Bab 147 Ingin Sekali Membunuhnya
Susan membawa semangkuk mi keluar. "Wajahmu kelihatan muram, ada masalah?"
Jovan menggeleng. "Nggak ada masalah, urusannya hampir selesai."
"Baguslah." Susan baru duduk, telepon berdering. Melihat nama Hardy, dia langsung menutupnya.
Mata Jovan yang tajam melihat nama itu, dan tangan yang memegang garpu terhenti. "Kok nggak diangkat? Kalau ada urusan penting bagaimana?"
"Oh, itu orang yang nggak ada hubungannya denganku. Teleponnya nggak penting." Susan berkata dengan santai.
Sejak semalam setelah di ranjang dengan Hardy, Hardy jadi sangat lengket, sampai agak menyebalkan.
Setelah Susan pergi, telepon dan pesan hampir terus-menerus, sampai wanita itu kesal dan bilang mau tidur, barulah Hardy agak tenang.
Namun, pagi ini Hardy mulai lagi.
Mendengar kata "nggak ada hubungannya", Jovan merasa agak lega. Tampaknya Susan belum sepenuhnya menerima Hardy.
Namun, urusan semalam masih membuatnya bingung.
Telepon berdering lagi. Susan dengan kesal menutup beberapa kali, dan akhirnya tidak tahan.

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link