Bab 42
Zavier menarik lengannya kembali. Nada bicaranya tetap datar saat berujar, "Aku angkat tangan atau nggak, memang ada bedanya?"
Toh semua orang juga sudah setuju, tanpa dia pun tidak pengaruh.
Wisnu mendecakkan lidah. Dia berkata, "Barusan aku lihat Suster Thalia sempat menatapmu. Setidaknya kasih tanggapan dong."
"Kenapa harus kasih tanggapan?" Tiba-tiba Hanisha buka suara, "Ini 'kan rapat buat diskusi. Ada yang setuju, ya pasti ada yang nggak setuju juga."
Wisnu terdiam sejenak.
Hanisha langsung berdiri, lalu melirik Thalia dan berkata, "Semua orang tahu bagaimana kondisi di bedah saraf. Menurutku, seseorang yang pendengarannya bisa hilang kapan saja nggak cocok untuk tetap kerja di sini."
"Tapi, kalau memang semua orang setuju, aku juga nggak ada komentar."
Setelah rapat selesai, Tiara menarik Thalia ke kantin. "Thalia, lihat deh. Semua orang menganggapmu hebat, kecuali Dokter Hanisha."
Sejak terakhir kali Dokter Hanisha menegurnya, Tiara jadi agak kesal padanya.
Dia berbisik, "Aku b

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link