Bab 106
Nadira tertegun oleh tatapannya. Dia tidak menghindar, hanya menatap kedua orang itu dengan tatapan acuh tak acuh!
Dia ingin berpura-pura tidak peduli, tetapi bibirnya agak tegang dan tatapannya penuh dengan amarah.
Beni menggerakkan alisnya, lalu menoleh dan menerima leci dari Lestari.
Lestari dengan malu-malu berbisik, "Kakak Ketiga, kamu menggigit jari tanganku!"
"Oh, ya?" Nadira mendengar suara pria yang menggoda dan menyenangkan itu.
Dadanya terasa tertekan seperti ada batu yang mengganjal.
Beni melirik wajah pucat Nadira, lalu dengan sengaja menyampirkan jasnya di bahu Lestari dan memeluknya dengan lembut. Dia berkata, "Bukannya kamu bilang kedinginan? Jangan sampai kedinginan."
"Kakak Ketiga!" seru Lestari yang terkejut, jas beraroma maskulin menutupi dirinya. Dia tersipu dalam sandiwara itu, matanya berbinar dengan senyuman penuh makna. Dia berkata, "Aku akan selalu mengingat momen ketika kamu menyelimutiku dengan jas ini."
Pria itu bersandiwara dengan ekspresi datar dan berkat

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link