Bab 11
Setelah selesai membacanya, Sebastian sulit bernapas.
Dia menutup dada dengan erat, menangis tersedu-sedu.
"Semua ini terjadi karena aku."
"Aku nggak tahu, aku benar-benar nggak tahu."
"Aku seharusnya nggak memercayai semua itu, nggak seharusnya mengabaikanmu."
"Salahku, semuanya salahku."
Aku mengangkat tangan hendak mengusap air matanya, air mata yang panas itu menembus jiwaku.
Aku juga ingin menepuk kepalanya, tetapi saat tanganku terulur, sebuah tangan kecil menindih tanganku.
Entah sejak kapan putriku terbangun, dengan tangan kecilnya dia menepuk lembut kepala Sebastian.
"Jangan nangis, jangan nangis, sakitnya pergi ya."
Lagu anak-anak ini, dulu saat kuliah aku terjatuh ketika lari delapan ratus meter, merasa malu lalu menangis.
Di ruang UKS, Sebastian pernah menghiburku seperti ini.
Saat putriku sedih, aku juga selalu menghiburnya dengan cara yang sama.
Air mata Sebastian seketika tak terbendung, dia menangis tersedu seperti seorang anak kecil.
Dengan mata berkaca-kaca dia menata

คลิกเพื่อคัดลอกลิงก์
ดาวน์โหลดแอป Webfic เพื่อปลดล็อกเนื้อหาที่น่าสนใจเพิ่มเติม
เปิดกล้องโทรศัพท์เพื่อสแกน หรือคัดลอกลิงก์แล้วเปิดในเบราว์เซอร์ของคุณ
เปิดกล้องโทรศัพท์เพื่อสแกน หรือคัดลอกลิงก์แล้วเปิดในเบราว์เซอร์ของคุณ