Bab 22
Xena terdiam.
"Baiklah."
Xena cepat-cepat mengalihkan topik, "Pengacara Jinan, kamu juga tinggal di sini?"
"Hmm."
Jinan menjawab ringan, matanya bertahan sejenak di wajahnya, kemudian bertanya, "Lalu kamu, tinggal dimana?"
Xena menunjuk ke gedung tinggi di sebelah kanannya, "Blok satu, unit dua, apartemen satu kamar."
"Aku tinggal di depanmu."
Xena menatap ke gedung di seberang, dia ingat ketika menyewa rumah, pemiliknya sempat mengatakan itu.
Namun, gedung di depan itu bukan apartemen.
"Eh, kalau begitu aku naik dulu ya?" Xena ingin cepat-cepat pergi, merasa malu kalau sampai ada yang tahu dia baru saja menangis.
Jinan berkata, "Oke."
Xena cepat-cepat melangkah masuk ke lorong dengan membawa barang-barangnya.
Melihat punggungnya yang seolah melarikan diri, sebuah senyum muncul di wajah Jinan.
Xena bahkan tidak naik lift, dia mendaki hingga lantai enam tanpa henti. Sesampainya di depan pintu, dia membuka pintu dengan terburu-buru dan meletakkan barang-barangnya di atas meja.
Dia menuan

คลิกเพื่อคัดลอกลิงก์
ดาวน์โหลดแอป Webfic เพื่อปลดล็อกเนื้อหาที่น่าสนใจเพิ่มเติม
เปิดกล้องโทรศัพท์เพื่อสแกน หรือคัดลอกลิงก์แล้วเปิดในเบราว์เซอร์ของคุณ
เปิดกล้องโทรศัพท์เพื่อสแกน หรือคัดลอกลิงก์แล้วเปิดในเบราว์เซอร์ของคุณ