Bab 7
Beberapa hari berikutnya, Valeria mengurung diri di dalam kamar.
Dia tidak makan dan tidak minum, tidak mengangkat telepon, tidak menemui siapa pun.
Makanan yang diantar para pelayan diletakkan di depan pintu, dingin lalu dipanaskan, panas lalu dingin kembali, hingga akhirnya diangkat pergi tanpa tersentuh.
Namun ada hal-hal yang tak bisa dikurung.
Misalnya ponsel.
Setiap hari pada waktu yang tetap, selalu ada video yang dikirim dari nomor tak dikenal.
Kadang itu Henros dan Scarlet sedang makan bersama, dia mengambilkan makanan untuknya, gerakannya lembut sampai menyakitkan mata.
Terkadang mereka sedang berbelanja. Pria itu menggenggam tangan Scarlet, menunduk dan mendengarkan saat Scarlet berbicara dengan senyum di sudut bibir.
Terkadang bahkan hanya Scarlet yang memamerkan hadiah baru dari Henros di depan kamera, dengan nada manis berkata, "Henros bilang warna ini cocok untukku."
Setiap kali, Valeria menontonnya sampai habis tanpa ekspresi, lalu menghapusnya.
Dia menghapus lalu menerima lagi, menerima lalu menghapus lagi, seperti siksaan tanpa akhir.
Setiap kali membuka, rasanya seperti menyayat hati dengan pisau, sampai hati itu penuh luka, hingga tak lagi mampu merasakan sakit.
Sore hari keempat, Valeria akhirnya bangkit dari tempat tidur.
Dia mandi, menatap wanita bermata cekung di cermin, lalu menarik sudut bibirnya.
Dia tak bisa terus seperti ini.
Dia mengenakan gaun hitam, merias wajah untuk menutupi kepucatan, dan baru hendak keluar ketika ponselnya berdering.
Itu panggilan dari sahabatnya, Juanita.
"Ria! Tolong aku!" Suara Juanita terdengar begitu panik sampai hampir menangis, "Grup orkestraku malam ini ada konser di Pusat Seni Pertunjukan Nasional, tapi aku terjebak macet di jalan tol! Paling cepat masih butuh dua jam lagi untuk sampai! Bisa nggak kamu menggantikanku dulu? Cukup mainkan lagu pembuka, 'Clair de Lune'."
Valeria tertegun. "Aku?"
"Ya! Bukankah kemampuan pianomu sejak kecil lebih baik dariku? Tolong ya Ria, konser ini sangat penting, menentukan apa orkestra kami bisa dapat sponsor paruh kedua tahun ini ...."
Juanita masih memohon di seberang sana, sementara Valeria justru melamun.
Piano ... sudah berapa lama dia tidak menyentuhnya?
Sejak ibunya meninggal, rasanya dia menjalani hidup sebagai orang lain.
Minum, dugem, berkelahi, sebisa mungkin memberontak, seolah dengan begitu dia bisa melupakan sakit kehilangan orang terdekat, melupakan rumah dengan suasana dingin setelah ayahnya menikah lagi.
Namun ada hal-hal yang terukir di tulang.
Seperti sensasi jari menekan tuts piano, seperti kehangatan nada yang mengalir dari ujung jari.
"Kirimkan alamatnya." Valeria mendengar dirinya berkata.
Gedung Pusat Seni Pertunjukan Nasional bersinar terang.
Henros duduk di barisan depan kursi VIP, jarinya mengetuk sandaran kursi tanpa ritme.
Dia tak pernah terlalu tertarik pada musik klasik. Kalau bukan karena Scarlet bilang menyukainya, dia tak akan datang ke tempat seperti ini.
"Henros, kamu bosan ya?" Scarlet mendekat dan berbisik, "Aku lihat kamu terus main ponsel."
Henros menyimpan ponselnya dan menarik sudut bibir. "Nggak."
"Masih bilang nggak." Scarlet meliriknya manja. "Kalau tahu kamu nggak tertarik pada konser, kita seharusnya nggak datang."
"Kalau kamu suka, menemanimu juga sudah seharusnya." Henros merangkul bahunya, suaranya penuh nada memanjakan.
Scarlet tersenyum manis dan bersandar di bahunya.
Lampu meredup pada saat itu.
Seluruh aula menjadi sunyi, tirai panggung perlahan terbuka, para anggota orkestra naik satu per satu.
Dari kursi penonton terdengar tarikan napas pelan, semua mata tertuju pada sosok di depan piano.
Seorang wanita dalam balutan gaun panjang hitam duduk di bangku piano, punggungnya tegak, sisi wajahnya di bawah sorot lampu panggung tampak indah hingga terasa tak nyata.
Dia sedikit menundukkan mata, jari-jarinya dengan ringan bertumpu di atas tuts, seperti lukisan minyak yang membeku.
Gerakan Henros yang mengetuk sandaran kursi mendadak terhenti.
Dia menyipitkan mata, menatap orang di atas panggung.
Itu ... Valeria?
Dia hampir mengira dirinya salah lihat.
Namun wajah itu, garis itu, sifat liar yang memancar dari tulangnya, selain Valeria, tak mungkin ada orang kedua.
Namun bagaimana mungkin dia ada di sini? Bahkan mengenakan gaun resmi dan bermain piano?
Kening Henros tanpa sadar mengerut.
Dalam ingatannya, Valeria sama sekali tak ada hubungannya dengan kata "anggun" atau "seni". Dia seharusnya mengenakan jaket kulit memecahkan botol di bar, atau mengendarai mobil sport melaju kencang di lintasan.
Bukan seperti sekarang, duduk di panggung yang disorot ribuan mata, seperti seorang seniman sejati.
Musik pun mengalun pada saat itu.
"Clair de Lune" karya Debussy, melodi lembut dan melankolis itu pun mengalir dari ujung jari Valeria.
Jarinya menari di atas tuts, terampil seolah telah memainkannya ribuan kali.
Henros lupa mengalihkan pandangan.
Dia menatap wajah samping Valeria yang tenggelam dalam musik, menatap bulu matanya yang sedikit bergetar, menatap bibirnya yang terkatup lembut karena fokus, sebuah ketenangan dan kesungguhan yang belum pernah dia lihat dari Valeria.
Seolah pada saat itu, dunia hanya tersisa dia dan piano itu.
Seolah pada saat itu, dia bukan lagi nona besar yang arogan dan semena-mena, melainkan kembali ke bertahun-tahun lalu, gadis kecil yang mengenakan gaun putih dan berlatih piano di ruang musik.
Satu lagu berakhir, gema nada masih menggantung.
Seluruh aula hening beberapa detik, lalu meledak dengan tepuk tangan meriah.
Valeria berdiri, membungkuk ringan ke arah penonton, lalu berbalik menuju belakang panggung.
Lampu kembali terang, barulah Henros tersadar.
"Henros?" Scarlet menarik lengan bajunya. "Ada apa denganmu? Dari tadi menatap panggung terus."