Bab 4
Valeria menyeka air matanya, mengangkat ponsel, lalu menelepon pengacara, "Dia sudah menandatangani perjanjian. Urus semua prosedurnya secepat mungkin."
Setelah menutup telepon, Valeria menatap perjanjian perceraian yang sudah ditandatangani di tangannya. Di hamparan es tandus di hatinya, seolah berembus sehelai angin yang sangat lemah.
Dingin, tetapi setidaknya, itu adalah kebebasan.
Baru saja dia hendak menelepon sahabatnya untuk mengajaknya minum semalaman di bar, ponselnya kembali bergetar.
Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.
"Mau peninggalan ibumu? Datang ke tempatku untuk mengambilnya. Alamat kukirim."
Di bawahnya terlampir sebuah alamat, dan sebuah foto yang memperlihatkan Scarlet memegang kalung berlian itu, tersenyum manis ke arah kamera.
Valeria menatap foto itu lama sekali, lalu meraih kunci mobil dan bergegas keluar.
Scarlet tinggal di sebuah apartemen kelas atas dengan keamanan ketat. Setelah Valeria menyebutkan namanya, barulah dia diizinkan masuk.
Lift berhenti di lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, Scarlet sudah menunggu di depan pintu.
Dia mengenakan pakaian rumah, rambutnya disanggul longgar, tampak lembut dan tak berbahaya.
"Nona Valeria, kamu sudah datang. Silakan masuk."
Valeria melangkah masuk. Di atas meja makan ruang tamu tersaji beberapa hidangan, juga buah-buahan yang sudah dipotong.
"Henros baru saja datang dan memasak untukku," kata Scarlet seolah baru teringat, menunjuk ke meja. "Sebenarnya masakannya cukup enak, hanya saja dia terlalu sibuk dan jarang masuk dapur. Tapi setiap kali datang menemuiku, dia selalu memasakkan sesuatu."
Scarlet berjalan ke piring buah, mengambil sepotong mangga yang sudah dipotong. "Lihat, bahkan buah pun dia kupas dan potongkan untukku. Aku bilang jangan repot-repot, tapi dia bilang nggak boleh. Katanya tanganku halus, takut aku melukai diri sendiri saat mengupas."
Jantung Valeria terasa seperti tertusuk jarum.
Henros bisa memasak? Bahkan memotong buah? Selama tiga tahun pernikahan mereka, Valeria tak pernah melihatnya masuk dapur, bahkan segelas air pun pria itu tak pernah menuangkan untuknya.
Ternyata bukan karena dia tidak bisa, melainkan karena dia tidak mau melakukannya untuk Valeria.
"Nona Valeria, air mukamu kelihatan kurang baik," kata Scarlet dengan nada prihatin. "Mau minum air?"
"Nggak perlu." Valeria menyela. "Aku ke sini bukan untuk mendengar kamu pamer. Mana kalungnya? Berapa harganya?"
Senyum Scarlet sedikit memudar.
Dia berjalan ke sofa dan duduk, lalu berkata perlahan, "Aku nggak mau uang. Aku hanya ingin kamu membantuku melakukan satu hal."
"Kemarin aku belajar menyetir dan tak sengaja menabrak kaca pintu utama. Pecahan kacanya jatuh semua ke kolam renang." Scarlet menunjuk kolam di luar balkon. "Kamu bantu bersihkan sampai tuntas, aku akan mengembalikan kalung itu padamu."
Valeria menatapnya. "Kamu sengaja menyusahkanku?"
"Mana mungkin?" Scarlet berkedip polos. "Aku hanya berpikir, Nona Valeria begitu ingin mengambil kembali peninggalan ibunya, seharusnya nggak keberatan membayar sedikit harga, 'kan?"
Valeria tahu Scarlet sengaja mempersulit, tetapi kalung itu adalah satu-satunya kenangan yang ditinggalkan ibunya, dia harus mengambilnya kembali.
"Baik." Valeria berkata sambil menahan emosi.
Di kolam renang, pecahan kaca berserakan, besar dan kecil. Valeria tak punya alat, hanya bisa memungutnya dengan tangan satu per satu.
Pecahan itu sangat tajam, tak lama kemudian jarinya tergores, darah menetes ke air dan menyebar menjadi merah pucat.
Telapak kakinya juga teriris, setiap kali melangkah, keperihan menembus tulang.
Namun dia tidak berhenti.
Dia mengatupkan gigi, memungut satu per satu, sampai pecahan terakhir di dasar kolam benar-benar bersih.
Saat memanjat keluar dari kolam, Valeria basah kuyup, tangan dan kakinya penuh luka, darah bercampur air mengalir ke lantai.
Dia berjalan ke hadapan Scarlet dan mengulurkan tangan. "Kalung."
Scarlet memandang keadaannya yang mengenaskan, tersenyum, lalu berbalik masuk ke kamar tidur.
Beberapa saat kemudian, dia keluar membawa kotak beludru itu.
Valeria mengulurkan tangan untuk menerimanya.
Namun tepat saat kotak itu hendak berpindah ke tangannya, Scarlet tiba-tiba melepas genggaman.
Kotak itu jatuh ke lantai, tutupnya terbuka, kalungnya menggelinding keluar, berlian berserakan, rantainya pun terputus.
"Aduh!" Scarlet menutup mulut, wajahnya penuh penyesalan. "Maaf, tadi tanganku licin, nggak sengaja merusaknya."
Valeria menatap tumpukan berlian yang hancur di lantai, seluruh tubuhnya gemetar.
"Kamu sengaja." Dia mengangkat kepala, matanya merah seperti hendak meneteskan darah.
Wajah penyesalan Scarlet menghilang. Dia membungkuk mengambil rantai yang putus, memainkannya di tangannya, senyumnya berubah licik dan penuh kepuasan.
"Ya, aku sengaja. Kamu kira aku benar-benar akan mengembalikan kalung itu padamu? Valeria, kamu pantas?"
Dia melempar rantai itu ke dekat kaki Valeria. "Kamu pikir kamu masih Nona Besar Keluarga Canir yang tinggi di atas sana? Sekarang kamu cuma perempuan terbuang yang bahkan tak bisa mempertahankan anaknya sendiri! Ibumu sudah mati bertahun-tahun, meninggalkan kamu kalung rusak seperti ini, tapi kamu menganggapnya harta karun, sungguh lucu! Kubilang padamu, meski aku menggilingnya jadi bubuk, itu pun pantas!"
Tali terakhir pun putus.
Valeria mendongak tajam, amarah dahsyat bergolak di matanya.
Dia melangkah mendekat satu demi satu, suaranya sedingin es. "Sebelum memprovokasiku, apa kamu nggak pernah dengar aku ini orang seperti apa?"
Scarlet ketakutan oleh keganasan di matanya dan tanpa sadar melangkah mundur. "Kamu ... kamu mau apa? Kubilang, Henros sebentar lagi ...."
Belum sempat Scarlet menyelesaikan kalimatnya, Valeria sudah mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya keluar.
"Lepaskan aku! Valeria, lepaskan aku!" Scarlet menjerit sambil meronta. "Pelayan! Cepat panggil satpam!"
Para pelayan ketakutan dan tak berani bergerak.
Valeria menyeret Scarlet turun hingga tiba di arena berkuda lantai dasar apartemen.
Fasilitas penunjang apartemen mewah ini jarang digunakan.
"Kamu ... kamu mau apa?" Scarlet benar-benar ketakutan.