Bab 168
Tak disangka, ibunya tahu secepat itu.
Rosie sebenarnya memang tahu, tetapi dirinya tidak ingin Kesya bersedih, jadi hanya bertanya: [Siapa?]
Kesya tidak marah, juga tidak menyalahkan Rosie, suaranya tetap tenang saat berkata: [Kamu anakku, apa yang ada di hatimu, masa aku tak tahu?]
Rosie menekuk bibir, berdiri di atas batu di tepi danau sambil menatap ikan-ikan koi yang berenang hilir mudik.
[Bu, apa yang Ibu pikirkan?]
[Nggak ada apa-apa, sendirian juga baik.]
[Dia juga sendirian.]
[Kalau kamu ingin aku hidup dengan tenang, jangan sebut-sebut namanya di depanku. Kalau nggak, jangan datang mencariku lagi.]
Rosie tahu watak Kesya, dirinya hanya bergumam pelan dan menyetujui apa yang Keysa pintakan.
Setelah mengobrol seadanya, Rosie menutup telepon.
Begitu panggilan berakhir, tiba-tiba seseorang berlari tergesa-gesa dan menabraknya.
Tubuhnya oleng, kakinya terpeleset, dan dirinya jatuh ke dalam danau.
Air danau tidak dalam, tetapi masih mencapai dadanya.
Terjatuh begitu saja, dirinya t

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link