang meremehkan itu menusuk hati Selina.
Tidak fatal, tapi sangat menyakitkan.
William mengayunkan lengannya lalu melemparkan botol obat itu. "Jangan bermain-main lagi, ini bukan hal baru."
Saat William hendak pergi bersama Natasha, Selina dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul, berdiri dan mencengkeram Natasha dengan erat.
"Dia nggak bisa pergi. Dia baru saja mengakui bahwa dirinya mengatur apa yang terjadi pada ayahku waktu itu. Ada kamera CCTV di sini, kamu bisa menyelidikinya."
"William, aku tidak peduli apa yang kamu katakan tentangku, tapi masalah ayahku harus diselesaikan!"
Jantung Natasha berdebar kencang.
Natasha begitu fokus untuk memprovokasi Selina sehingga lupa ada kamera CCTV.
Saat Natasha semakin cemas, William dengan tegas membantah, "Haha, nggak perlu diperiksa. Aku nggak percaya padamu."
Setelah mendengar ini, Selina menatapnya dengan tidak percaya.
Di aula pernikahan, pria itu berjanji untuk tidak pernah meragukannya seumur hidup.
Hanya beberapa tahun berlalu, hatinya telah berubah begitu drastis.
Seandainya William melihat ke bawah, pasti akan melihat lengannya yang berdarah.
Seandainya William percaya dan memeriksa rekaman kamera CCTV, pasti akan mengetahui kebenaran tentang apa yang terjadi saat itu.
Namun, William sama sekali tidak mau repot-repot memikirkan Selina.
Di Kota Jaya, William memegang kekuasaan mutlak, tidak ada yang bisa menghentikannya melakukan apa pun yang diinginkannya.
Selina dibawa pulang dan dikurung. William mengatakan bahwa perlu menyembuhkan "kegilaannya" dengan benar.
Selina, yang selalu takut gelap, dikurung di ruang bawah tanah yang gelap dan tanpa sinar matahari.
William mengatakan jika Selina tidak mau mengakui kesalahannya, Selina tidak akan diizinkan untuk makan.
Selama beberapa hari berturut-turut, para pengawal datang untuk menanyakan dirinya sudah tahu salah atau tidak.
Pada hari pertama, Selina meringkuk di sudut, memeluk dirinya sendiri erat-erat, tanpa berkata apa-apa.
Pada hari kedua, untuk memaksanya mengakui kesalahannya, banyak tikus dilepaskan ke ruang bawah tanah. Selina ketakutan serta menangis, tapi tetap menolak untuk mengakui kesalahannya.
Pada hari ketiga, bercak darah sudah membeku, Selina benar-benar kehilangan harapan. Begitu melihat kegelapan yang tidak berujung, Selina berkata dengan putus asa.
"Aku nggak melakukan kesalahan apa pun. Kalau kalian berani, bunuh aku saja."
Sekarang, Selina hanya ingin mati.
Akhirnya, pada hari ketujuh dikurung di ruang bawah tanah, Selina dibebaskan.
William langsung panik saat melihat tubuhnya yang seperti tidak bernyawa. William meninju salah satu pengawal. "Kalau dia mati, aku akan membuat kalian semua membayar dengan nyawa kalian!"
Di tengah keributan, mata Selina sedikit terbuka.
Selina tidak mengerti. Jika William tidak lagi mencintainya, bukankah kematian akan lebih baik?
William, bukankah keadaanku saat ini semua karenamu? Sekarang kenapa kamu berpura-pura menjadi orang baik?
Ketika terbangun lagi, Selina berada di rumah sakit.
William, seperti sebelumnya, dengan penuh perhatian tetap berada di sisinya, seolah-olah mereka telah kembali ke masa lalu.
Namun, Selina tahu mereka tidak akan pernah bisa kembali.
Tidak peduli seberapa banyak memperbaiki sesuatu yang rusak, retakannya akan selalu ada.
William menemani Selina selama tiga hari. Saat melihatnya sadar, desahan lega akhirnya muncul di wajahnya.
"Lina, kali ini salahku. Aku nggak menyangka tubuhmu begitu lemah, aku ...."
Selina tidak ingin mendengar kata-kata itu dan langsung mengganti topik.
"Dalam seminggu lagi sidang banding kedua ayahku. Apa kamu masih akan membela kasusnya?"
Semua kata-kata William yang penuh perhatian tersangkut di tenggorokannya.
Entah kenapa, William merasa Selina sepertinya telah berubah.
Selina di masa lalu, meskipun membencinya, masih menyembunyikan secercah cinta di matanya.
Namun, sekarang secercah cinta di matanya itu sepertinya telah hilang.