Bab 2
Selesai dengan ucapan itu, Henros tidak lagi melirik Valeria. Dia menggenggam tangan Scarlet, lalu berbalik pergi.
Valeria ingin mengejarnya, tetapi pandangannya makin kabur, tertutup darah yang mengalir dari sudut dahinya.
Baru melangkah satu langkah, pandangan Valeria menghitam, dan dia sepenuhnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun kembali, dia sudah berada di rumah sakit.
"Kamu sudah sadar?" Suara perawat terdengar. "Bagaimana perasaanmu? Selain luka luar, kamu juga mengalami gegar otak ringan dan perlu banyak istirahat."
"Dan satu lagi, kamu ... hamil. Sekitar enam minggu."
Valeria mendongak dengan tak percaya. "Apa?"
"Kamu hamil." Perawat menyerahkan hasil pemeriksaan padanya. "Namun kamu mengalami banyak luka, kondisi janinnya tidak terlalu stabil. Disarankan untuk rawat inap beberapa hari untuk observasi."
Setelah itu perawat pergi, meninggalkan Valeria sendirian di ruang rawat.
Valeria menunduk dan menatap perutnya yang masih rata, tanpa tanda apa pun, tetapi di dalamnya ada sebuah kehidupan kecil, anaknya dan Henros.
Haruskah dia merasa bahagia? Namun ayah anak ini baru saja mengatakan di hadapannya bahwa dia memiliki orang yang dia cintai.
Haruskah dia merasa sedih? Namun ini adalah anaknya, satu-satunya kerabat sedarah yang tersisa baginya di dunia ini.
Valeria tidak tahu harus berbuat apa, terbaring di ranjang dengan mata terbuka sampai pagi.
Hingga keesokan sore, pintu ruang rawat didorong terbuka.
Henros masuk.
Dia tidak menanyakan bagaimana lukanya, tidak menanyakan apakah dia kesakitan. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah: "Gugurkan anak itu."
Jantung Valeria terasa seperti ditusuk keras. Dia mendongak tajam dan menatap pria itu dengan tak percaya.
"Scarlet sudah cukup menderita karena tahu aku menikah denganmu. Kalau dia tahu kamu mengandung anakku, dia pasti nggak sanggup menerimanya. Jadi anak ini harus digugurkan. Aku sudah mengatur dokter terbaik."
"Harus digugurkan?" Suara Valeria bergetar karena amarah dan sakit yang ekstrem. Dia memaksakan diri duduk, menegakkan punggung, mengerahkan seluruh tenaga untuk mempertahankan harga diri terakhirnya. "Henros, sadar diri! Anak ini sekarang ada di perutku! Kamu cuma menyumbang satu sperma saja! Kamu nggak berhak menentukan hidup dan matinya!"
Henros mengerutkan kening. "Valeria, jangan keras kepala. Anak ini benar-benar nggak bisa dipertahankan. Scarlet dia ...."
"Scarlet, Scarlet, Scarlet!" Valeria akhirnya meledak, meraih bantal dan melemparkannya. "Di matamu cuma ada Scarlet! Lalu aku ini apa? Aku ini apa selama tiga tahun ini?"
Bantal itu menghantam tubuh Henros, lalu jatuh ke lantai.
Dia tidak menghindar, hanya menatap Valeria, dengan ketenangan yang nyaris kejam di matanya.
"Kamu ini apalah! Kamu adalah istriku secara hukum, alatku untuk menghadapi keluarga, objek tempatku menjalankan kewajiban."
Dia mengucapkannya kata demi kata. "Hanya itu."
Hanya itu.
Jantung Valeria terasa seperti diremas oleh tangan tak terlihat, sakitnya membuatnya hampir tak bisa bernapas.
Benar.
Hanya itu. Dia seharusnya sudah mengerti sejak awal.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat masuk.
Henros mengatakan sesuatu kepada mereka, dokter tampak ragu, tetapi akhirnya tetap mengangguk.
"Henros! Berani kamu!" Valeria panik. Dia berusaha turun dari ranjang, tetapi jarum infus di tangannya tertarik dan terasa perih. "Kalau kamu berani menggugurkan anak ini, seumur hidup aku nggak akan memaafkanmu! Aku akan membencimu seumur hidup!"
Henros menatapnya, sejenak ekspresinya menjadi rumit, tetapi segera kembali dingin.
"Aku tahu kamu pendendam," katanya. "Tapi anak ini nggak bisa dipertahankan."
Dia melambaikan tangan. Dua perawat maju menekan Valeria, dokter mulai menyiapkan peralatan, lalu menyuntikkan anestesi berulang kali ke tubuh Valeria yang meronta.
Saat pintu tertutup, Valeria mendengar Henros mengangkat telepon, suaranya begitu lembut hingga terasa tidak nyata. "Scarlet? Ya, aku segera ke sana."
Lalu dunia jatuh ke dalam kegelapan.
Valeria tidak tahu bagaimana dia melewati semua itu.
Waktu operasi tidak lama, tetapi setiap detiknya terasa sepanjang satu abad.
Dia bisa merasakan alat-alat dingin itu masuk ke tubuhnya, bisa merasakan kehidupan kecil itu dipisahkan secara paksa!
Setelah selesai, dia terbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit tanpa bergerak.
Ketika perawat datang mengganti perban, Valeria tidak bereaksi.
Di saat dokter datang memeriksa, dia tidak bereaksi.
Teman-teman datang menjenguk, dia juga tidak bereaksi.
Dia seperti cangkang kosong tanpa jiwa, hanya menyisakan tubuh yang masih bernapas.
Seminggu kemudian, Valeria keluar dari rumah sakit.
Henros tidak datang menjemputnya.
Dia mengurus semua sendiri, naik taksi sendiri pulang ke rumah.
Para pelayan melihatnya dan bertanya dengan hati-hati, "Nyonya, Anda sudah kembali. Tuan dia ...."
"Jangan panggil aku nyonya," sela Valeria. "Mulai sekarang, di rumah ini nggak ada nyonya."
Valeria melangkah lurus menuju garasi.
Henros mencintai mobil, di garasi terparkir belasan mobil sport edisi terbatas, dengan harga masing-masing yang luar biasa.
Biasanya pria itu sangat menyayangi mobil-mobil itu, merawatnya secara berkala, dan tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya.
Valeria masuk, mengambil kapak pemadam kebakaran di sudut dinding.
Ayunan pertama menghantam kaca depan, kaca pecah seketika.
Ayunan kedua menghantam kap mesin, logamnya penyok ke dalam.
Ayunan ketiga, keempat, kelima ....
Dia seperti orang gila, mengayunkan kapak satu demi satu.
Pecahan kaca beterbangan, cat mobil terkelupas, mobil-mobil mewah itu berubah menjadi rongsokan di tangan Valeria.
Para pelayan ketakutan, ingin maju menghentikannya, tetapi mundur ketika melihat tatapan mata Valeria.
Sepasang mata yang biasanya tajam dan cerah itu kini seperti kolam dingin tanpa dasar, sekali dilihat saja membuat tubuh terasa membeku.
Ketika mobil terakhir juga hancur, Valeria menjatuhkan kapaknya.
Dia berdiri di tengah garasi yang porak-poranda, menatap "karyanya", lalu tiba-tiba tertawa.
Tertawa dan tertawa, sampai air mata mengalir turun.
Ponselnya bergetar sekali, sebuah pesan singkat dari Henros.