Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 7

Vanya duduk tanpa ekspresi, punggungnya tegak, pandangannya lurus tertuju ke podium lelang. Acara berjalan hingga pertengahan, namun minat Vanya sama sekali tak tergerak. Sampai sang juru lelang menyingkap kain beludru merah di atas nampan, kalung mutiara milik ibunya berkilau lembut di bawah sorot lampu. Mata Vanya berbinar seketika. Dia teringat masa kecilnya, saat ibunya kerap mengenakan kalung itu ke jamuan malam. Mutiara-mutiara itu bertaut di leher ramping sang ibu, bergoyang ringan mengikuti langkah anggunnya, seperti cahaya bulan yang hangat dan tenang. "Sampai segitunya?" Suara rendah Kresna terdengar di dekat telinganya. Vanya tak menjawab. Dia langsung mengangkat papan penawaran. "120 miliar." Sebuah suara manis terdengar dari samping. Calia tersenyum tipis ke arahnya. "Kakak, aku juga sangat menyukai kalung ini. Siapa yang menawar paling tinggi, dia yang dapat. Kakak nggak keberatan, 'kan?" Vanya mencengkeram telapak tangannya. "160 miliar." "200 miliar." "400 miliar." "600 miliar." ... Harga melonjak tanpa henti hingga 2 triliun. Dana dari penjualan maskawinnya sudah benar-benar habis, namun Calia tetap mengangkat papan tawaran dengan tenang, dan senyum penuh keyakinan menghiasi wajahnya. "Dua triliun pertama." Pelelang menoleh ke arah Vanya. "Nona Vanya, apakah Anda masih ingin menaikkan harga?" Tenggorokan Vanya terasa tercekat. Dia tak pernah menyangka, suatu hari dirinya harus merendahkan diri demi sebuah kalung. "Ya." Kata itu keluar dengan susah payah. Dia berbalik dan mencengkeram lengan baju Kresna. "Kresna, pinjamkan aku uang." Suaranya bergetar. "Itu peninggalan ibuku. Aku harus mendapatkannya." Kresna jelas tertegun. Dia belum pernah melihat Vanya yang biasanya angkuh dan bersinar bersikap serendah ini. "Anggap saja aku memohon padamu." Mata Vanya memerah, suaranya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar. Tangan Kresna meraih saku dalam jasnya, dan hendak mengeluarkan kartu hitam. "Kresna." Calia tiba-tiba menarik lengannya, matanya berkaca-kaca. "Aku benar-benar sangat menyukai kalung ini ... " Dia menggigit bibirnya. "Ini pertama kalinya aku begitu menyukai sesuatu. Jangan bantu Kakak, ya?" Udara seolah membeku. Vanya menatap Kresna, pria yang dulu pernah melindunginya dari badai dan hujan. Alis Kresna sedikit berkerut, pandangannya berganti-ganti antara dirinya dan Calia. Setelah keheningan panjang, Kresna akhirnya menoleh ke arah Vanya dan berkata perlahan, "Berikan saja padanya." Kata-kata itu terdengar ringan, namun terasa seperti pisau yang menikam jantung Vanya. Palu lelang pun diketukkan. "Terjual! Selamat kepada Nona Calia!" Vanya berdiri terpaku di tempatnya, tubuhnya terasa dingin hingga ke tulang. Dia melihat Calia menerima kalung mutiara itu dan tersenyum puas padanya. Vanya mengepal tangannya erat-erat hingga kuku menancap dalam ke telapak tangan, dan darah merembes di sela-sela jari, lalu menetes ke karpet. Namun, dia sama sekali tak merasakan sakit. Ini pertama kalinya Kresna melihat Vanya seperti ini. Matanya merah menyala, tapi dia menahan diri untuk tidak menangis. Vanya menggigit bibirnya sampai pucat, tapi tetap memaksakan diri untuk berdiri tegak. Entah kenapa, hati Kresna tiba-tiba diliputi rasa perih yang asing. "Kresna ... " Calia bersandar lemah ke arahnya, "Aku sedang nggak enak badan karena haid. Bisa tolong ambilkan selimut untukku?" Kresna terdiam sejenak, lalu akhirnya tetap bangkit dan pergi. Vanya benar-benar kehilangan minat pada lelang. Dia duduk di kursinya, dan di hadapannya terus terbayang sosok ibunya yang tersenyum sambil mengenakan kalung itu. Begitu lelang berakhir, Vanya langsung mencegat Calia. "Jual kalung itu padaku." Suara Vanya serak. "Apa pun syaratnya, aku terima." Calia terkekeh pelan. "Benar apa saja? Kalau aku menyuruhmu berlutut, kamu mau?" Tubuh Vanya gemetar hebat. Dia teringat ibunya yang, di saat-saat terakhir hidupnya, menggenggam tangannya sambil berkata, "Yaya, apa pun yang terjadi, kamu harus tetap hidup dengan bermartabat." Namun kini, demi sebuah kalung, dia hampir saja melepaskan martabat terakhir yang dia miliki. "Baik." Kata itu nyaris dipaksa keluar dari bibirnya. Dengan mata memerah, Vanya perlahan menekuk lututnya ... "Nggak usah berlutut." Calia tiba-tiba tersenyum dan memotongnya. "Percuma juga." "Aku sudah menyuruh orang melemparkan kalung rongsokan itu ke anjing liar di pinggir jalan." Dia mengeluarkan ponselnya, menggeser layar beberapa kali. Di layar tampak seekor anjing jalanan yang kotor, dengan kalung mutiara berlumur lumpur tergantung di lehernya. "Barang peninggalan ibumu memang paling pantas dikenakan oleh anjing." Dia mendekat ke telinga Vanya, berbisik pelan dengan nada menghina, "Bukankah memang begitu? Pelacur dan anjing adalah pasangan yang abadi." Mata Vanya terbelalak. Seluruh tubuhnya gemetar, telinganya berdengung keras, seolah ada palu besi yang menghantam pelipisnya tanpa ampun. Wajah pucat ibunya di saat-saat terakhir hidupnya terlintas di depan mata. Kalung mutiara yang dulu menjuntai anggun di leher sang ibu kini justru ... "Ulangi lagi." Suara Vanya begitu pelan hingga terasa mengerikan. Calia tersenyum penuh kemenangan. "Pelacur dan anjing adalah pasangan yang abadi. Kenapa? Kurang jelas?" Vanya perlahan mengangkat kepala, dan matanya merah menyala. "Tangan yang mana kamu pakai untuk memakaikannya?" "Yang ini." Calia mengangkat tangan kanannya dengan sikap pamer. "Kenapa, memangnya kamu mau ... " Belum sempat kata-katanya selesai, Vanya sudah meraih pisau buah di samping piring buah, lalu menghunjamkannya dengan keras ke telapak tangan Calia. "Ah!"

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.