Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 3

"Aku tahu kamu sudah menghancurkan semua mobil di garasiku. Sekarang emosimu juga sudah tersalurkan, urusan ini selesai sampai di sini." Selesai sampai di sini? Valeria menatap barisan kata itu, air matanya jatuh makin deras. Mana mungkin selesai? Anaknya sudah tiada, hatinya sudah mati. Perasaan yang dia berikan selama tiga tahun seperti orang bodoh, semuanya sia-sia. Bagaimana mungkin semua ini selesai begitu saja? Dia menyeka air mata, lalu menelepon seseorang. "Tolong buatkan draf perjanjian perceraian untukku. Ya, sekarang juga." Setelah menutup telepon, dia kembali ke kamar dan mulai berkemas. Dua jam kemudian, pengacara mengantarkan perjanjian perceraian itu. Valeria duduk menunggu di ruang tamu. Saat hari hampir gelap, Henros pulang. Dia masuk dan melihat Valeria duduk di sofa, tertegun sejenak. "Kamu ...." Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Valeria sudah menyodorkan berkas itu ke hadapannya. "Tandatangani!" Henros menunduk dan melihatnya sekilas, wajahnya langsung menggelap. "Perjanjian perceraian? Valeria, kamu bikin ulah apa lagi?" "Aku nggak bikin ulah." Suara Valeria sangat tenang. "Tandatangani saja, lalu kita berpisah dengan baik." Henros melempar berkas itu ke meja dan mendengus dingin. "Kamu kira aku nggak ingin bercerai? Tapi kepentingan kedua keluarga kita sudah terlalu terjalin. Orang tuaku mengancamku dengan nyawa Scarlet. Kalau aku berani menceraikanmu, mereka akan mengirim Scarlet ke tempat yang tak akan pernah bisa kutemukan." Dia berhenti sejenak, menatap Valeria. "Lagi pula, aku juga ingat dulu ayahmu pernah mengancammu, kalau kamu mau menceraikanku, dia akan membuat ibumu yang sudah meninggal juga nggak bisa beristirahat dengan tenang. Jadi, jangan lakukan hal sia-sia seperti ini." "Nggak perlu kamu urusi." Valeria menatapnya. "Aku punya banyak cara untuk membuat kita bercerai." Henros seolah mendengar lelucon. "Cara apa? Valeria, jangan naif. Terlahir di keluarga kaya, pernikahan nggak pernah bisa ditentukan sendiri." Selesai berkata begitu, dia berbalik hendak pergi, tetapi Valeria segera menghalanginya. "Tanda tangan." Dia menyodorkan kembali perjanjian dan pena ke hadapannya. "Kalau nggak, malam ini tak seorang pun boleh pergi." Henros mengerutkan kening. "Valeria, jangan bertingkah." "Aku bertingkah?" Valeria tertawa, senyumnya penuh sindiran. "Henros, nyawa anakku, tiga tahun masa mudaku, di matamu semua itu cuma dianggap bertingkah?" Henros terkejut melihat tekad di mata Valeria. Dia menatap wanita itu dan tiba-tiba merasa asing. Valeria yang berdiri di hadapannya bukan lagi gadis kaya yang selalu congkak dan bertindak semaunya, seolah tak peduli apa pun. Di matanya ada keganasan nekat, seperti binatang buas yang terpojok, siap menerkam dan menggigit lehernya kapan saja. "Baik." Henros tiba-tiba tersenyum, menerima pena, lalu menandatangani namanya di perjanjian itu. "Kalau mau tanda tangan, ya tanda tangan. Tapi Valeria, jangan lakukan hal yang nggak ada gunanya. Kamu benar-benar nggak menginginkan makam ibumu lagi?" Dia melempar perjanjian yang sudah ditandatangani itu kembali pada Valeria, lalu berbalik pergi. Valeria berdiri di tempat, menatap punggungnya yang menghilang di ambang pintu, air mata akhirnya jatuh. Henros tidak tahu, sejak lama Valeria sudah diam-diam memindahkan makam ibunya ke tempat yang aman, di luar kendali ayahnya. Dia tidak lagi takut pada ancaman ayahnya. Selama bertahun-tahun ini Valeria tidak menceraikannya bukan karena takut pada ayahnya, juga bukan karena membutuhkan keuntungan dari pernikahan ini. Semata-mata karena dia menyukai pria itu. Dengan bodoh dan sepihak, dia menyukainya selama tiga tahun. Sekarang, mimpi itu harus berakhir!

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.