Bab 6
Niken berdiri di pintu. Wajahnya yang terkena pantulan mentari pagi tampak pucat.
Dia sedikit maju. Bibirnya gemetar saat berusaha mengatakan sesuatu.
"Kak Luna ... aku kira Kakak benar-benar sudah meninggal."
Aku hanya diam dan menunduk, meletakkan seragam dinasku di lengan.
"Setelah ledakan ... ada tiga mayat yang ditemukan hangus terbakar di lokasi kejadian." Niken tercekat, dia menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Polisi bilang kalau salah satu di antara mereka ... tinggi dan posturnya cocok dengan Kakak."
"Faris nggak percaya. Dia memeriksa seluruh rumah sakit di seantero kota." Niken menyeka air mata di sudut matanya. "Dia terus mencarimu selama tiga bulan, tapi nggak dapat kabar apa pun."
"Lalu ... " Niken menatapku dengan mata merah. "Pada akhirnya kami cuma bisa menerima kalau ... kalau Kakak sudah meninggal."
Aku mengambil helm dan melangkah ke arah pintu. "Terus?"
Dia berdiri menghalangi pintu dan tidak memberi jalan.
"Jadi, selama bertahun-tahun ini ... " Niken menangi

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link