Bab 6
Apa?
Jantung Valeria segera berdegup kencang. Tanpa sempat berpikir panjang, dia segera mengemudi menuju vila tepi laut.
Saat tiba, pemandangan yang dilihatnya hampir membuatnya runtuh.
Henros memang ada di sana.
Dia mengenakan mantel panjang hitam, berdiri di atas halaman rumput di depan vila, wajahnya dingin dan tegas.
Dan di belakangnya, beberapa ekskavator meraung-raung, bersama peralatan pembongkaran. Sementara itu, para pekerja sudah bersiap siaga.
"Henros! Apa yang ingin kamu lakukan?"
Henros berbalik menatapnya, sorot matanya sedingin es, tanpa sedikit pun kehangatan. "Aku meneleponmu, mengirim pesan, kamu nggak pernah membalas. Aku menunggumu selama ini, tapi nggak pernah mendapat satu pun penjelasan darimu. Karena kamu nggak mau memberikannya, maka aku akan mengambilnya sendiri."
"Rumah ini sangat penting bagimu, 'kan?"
"Karena kamu menghancurkan ketenangan Scarlet dan menyakitinya, maka aku juga akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya kehilangan hal yang paling penting."
Henros mengangkat tangan memberi isyarat pada mandor di belakangnya. "Hancurkan!"
Valeria ingin menerobos untuk menghentikannya, tetapi para pengawal yang dibawa Henros segera maju, mencengkeramnya dari kiri dan kanan.
"Lepaskan aku! Henros, dasar bajingan! Ini peninggalan ibuku! Kalau kamu berani menghancurkannya, aku nggak akan selesai denganmu!"
Dia meronta-ronta dan berteriak sekuat tenaga, tetapi Henros bahkan tidak meliriknya, hanya menatap dingin vila itu yang sedikit demi sedikit dihancurkan.
Lengan mekanik ekskavator menghantam keras pilar kayu berukir di sisi vila!
"Jangan! Ibu!"
Valeria hanya bisa menatap dengan mata terbuka lebar, melihat rumah yang menampung begitu banyak kenangan dan perasaannya, mulai runtuh di bawah amukan monster baja itu.
Itu rumahnya! Tempat terakhir kehangatan dan sandaran hatinya!
Valeria tak sanggup lagi bertahan. Kesombongan dan keteguhan terakhir yang selama ini dia paksa untuk dipertahankan, pada saat ini benar-benar runtuh.
Dia menangis tersedu-sedu, tangisannya dipenuhi rasa sakit, keputusasaan, dan kebencian tanpa batas.
"Ibu ... maafkan aku ... maafkan aku ... aku nggak bisa menjaganya ... aku nggak bisa menjaga apa pun ...."
Henros menatap Valeria yang menangis seperti itu. Keputusasaan itu membuat jantungnya tiba-tiba terasa perih.
Dalam ingatannya, Valeria selalu arogan, mencolok, penuh duri, seperti nyala api yang membakar.
Wanita itu menghancurkan mobil, memacu kendaraan, membuat masalah, seolah-olah tak pernah tahu apa arti "sakit" dan "takut".
Henros belum pernah melihatnya selemah ini, seputus asa ini, sampai menangis tak terkendali seperti sekarang.
"Cukup!" katanya tiba-tiba.
Ekskavator pun berhenti. Henros melangkah ke hadapan Valeria, memberi isyarat pada para pengawal untuk melepaskannya.
"Rumahnya sudah dihancurkan. Masalah ini berakhir sampai di sini," katanya. "Ke depannya jangan lagi mencari masalah dengan Scarlet. Kalau nggak ...."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Valeria tiba-tiba mengangkat kepala.
Sorot matanya berubah.
Keputusasaan barusan lenyap, digantikan oleh keteguhan yang nyaris gila.
Dia menatap Henros, mengucapkan kata demi kata dengan jelas, "Henros, hal yang paling aku sesali dalam hidup ini adalah mengenalmu."
Jantung Henros tiba-tiba terasa tersentak. Baru saja hendak bicara, pandangan Valeria menggelap, tubuhnya limbung lalu roboh.
Henros tanpa sadar mengulurkan tangan menangkapnya.
Tubuhnya terasa sangat ringan. Sekujur tubuhnya terasa dingin, dan wajahnya sama sekali tak berwarna.
Menatap Valeria yang tak sadarkan diri di pelukannya, danau tenang di hatinya seolah akhirnya dilempari sebuah batu, memunculkan riak-riak kegelisahan.
Namun tak lama kemudian, dia teringat pada Scarlet.
Teringat wajahnya yang menangis, luka-luka di tubuhnya, dan semua penderitaan yang dialami wanita itu selama tiga tahun ini karena pernikahannya.
Riak-riak itu perlahan mereda kembali.
Nanti setelah Valeria sadar, dia akan memberinya sejumlah uang, lalu membelikan rumah yang lebih baik.
Bagaimanapun, Valeria tidak kekurangan.
Bagaimanapun, wanita itu selalu tampak santai dan tidak terlalu peduli.
Bagaimanapun, dia ... tidak pernah membutuhkan perhatian Henros.
Valeria terbangun lagi, berada di tempat tidurnya sendiri.
Dia menopang tubuh untuk duduk, seluruh tulangnya terasa seperti dibongkar dan dirakit ulang, setiap bagian menjerit kesakitan.
Pintu diketuk pelan, seorang pria muda bersetelan jas hitam masuk.
"Nona Valeria, Pak Henros menyuruh aku menyampaikan beberapa hal." Suara asistennya datar, "Pertama, pembongkaran vila di pinggiran kota sudah selesai."
"Kedua, Pak Henros berharap Anda nggak lagi mencari masalah dengan Nona Scarlet. Kalau nggak ...."
"Kalau nggak apa?" Valeria mengangkat kepala, matanya merah menyeramkan.
Asisten itu terdiam sejenak, lalu tetap melanjutkan, "Kalau nggak, beliau nggak menjamin nggak akan mengambil tindakan yang lebih keras."
Udara hening beberapa detik.
Lalu Valeria tiba-tiba tertawa.
Bahunya bergetar hebat, tawanya sampai mengalirkan air mata.
"Tindakan yang lebih keras?" Dia mengulanginya, sorot matanya perlahan mendingin. "Seberapa keras lagi? Membunuhku?"
Sang asisten tidak menanggapi, hanya meletakkan map dokumen di meja samping tempat tidur. "Ini adalah perjanjian kompensasi dari Pak Henros. Termasuk ganti rugi pembongkaran vila, serta ...."
Belum selesai dia bicara, Valeria meraih map itu dan membantingnya keras ke tubuh sang asisten.
"Pergi!"
Suaranya sangat pelan, tetapi dingin seperti es tajam.
Asisten mengerutkan kening, masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Valeria meraih gelas air di samping tempat tidur dan melemparkannya. "Aku bilang pergi! Apa kamu nggak mengerti bahasa manusia?"
Gelas kaca menghantam dinding dan pecah berhamburan. Asisten mundur selangkah, akhirnya tak berkata apa-apa lagi, lalu berbalik keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup, Valeria terduduk lemas di atas tempat tidur, seluruh tenaganya seolah terkuras habis.
Dia menatap langit-langit, matanya perih dan kering, tetapi setetes air mata pun tidak keluar.
Ternyata ketika hati benar-benar mati, seseorang bahkan tidak bisa menangis lagi.