Bab 4
Di jamuan perayaan, rekan-rekan studio bersemangat. Mereka bersulang dan berfoto bersama.
Alisa terimbas semangat rekan-rekannya dan karena keberhasilan yang diperoleh susah payah membuatnya turut mengangkat gelas dan bersulang bersama tim.
Ponsel di dalam tasnya terus bergetar. Melihat panggilan dari ibunya, Alisa menuju lorong untuk menjawabnya.
"Ibu aku sedang di jamuan perayaan."
Wulan berkata dengan tergesa.
"Ada jamuan perayaan yang lebih penting daripada urusan keluarga?"
"Malam ini akan ada tamu penting di rumah. Segera pulang. Jangan sampai Paman Surya nggak senang."
Alisa mengusap pelipisnya.
"Aku nggak bisa meninggalkan tempat ini. Tamu seperti apa yang mengharuskanku hadir?"
Suara Wulan memuat amarah.
"Alisa, kenapa kamu bertindak tanpa menimbang kepatutan!"
"Kamu bisa menari dan mendirikan studio dengan tenang, bukankah karena dukungan sumber daya dan jejaring Keluarga Winata?"
"Kalau kamu nggak menganggap keluarga ini penting, bagaimana aku harus menjelaskannya pada Paman Surya?"
Lagi-lagi dalih yang sama.
Alisa menggenggam ponsel, ujung jarinya memucat.
Dia teringat masa ketika Wulan baru menikah dengan Surya.
Dia berdandan dengan cermat setiap hari, berbicara penuh kehati-hatian, sementara di balik sorot matanya tersimpan rasa rendah diri yang tak pernah benar-benar sirna.
Wulan kerap menasihatinya. "Lisa, wanita yang menginginkan kehidupan layak, maka harus mencari sandaran yang kuat."
Namun, sandaran yang dipilih Wulan diraih melalui cara yang tidak terpuji.
Dia menjadi pihak ketiga dalam keluarga orang lain. Sekalipun kemudian mendapat tempat di Keluarga Winata, dia tetap tidak pernah mampu menegakkan kepala.
Ketika suasana hati Surya sedang buruk, dia sering memerintah Wulan seenaknya, bahkan tidak segan bersikap kasar secara verbal maupun fisik.
Alisa beberapa kali berdebat dengan Surya terkait hal itu. Setiap kali pula, Wulan menahannya dengan kuat, memohon agar Alisa tidak memperuncing keadaan.
Pada momen terberatnya, Alisa berlari ke ruang penyimpanan di lantai dua dan menangis dengan sangat pilu.
Di tengah tangis yang tersengal-sengal, Alisa mendengar suara sangat pelan dari sudut ruangan.
Dalam pandangan yang diselimuti air mata, Alisa mendongak dan melihat Andre, adik tirinya yang selalu diam, entah sejak kapan sudah bersembunyi di sana.
Dia menatap Alisa dalam hening, lalu menyodorkan selembar tisu.
Sejak saat itu, ruang penyimpanan di lantai dua menjadi markas rahasia mereka.
Setiap kali terdengar pertengkaran dan bunyi benda dibanting dari bawah, Alisa dan Andre serentak bersembunyi di ruang itu.
Dia hanya duduk di samping Alisa dan sebagian besar waktu, dia tak mengatakan apa-apa.
Saat kebisingan di luar terdengar sangat keras, dia menutup telinga Alisa dengan kedua tangannya yang hangat untuk menjaganya dari hal yang tak layak didengar.
Alisa pernah mengira bahwa mereka adalah sekutu, satu-satunya yang bisa saling menghangatkan di tengah rumah yang dingin ini.
Sekarang tampak bahwa Andre hanyalah seorang penyusup yang dipenuhi dendam, bersembunyi di sisinya.
Segala kepercayaan dan perasaan yang Alisa berikan, ternyata hanyalah alat bagi rencana balas dendam Andre.
"Lisa? Kamu dengar nggak? Segera pulang!"
Desakan Wulan membuat Alisa tersadar dari lamunannya.
Dengan setengah linglung, Alisa menjawab ke arah mikrofon.
"Baik, aku akan segera pulang."
Setibanya di vila Keluarga Winata, lampu-lampu di ruang makan menyala terang benderang.
Surya duduk di kursi utama, sementara Wulan duduk di sampingnya, menata hidangan.
Saat melihat Alisa pulang, Surya hanya mengangguk pelan.
"Kalau sudah pulang, duduklah dan makan. Hari ini, Andre akan membawa pasangannya pulang."
"Jika semua sudah cocok, segera tetapkan tanggal pertunangan."
Tangan Alisa yang memegang sumpit seketika terhenti.
Meski sudah punya firasat, mendengarnya sendiri membuat jantung Alisa terasa seperti ditusuk seketika.
Dia dan Andre sudah berhubungan begitu lama, tapi tidak pernah terpikir untuk membuka hubungan itu ke publik.
Alisa menundukkan kepala, bibirnya tersungging senyum pahit.
Lupakan saja. Karena semuanya hanyalah balas dendam, mengumumkannya tidak ada artinya.
Saat itu terdengar gerakan di pintu, Andre masuk sambil membawa Aqila.
Hari ini, Aqila tampil begitu manis dan anggun, menenteng tas hadiah yang indah, sambil menyapa dengan suara manis.
"Halo, Paman, Bibi."
Wulan segera menyambut dengan hangat.
"Aduh, ini pasti Aqila Candra ya? Cantik sekali! Cepat, duduk!"
Surya jarang menunjukkan keramahan, menanyakan latar belakang keluarga dan pekerjaan Aqila.
Andre dengan penuh perhatian menarik kursi untuk Aqila, menata peralatan makan untuknya dan sesekali berbicara pelan padanya.
Meja makan dipenuhi kehangatan dan tawa, seakan mereka adalah satu keluarga.
Alisa makan dengan diam, rasanya seolah mengunyah lilin.
Tatapan Aqila tertuju pada Alisa, sambil berpura-pura terkejut.
"Alisa juga ada di sini, kita sebelumnya pernah bekerja sama."
Alisa tetap menunduk, hanya menjawab dengan datar.
Namun Aqila tidak berniat melepaskannya, lalu mengalihkan pembicaraan ke Wulan.
"Bibi, perawatan Anda sangat baik, terlihat begitu muda."
Baru saja senyum muncul di wajah Wulan, terdengar Candra melanjutkan dengan suara polos.
"Memang begitu juga. Orang yang bergantung hidup pada orang lain seperti Bibi tentu tak lepas dari kekhawatiran akan diabaikan atau diremehkan."
Kata-katanya menyiratkan ejekan, mengisyaratkan Wulan hidup bergantung pada Keluarga Winata.
Wajah Alisa seketika menggelap.
Meski hubungannya dengan ibunya tidak baik, orang luar tetap tidak berhak mengejeknya secara langsung!
Alisa menatap Aqila, suaranya terdengar tenang tapi menusuk.
"Nona Aqila masih muda, tapi kerutan halus di sudut matamu sudah terlihat. Sebaiknya mulai merawatnya dari sekarang."
"Kalau hanya mengandalkan kepolosan tak akan mampu mempertahankan hati seseorang."
Senyum Aqila Candra tiba-tiba membeku. Saat hendak membalas, tapi terhenti saat Surya memotongnya dengan suara tegas.
"Makan saja. Kurangi bicara."
Jelas Surya tidak suka jika ada yang membahas masa lalu yang memalukan di meja makan.
Meja makan seketika menjadi hening. Setiap orang menyantap hidangannya dengan pikiran masing-masing.
Alisa yang pertama meletakkan sumpit dan mangkuknya, mengucapkan selamat menikmati, lalu bangkit dan naik ke lantai atas tanpa menoleh sedikit pun, mengurung diri di kamar.