Bab 530
"Nak, apa yang kamu katakan?"
Tetua Kedelapan tiba-tiba saja terlihat begitu marah.
"Apa kamu punya hak untuk bicara di sini?"
Para tetua lainnya juga menunjukkan kemarahan mereka.
"Hahaha, aku memang nggak punya hak untuk bicara di tempat ini. Kalau bukan karena undangan Marsha dan Paman Yanto, aku bahkan nggak akan mau repot-repot untuk menginjakkan kaki di tempat ini dan menghadapi kalian para orang tua yang penglihatannya kabur dan nggak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah!"
Arman mencibir.
Tidak ada sedikit pun rasa hormat dalam kata-katanya tersebut.
"Siapa yang kamu bilang penglihatannya kabur dan nggak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah?"
"Benar-benar bocah yang sombong!"
Para tetua menjadi marah. Tatapan mata mereka penuh dengan amarah.
Tetua Kedelapan bahkan mengambil kesempatan itu untuk mengadu kepada Tetua Pertama, "Tetua Pertama, Anda juga melihat sendiri kalau anak itu sama sekali nggak menghormati siapa pun. Bagaimana keluarga Setiadji

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link