Bab 34
Sejak Irish meninggal, harapan Thalia hanya tinggal satu.
Tahun ini, dia belum menuliskan harapannya.
Thalia mengambil pulpen dan selembar kertas kecil. Dia sempat ragu sesaat sebelum menulis.
Namun, akhirnya dia tetap menulis dengan sungguh-sungguh.
[Semoga Zavier selalu sehat dan bahagia. Semoga aku bisa mendengar.]
Namun, setelah selesai menulis, dia menggigit bibirnya pelan dan mengernyit.
Thalia merasa agak gelisah. Apakah dua permintaannya itu terdengar terlalu serakah?
Dia mengambil pulpennya kembali, lalu mencoret kalimat terakhir.
Setelah itu, dia menambahkan tulisan baru: [Aku cuma punya satu permintaan.]
Dia tak berani meminta terlalu banyak, hanya berharap ketulusan hatinya benar-benar bisa mengabulkan doanya.
Malam itu Thalia tak bisa tidur, jadi saat bangun keesokan paginya, kepalanya terasa pusing.
Untungnya, dia tak perlu pergi ke rumah sakit.
Nila sudah mengirim pesan sejak pagi, menanyakan apakah pendengarannya sudah pulih hari ini.
Thalia menjawab dengan jujur bahwa

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link