Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

Keesokan paginya, Aqila benar-benar datang ke studio Alisa. Dia mengenakan kartu identitas bertanda penanggung jawab, lalu bertepuk tangan untuk menghentikan latihan yang sedang berlangsung. "Semuanya, mohon berhenti sejenak." Alisa beserta rekan kerja berhenti bergerak dan memandang Aqila. Aqila menunjuk gambar rancangan yang telah disahkan di papan latar. "Nuansa warnanya terlalu gelap, kurang cerah." "Andre .... Bukan, maksudku Pak Andre pernah berkata bahwa seni harus membawa harapan bagi penontonnya. Jadi, kita ganti ke merah muda dan putih." Kepala divisi tata panggung hendak menjelaskan bahwa pemilihan warna telah disesuaikan dengan tema koreografi. Namun, Aqila memotongnya lebih dulu. "Dan pemilihan musik. Komposisi saat ini terlalu dinamis. Ganti dengan piano yang bertempo lembut." Alisa tidak bisa menahan diri lagi, lalu melangkah maju. "Nona Aqila, tata panggung dan kurasi musik telah ditetapkan melalui pertimbangan berulang, disesuaikan dengan esensi koreografi." "Skema merah muda dan putih nggak selaras dengan tema. Komposisi yang menenangkan pun tak mampu menopang tensi emosional dan daya ungkap koreografi tari ini." Aqila mengerjap, wajahnya polos. "Akan tetapi, Pak Andre menyatakan bahwa proyek ini berada di bawah tanggung jawabku dan harus memuat perspektif estetika yang lebih selaras dengan preferensi publik." Aqila mengeluarkan ponselnya. Di hadapan semua orang, dia langsung menghubungi nomor Andre, suaranya bernada sedih. "Andre, aku menyampaikan beberapa usulan kecil pada studio. Mungkin kurang profesional, tapi aku bermaksud baik demi keberhasilan proyek ini." "Reaksi Alisa cukup keras. Apakah dia nggak menyukaiku?" Dia mengaktifkan pengeras suara pada ponselnya. Suara Andre yang tenang dan berwibawa mengalir dari telepon. "Usulan Aqila mungkin belum profesional, tapi dia mencerminkan sudut pandang estetika penonton umum." "Kita memerlukan sudut pandang publik untuk menekan kerumitan ekspresi artistik yang berpotensi sulit dipahami. Ikuti arahannya." Ruang latihan itu seketika hening. Rekan kerja saling menatap satu sama lain. Tidak seorang pun berani membuka suara. Pihak investor memiliki otoritas tertinggi, prinsip ini dipahami oleh semua orang. Alisa merasakan aliran darahnya seolah naik ke kepala. Dia langsung berbicara ke mikrofon ponsel. "Andre, apakah kamu tahu perubahan serampangan seperti ini dapat merusak keseluruhan pertunjukan!" "Kak Alisa!" Aqila memotong ucapannya. Lingkar matanya memerah dan suaranya terdengar serak. "Aku tahu aku hanya pemagang dan kemampuanku belum setara denganmu." "Tapi aku ingin menjalankan pekerjaan ini dengan baik, bukan untuk menyaingimu." Di ujung telepon, suara Andre mendingin. "Alisa jangan biarkan urusan personal memengaruhi pekerjaan." Alisa berkata marah. "Andre, pikirkan kembali, sebenarnya siapa yang mencampurkan urusan personal ke dalam pekerjaan?" Suara Andre tegas, tanpa ruang sanggahan. "Aku pihak investor dalam kolaborasi ini. Keputusan sudah final. Aku nggak akan mengulanginya." "Kamu!" Alisa hendak melanjutkan, tapi rekannya menarik pergelangan tangannya, lalu berkata dengan suara rendah. "Sudahlah, Alisa. Jangan diteruskan. Jangan sampai bersitegang dengan pihak investor ...." Alisa memandang sorot mata rekannya yang pasrah namun memohon. Ada desakan yang menyesak di dadanya, tapi Alisa memilih menelan kembali kata-katanya. Perombakan besar oleh Aqila membuat karya yang hampir selesai menjadi tidak padu dan kehilangan keselarasan dengan konsep awal. Demi menjaga reputasi studio, Alisa memimpin timnya melakukan perbaikan secara intensif. Pada kurun tersebut, lampu di studio hampir selalu menyala sampai larut malam. Alisa dan timnya berkali-kali merevisi koreografi, berupaya mempertahankan esensi gerak tari semula di tengah batasan papan latar merah muda–putih dan iringan piano yang terlalu lembut. Demi hasil akhir pertunjukan, setiap orang hanya dapat bertahan dan menyelesaikan tugasnya. Sehari sebelum pementasan, tim itu menyelesaikan versi koreografi yang cukup layak untuk ditampilkan. Pada hari pementasan laporan proyek, usai menuntaskan tarian terakhir, Alisa memimpin seluruh pemeran untuk naik ke panggung dan memberi salam penutup. Tepuk tangan bergemuruh dari hadapan panggung. Alisa menarik napas pendek untuk meredakan laju napasnya, senyum profesional terpatri di wajahnya. Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada kursi ketiga di barisan pertama deret terdepan, sebagaimana kebiasaannya. Di setiap pementasan sebelumnya, Alisa senantiasa menyediakan kursi tersebut untuk Andre. Saat pementasan berakhir, Andre membawa seikat bunga, kemudian memberikannya entah di panggung ataupun di belakang layar. Tatapan Alisa terpaku pada kursi itu. Hari ini, Andre mengenakan setelan jas gelap yang rapi dan berpotongan tegas. Di lengannya tersampir buket besar mawar merah yang mekar mencolok. Dia berdiri perlahan dari kursinya. Refleks tubuh dari kebiasaan lama hampir membuat Alisa melangkah menyambut Andre. Akan tetapi, Andre hanya mendekap bunga dan berjalan tenang melewati Alisa, lalu menghampiri Aqila. Di hadapan tatapan para penonton dan pandangan seluruh pemeran di panggung, Andre menyerahkan buket mawar merah itu pada Aqila. Aqila mendekap buket bunga itu, senyum terkejut terpatri di wajahnya. Sorot matanya memuat kekaguman. Di bawah sorot lampu panggung, buket mawar merah itu membuat mata Alisa perih. Alisa berdiri di tengah panggung dalam posisi salam penutup. Senyumnya tampak kaku. Untuk pertama kalinya, Alisa menyadari bahwa Andre bukan miliknya lagi. Hatinya terasa seperti kehilangan sebagian, menyisakan dingin yang menusuk. Alisa menghela napas dalam, kemudian mencubit telapak tangannya sendiri. Dia mencoba menautkan rasa perih itu agar pikirannya kembali jernih. Kilau hidup Alisa tidak bergantung pada Andre satu orang saja. Salam penutup usai. Tirai panggung menutup perlahan. Alisa berbalik, tidak menatap mereka lagi. Dia menyapa rekan-rekan yang lelah tapi bersemangat. "Terima kasih atas kerja keras semuanya. Jamuan malam ini aku yang traktir. Mari kita rayakan bersama."

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.