Bab6
Ponsel tergeletak tenang di sana. Biasanya, pada jam seperti ini, Keenan sudah menelepon berkali-kali.
Saat teringat wajahnya, gelombang mual serta kesedihan menyelimutiku.
Kami sudah putus. Aku sudah memutuskan untuk menutup semua akses kami berdua, barulah aku bisa benar-benar melepaskan semuanya.
Saat pikiranku sedang kacau, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Aku melompat dari ranjang dengan panik, bahkan tidak memakai sandal dan mulai mencari di koperku.
Aku mengeluarkan semua pakaian, kemudian menyadari sebuah masalah serius.
Astaga, gelang giok warisan keluarga masih tertinggal di rumah sewaan.
Itulah satu-satunya yang ditinggalkan ibuku untukku.
Aku menyimpannya di brankas bersama buku tabunganku, dan belum pernah membukanya.
Kemarin sangat terburu-buru sehingga aku benar-benar lupa tentang hal itu.
Setelah orang tuaku bercerai, aku jarang merasakan kasih sayang ayahku. Ibulah yang membesarkanku dengan susah payah.
Aku hidup sendirian sejak ibuku mengalami kecelakaan mobil tiga ta

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link