Bab 144
"Masih takut padaku?"
Carlo menatap memandangi Rosie yang duduk di ujung sofa, sambil memegang cangkir berisi kopi.
Wajah Rosie masih terasa panas, panas membara.
Entah karena kepuasan setelah bercinta atau karena malu ditatapinya.
"Ng, nggak ...."
"Nggak? Nggak mirip. Tunjukkan lagi gaya bos galakmu seperti kemarin."
Mengingat kemarin dia dipaksa oleh Rosie untuk perjalanan bisnis, rasanya cukup menyenangkan.
Saat mabuk, Rosie tidak takut apa pun saat mabuk. Saat sadar, Rosie malah tidak berani menghadapinya.
Carlo tersenyum tipis. Dia memakai kacamata dan mengencangkan jam tangan Patek Philippe di tangannya.
"Tahun depan Kakek nggak berencana menerima pesanan lagi. Tokonya akan dijual. Lokasinya bagus, sudah ada dasarnya, cocok dengan kondisi Elda. Kalau ada waktu, kamu bisa ajak Elda pergi lihat."
Rosie mengangguk.
Lokasi Toko Pakaian Kuno memang bagus, dan reputasinya sudah terbangun. Jika diambil alih, besoknya bisa langsung ganti papan nama dan beroperasi.
Mereka berdua terdiam s

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link