Bab 224 Dorongan Ingin Memeluk Susan
Susan semalaman tidak tidur, wajahnya terlihat jauh lebih lesu.
Matanya juga tampak merah berurat darah. Setelah menutup telepon dia merias wajahnya lalu pergi ke rumah Keluarga Juwanta.
Berdiri di depan gerbang rumah Keluarga Juwanta, Susan merasakan perasaan seolah-olah dunia telah berubah.
Tempat ini dulu adalah rumahnya, sekarang bukan lagi.
Susan menyembunyikan kesedihan di matanya, lalu mengikuti kepala pelayan masuk ke ruang tamu.
Hardy sedang menyuapi Yuki.
Melihatnya, Hardy hanya melirik sekilas dengan santai. "Kalau belum makan, makanlah sedikit bersama-sama."
Susan menolak. "Nggak perlu."
Hanya dengan melihat Hardy saja sudah membuatnya sama sekali tidak berselera.
Namun, Susan tetap melangkah mendekat ke sisi Yuki, mengulurkan tangan hendak mengambil mangkuk di tangan Hardy. "Biar aku saja."
"Aku lebih suka melakukannya sendiri." Tangan Hardy menghindar.
Tangan Susan membeku di udara.
Dia melirik Hardy, menahan rasa tidak nyaman di hatinya sambil melihat Hardy terus menyuap

Locked chapters
Download the Webfic App to unlock even more exciting content
Turn on the phone camera to scan directly, or copy the link and open it in your mobile browser
Click to copy link