Bab 93
Kamar itu kedap suara. Walau begitu, karena khawatir ada orang di luar, Rosie pun mengirim pesan padanya.
[Boleh keluar?]
[Hmm.] Carlo membalasnya.
Rosie menghela napas lega, lalu membuka pintu ruang kecil itu.
Rosie tertegun.
Begitu pula dengan Samuel.
Evanzo yang di luar juga ikut tertegun.
Tatapan beberapa orang saling bersilangan dengan canggung.
Samuel sampai bercucuran keringat.
Tadi teleponnya benar-benar tidak tepat waktu ....
Satu jam yang lalu bos baru saja mengirim pesan, menyuruhnya membantu Rosie meminta izin.
Dikira sakit atau apa, ternyata ....
Rosie berdiri di ambang pintu, merasa dirinya ingin mati saja.
"Sini."
Carlo menoleh sekilas ke arahnya yang wajahnya memerah, lalu mendorong makanan manisan itu ke samping.
Rosie merasa kakinya berat seperti dipenuhi timah. Dengan lamban dirinya melangkah, mengambil makanan itu tanpa menoleh dan segera keluar.
Carlo tertawa kecil.
Sementara itu, Evanzo yang berada di samping, wajahnya menjadi karena ketakutan.
"Pak Samuel, tunggu

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link