Bab 7
Keesokan harinya. Saat sarapan, Stella tidak terlihat.
Satria terus melihat jam. Dia ingin sekali mengetahui hasil eksperimen terbaru. Sesekali, dia mendongak ke tangga dan berkata, "Sudah kubilang, dia cuma bertahan satu atau dua hari, tapi kalian masih nggak percaya."
"Dia sudah lama menjalani kehidupan mewah di Keluarga Linggara. Baru dua hari, sifat aslinya sudah terungkap."
Krek ....
Saat ini, gerbang halaman terbuka.
Mereka melihat Stella dengan rambut disanggul rapi dan kemeja linen lengan panjang. Dia menenteng ranselnya yang usang. Dia sedikit terengah-engah, hingga keringat bercucuran di lehernya yang putih. Stella berdiri di gerbang halaman. "Kalian sudah bangun!"
"Astaga, berat sekali. Apa ini? Mungkin sekitar dua puluh atau tiga puluh kilogram." Samuel menjatuhkan roti, lalu menghampirinya dengan beberapa langkah. Dia mengambil ransel untuk Stella, tetapi tangannya malah terkulai karena beban itu.
Stella memiliki bibir merah dan gigi putih. Saat tidak tersenyum, dia terlihat cuek. Namun, saat berbicara, dia selalu membuat orang merasa mata dan alisnya tersenyum. Mereka tanpa sadar ingin mendekat. "Gunung di sebelah kita adalah harta karun luar biasa. Gunung itu penuh dengan berbagai macam herba. Aku bangun pagi-pagi untuk memetiknya."
"Bukankah Kak Simon bilang kita bisa bekerja sama dengan bosnya? Aku sudah menemukan beberapa pengganti. Aku akan membuatnya hari ini agar Kak Simon bisa mengantarkannya."
Simon mengerutkan kening dan berdiri dari meja. Wajahnya tampak sedih karena merasa telah membuat Stella menderita lagi.
"Sudah kubilang cedera kakimu butuh istirahat, kenapa masih melakukan pekerjaan fisik?" Satria adalah pria yang blak-blakan. Namun, dia sudah mengeluarkan kotak obat. Dia melihat luka Stella yang telah diperban itu berdarah, lalu memarahinya.
Stella duduk di bangku dan berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak sakit."
"Jam berapa kamu pergi pagi-pagi?" Simon memandangi sekantong penuh herba sambil mengerutkan alisnya.
"Sekitar jam empat. Aku ingin membuatkanmu sup, tapi aku agak terlambat." Stella tersenyum, lalu dia meletakkan tas sekolahnya di atas meja dengan satu tangannya.
Samuel tertegun. Dia bertanya-tanya bagaimana gadis lemah itu memiliki kekuatan sebesar itu.
Stella tidak menanggapinya serius. Dia membenamkan kepala di ranselnya. "Ayah, tolong haluskan herba ini. Oleskan tebal-tebal pada mata Ibu selama 15 menit."
"Sehari dua kali selama satu minggu."
Mata William berkaca-kaca. Dia menerima herba itu seolah-olah itu adalah harta karun. Dia sangat tersentuh dan merasa sedih. "Stella, kamu telah berkorban begitu banyak untuk keluarga ini."
"Anak baik, dengarkan Ayah. Jadilah putri yang bahagia."
Stella terdiam seribu bahasa.
Bukannya Stella tidak mau.
Namun, anggota Keluarga Fulberto tua, lemah dan sakit-sakitan. Dia tidak memungkinkan untuk menjadi seorang putri.
Dia lebih baik untuk memilih menjadi wanita mandiri dan kuat yang bertanggung jawab atas kebahagiaan keluarganya.
"Satu jam lagi, sebuah drama akan dipentaskan di jalan keluar desa. Berikan adikku 2 miliar karena telah membantu orang lain."
Simon berbalik dan mengirim pesan pada asistennya.
"Kak, kita nggak pantas bertemu bosmu dengan tangan kosong. Kalau nggak, aku lebih baik kembali dan membawa beberapa barang." Stella dipaksa oleh Simon untuk bertemu dengan bosnya guna membahas kerja sama bisnis di masa depan.
Simon rem mendadak.
Stella mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ada yang jatuh!" Stella buru-buru melepas sabuk pengamannya, lalu keluar dari mobil untuk memeriksa situasi.
Awalnya, Samuel berencana naik helikopter pribadi untuk menghadiri sebuah acara di kota lain. Namun, dia benar-benar ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Stella yang imut dan lucu. Jadi, dia meminjam mobil bobok itu dengan keras kepala.
Samuel tidak menyadari situasi mendadak ini. Dia terkejut, lalu keluar dari mobil. Stella sudah melakukan CPR pada pria tua yang pingsan itu.
Setelah pertolongan Stella, pria tua itu perlahan-lahan mendapatkan kembali napas dan detak jantungnya. Pipinya yang pucat kembali merona dengan perlahan-lahan. Dia membuka matanya dan menunjuk Stella dengan jari gemetar. "Ka ... kamu menyelamatkanku."
Saat ambulans tiba, keluarga pria tua itu datang. Mereka memegang lengan Stella dengan gembira. Mereka bahkan berlutut untuk mengungkapkan rasa terima kasih. "Terima kasih, terima kasih telah menyelamatkan ibuku!"
"Ini cek sebesar 2 miliar sebagai ucapan terima kasih!"
Mereka menyerahkan cek itu ke tangannya, lalu menghilang dari pandangannya ketika ambulans melaju pergi.
Simon memegang dahinya. Hasil ini adalah hasil yang ditangani asistennya. Apakah ini tidak berlebihan?
Samuel menekan sudut bibirnya yang berkedut karena ingin tertawa terbahak-bahak. Kemudian, dia mendekat ke Simon. Dia berbisik dengan suara pelan, "Sebenarnya, aku bisa merekomendasikan aktor yang lebih profesional untukmu."
"Minggir."
"Oke."
Samuel langsung berubah menjadi seorang aktor. Dia memegang tangan Stella dengan kaget. Samuel mengambil kesempatan untuk meningkatkan kontak fisik dengan Stella untuk mendekatkan diri, "Astaga! 2 Miliar!"
"Benarkah 2 miliar? Bisakah 2 miliar ditulis di selembar kertas seperti ini?"
Saat ini, Samuel seperti orang yang kehilangan anaknya. Dia begitu gila hingga saudara di sebelahnya menatapnya seolah-olah melihat orang idiot.
Tiba-tiba, Simon merasa bahwa kemampuan akting para aktor yang diatur oleh asistennya cukup masuk akal.
Adapun Stella, dia merasa sedikit kasihan pada Samuel. Melihat cek senilai 2 miliar, Samuel sangat gembira.
Namun, jika dipikir-pikir lagi, Keluarga Fulberto tidak punya uang selama bertahun-tahun. Dua miliar memang angka yang fantastis.
"Yah, kamu bisa menulisnya di selembar kertas. Kamu peganglah. Aku harus mengembalikannya nanti." Stella menyerahkan cek itu pada Samuel.
Simon melangkah maju dan bertanya, "Pak tua dan keluarganya berpakaian mewah dan bermartabat. Kamu menyelamatkan pria tua itu. Aku rasa mereka nggak peduli dan nggak akan memintanya lagi. Itu hanya tanda terima kasih mereka."
"Setelah berpisah, aku rasa kita nggak akan bertemu lagi."
Stella menunjuk penerima pembayaran di cek, lalu berkata, "Kak, di sini. Kita bisa memeriksanya di bank. Membantu orang lain nggak butuh imbalan apa pun. Aku membantunya bukan karena uang. Aku hanya nggak ingin menjadi penonton, jadi aku berusaha sebaik mungkin untuk membantunya."
"Saat aku sampai di Kota Trans, aku akan pergi ke bank dan mengembalikannya." Stella sudah mengambil keputusan.
Begitu banyak anggota Keluarga Fulberto harus dinafkahi. Stella memang membutuhkan uang, tetapi dia tidak bisa menerima semuanya.
Samuel diam-diam menegaskan dalam hatinya bahwa Stella pantas menjadi putri Keluarga Fulberto. Dia memiliki karakter yang tegas, pendirian yang teguh dan pantang menyerah. Jika itu Linda, dia mungkin akan berteriak ingin pergi ke bank untuk menukarkan uangnya.
"Kak Samuel, jangan menangis. Kita pasti akan menghasilkan uang."
Stella mengambil kembali cek itu, lalu melihat mata Samuel berkaca-kaca. Dia mengira Samuel sedih karena uangnya hilang.
Samuel menyeka air matanya. Dia tersentuh oleh kata-kata Stella. Di matanya, 2 miliar tidak berarti apa-apa.
Secercah kelembutan muncul di wajah Simon yang cuek dan tampan. Dia menepuk bahu Stella dengan lembut dan berkata, "Stella, ayo kita bekerja keras dan menjalani hidup nyaman bersama."