Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 1

Setelah mengalami keguguran, Camelia Darian berubah menjadi sosok istri yang selama ini diidamkan oleh James Safran. Dia tidak lagi menceritakan momen kesehariannya, tidak lagi menelepon sepanjang malam saat suaminya tidak kunjung pulang. Bahkan ketika dijebak hingga harus berurusan dengan polisi, dia hanya menjawab dengan tenang bahwa dia tidak memiliki keluarga saat pihak kepolisian memintanya memanggil keluarganya sebagai penjamin agar bisa bebas. Kemudian, dia menjalani masa penahanan selama satu minggu tanpa bantahan. Tujuh hari kemudian, di suatu senja, gerbang besi kantor polisi berdenting terbuka. Baru saja Camelia menuruni anak tangga, sebuah mobil Maybach hitam mendadak berhenti tepat di hadapannya. Pintu terbuka, lalu James turun dengan setelan jas khususnya yang sempurna. Pria itu tampak jangkung dan tegap, tetap memancarkan aura dingin yang mulia, serta pesona yang tenang. Dia tampak seperti rembulan yang agung, tetapi tidak tersentuh. Pria itu melangkah mendekat dengan kening yang sedikit berkerut. "Camelia, kenapa kamu nggak meneleponku saat ditindas seperti ini?" Camelia tersenyum simpul. "Meneleponmu? Memangnya ponselmu aktif?" Dalam perjalanan pulang kerja kemarin, seorang pria lanjut usia tiba-tiba terjatuh di depan mobil Camelia. Saat dia turun untuk menolong, orang itu justru mencengkeram lengannya sambil berteriak, "Ada yang menabrak seseorang! Gadis ini ingin kabur setelah menabrakku!" Meskipun rekaman kamera pengawas membuktikan bahwa Camelia tidak bersalah, prosedur tetap mewajibkan adanya tanda tangan anggota keluarga sebagai penjamin sebelum dia diizinkan pergi. Camelia mengatakan bahwa dia tidak memiliki keluarga, tetapi polisi tidak percaya. Mereka memeriksa data pendaftaran pernikahan, lalu menemukan nomor telepon James. Mereka pun mencoba menghubunginya. Mereka menghubunginya puluhan kali, tetapi ponselnya selalu tidak aktif. Ekspresi James sedikit berubah. "Semalam lambung Luna sakit, aku menemaninya ke rumah sakit. Dia nggak suka keributan, jadi aku mematikan ponselku." Pria itu terdiam sejenak, lalu suaranya merendah, "Maafkan aku." "Nggak apa-apa," jawab Camelia. "Lagi pula, aku memang nggak berniat memintamu datang. Fokuslah pada urusanmu sendiri." Nada suara Camelia terlalu tenang, sementara tatapannya pun begitu acuh tak acuh, seperti genangan air mati yang tidak akan terusik oleh riak sekecil apa pun. James menatapnya, lalu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Tangan pria itu terasa panas, sementara tenaganya cukup kuat hingga membuat Camelia mengernyit. "Kenapa kamu nggak marah?" James menatap tajam ke arahnya. Ada kebingungan di matanya, juga secercah rasa gelisah yang enggan dia akui. Camelia merasa semua ini lucu. "Untuk apa aku marah? Kamu sudah memberikan alasan, lalu aku sudah menyatakan pengertianku. Nggak ada yang perlu dimarahi." "Camelia ...." "Aku lelah, aku ingin pulang." Camelia menarik tangannya kembali, lalu berjalan melewati pria itu menuju pintu mobil. James berdiri diam di tempat, menatap punggung istrinya. Setelah tujuh hari tidak melihatnya, tubuh Camelia tampak jauh lebih kurus. Kemeja yang dia kenakan terlihat begitu longgar di badannya. Dulu, jika diabaikan sedikit saja, mata Camelia akan memerah, lalu dia akan merajuk dengan sedih, "James, apa kamu nggak pernah peduli padaku?" Saat itu, James menganggap wanita itu bersikap berlebihan dan kekanak-kanakan. Namun, ketika dia tidak lagi mengeluh dan hanya mengangguk patuh pada semua ucapannya sekarang, James justru merasa ... gelisah. Suasana di dalam mobil sangat sunyi. Sopir berkonsentrasi mengemudi di depan, sementara Camelia duduk di kursi belakang sambil menatap pemandangan kota yang berlalu cepat di balik jendela. Camelia tidak lagi seperti dulu, yang begitu masuk ke mobil akan langsung menatap suaminya dengan mata penuh pujaan, berusaha mencari topik pembicaraan apa pun meski hanya dibalas dengan nada dingin. Camelia bisa berbicara sendiri untuk waktu yang lama. Sekarang, dia hanya duduk diam, seolah-olah pria di sampingnya itu tidak ada. James akhirnya tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Apa kamu masih merajuk tentang kejadian waktu itu?" Camelia menoleh, sementara tatapannya tampak tenang. "Nggak, semua sudah berlalu." "Lalu, kenapa kamu ...." "James." Camelia memotong ucapannya, "Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apa kamu ingin aku terus menempel padamu seperti dulu, atau kamu ingin aku seperti sekarang, nggak berisik dan memberimu kebebasan penuh?" James terdiam karena pertanyaan itu. Seharusnya dia merasa senang jika Camelia tidak lagi membuat keributan tentang Luna. Namun, saat wanita itu mengabulkan keinginannya, James malah merasa ada sesuatu yang ... salah. Semuanya terasa salah. "Aku hanya merasa kamu berubah," gumam James dengan suara rendah. Camelia kembali menatap ke luar jendela. Berubah? Mungkin saja. Seseorang yang sedang mencintai dan yang sudah tidak mencintai lagi memang adalah dua sosok yang berbeda. Keheningan kembali menyelimuti mereka. James ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Luna. Begitu James menjawab panggilan, suara manja Luna langsung terdengar, "Kak James, kamu ada di mana? Aku sedang di mal. Aku berbelanja banyak sekali, jadi aku nggak mampu membawanya. Bisakah kamu menjemputku?" James melirik ke arah Camelia. Istrinya itu tetap menatap keluar jendela, seolah tidak mendengar apa pun. Rasa kesal tiba-tiba menyerang James. "Luna, kamu sudah dewasa, jangan selalu bergantung padaku. Lagi pula, kita sudah nggak memiliki hubungan apa-apa lagi." "Tapi kamu sudah memanjakanku selama bertahun-tahun, jadi aku sudah terbiasa," jawab Luna dengan nada menuntut. "Dulu kalau aku memintamu menjemputku, kamu nggak pernah menolak." "Itu adalah masa lalu." Suara James menjadi dingin, "Dulu kamu adalah pacarku, tapi sekarang aku sudah menikah." "Menikah?" Luna tertawa sinis. "Apa dia benar-benar ada di hatimu? Kak James, jangan membohongi dirimu sendiri. Kalau kamu nggak datang, aku akan mencari pria lain untuk membantuku. Lagi pula, ada banyak pria yang bersedia untuk membantuku membawa barang." James mencengkeram ponselnya dengan erat. Luna terlalu mengenalnya. Wanita itu tahu bahwa James paling tidak suka jika Luna berpaling pada pria lain. "Tunggu di sana," ucap James sambil menggertakkan gigi sebelum mematikan sambungan. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah istrinya. "Camelia, aku ...." "Aku akan pulang naik taksi," Camelia sudah mendorong pintu mobil terbuka. "Jemputlah dia." Gerakan Camelia begitu cepat hingga James tidak sempat bereaksi. "Camelia!" James turun mengejarnya, menahan lengannya, lalu berujar, "Hubungan kami berdua benar-benar sudah berakhir. Tapi kami tumbuh besar bersama, keluarga kami juga saling mengenal. Aku nggak bisa memutuskan hubungan begitu saja." "Aku tahu." Camelia mengangguk. "Aku mengerti." Dua kata ini keluar dari dalam mulut Camelia seperti robot, tanpa emosi sedikit pun. Ketika melihat sikap istrinya yang seolah tidak peduli lagi pada hidup dan mati hubungan mereka, kemarahan tanpa nama dalam hati James makin membara. Namun, ponselnya kembali berdering. Luna terus mendesaknya. "Kamu pulanglah dulu, aku akan kembali ...." Kalimatnya terputus karena Camelia sudah memanggil taksi. Wanita itu masuk ke dalam mobil, menutup pintu, bahkan tidak menoleh ke arahnya lagi. Taksi itu melesat pergi. James berdiri terpaku menatap lampu belakang mobil yang menghilang di tengah keramaian jalan. Untuk pertama kalinya, dia merasa ... ada sesuatu yang benar-benar telah berubah. Pada saat yang sama di dalam taksi, ponsel Camelia berdering. Itu adalah telepon dari departemen sumber daya manusia perusahaannya. "Bu Camelia, permohonan penempatanmu di luar negeri sudah disetujui." Suara di ujung lain telepon terdengar ceria, "Selamat! Kali ini kamu akan pergi ke kantor pusat di Aropa. Ini adalah kesempatan langka. Tapi ... apa suamimu nggak akan keberatan? Bagaimanapun juga, durasinya nggak menentu, jadi kalian harus menjalani hubungan jarak jauh." Camelia menatap lampu-lampu neon yang berkelebat di luar jendela, lalu menjawab dengan suara yang sangat pelan, "Aku nggak memiliki suami. Di hari yang sama saat aku mengajukan penempatan di luar negeri, aku juga sudah mengajukan gugatan cerai. Begitu surat cerai keluar, aku akan langsung berangkat."
Previous Chapter
1/24Next Chapter

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.