Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 2

Keheningan menyelimuti ujung lain telepon selama beberapa detik. "Apa kamu serius? Dulu kamu begitu mencintainya, bahkan merelakan begitu banyak kesempatan emas demi dia. Bagaimana bisa tiba-tiba ...." Camelia tersenyum simpul, lalu menggelengkan kepala. "Sekarang aku sudah nggak mencintainya lagi." Setelah mematikan telepon, dia menyandarkan kepalanya di jendela mobil, lalu memejamkan mata. Selama bertahun-tahun ini, hampir semua orang mengetahui betapa Camelia mencintai James. Dia begitu mencintai pria itu hingga kehilangan jati diri, begitu mencintainya hingga merendahkan dirinya seperti debu. Namun, Camelia sudah lelah. Mencintai seseorang yang hatinya selalu terisi orang lain itu sungguh menyesakkan. Saat Camelia berusia 18 tahun dan menjadi mahasiswi baru, dia pertama kali melihat James di acara penghargaan kampus. Hari itu matahari bersinar cerah. James berdiri di atas panggung dengan mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam. Pria itu tampak begitu terhormat, sosok pemuda idaman yang membuat hampir seluruh gadis di bawah panggung merona. Camelia adalah salah satunya. Namun, tidak ada yang memiliki kesempatan untuk mendekatinya. Karena semua orang mengetahui bahwa hati James hanya milik Luna, teman masa kecilnya. Luna adalah orang yang manja, suka membuat masalah, serta pemarah. Namun, James begitu memuja dan memanjakannya. Semua orang mengatakan bahwa James sangat mencintai wanita itu. Seberapa lama James mencintai Luna, selama itulah Camelia mencintai pria itu secara sembunyi-sembunyi. Hingga akhirnya Luna melarikan diri dari rencana pernikahan mereka berkali-kali. Pertama kalinya, wanita itu beralasan dirinya masih terlalu muda. Kedua kalinya, wanita itu beralasan dia merasa gugup menjelang pernikahan. Ketiga kalinya, wanita itu merasa James kurang mencintainya. ... Hingga kesembilan kalinya, di malam sebelum pernikahan, Luna menelepon dari luar negeri, "Kak James, setelah aku memikirkannya, kebebasan jauh lebih berharga. Bagaimana kalau kita tunda pernikahannya dulu? Aku ingin bermain di luar negeri selama beberapa tahun lagi!" Saat itu, James tidak lagi mengejarnya. Pria itu sempat terpuruk untuk beberapa saat sebelum akhirnya mulai menerima kencan buta yang diatur keluarganya. Dia menemui satu demi satu wanita, tetapi tidak pernah ada kelanjutannya. Ketika Camelia mendengar kabar itu, jantungnya berdetak kencang. Dia menggunakan segala koneksi demi mendapatkan kesempatan untuk melakukan kencan buta dengan James. Hari itu, entah apa yang merasukinya, Camelia mengenakan gaun yang modelnya serupa dengan milik Luna. Benar saja, saat pertama kali James melihatnya, pria itu tertegun. James menatapnya lama, lalu berkata, "Ayo kita menikah." Pada saat itu, jantung Camelia yang tadinya berdetak kencang tiba-tiba mencelos. Camelia tahu bahwa pria itu menatapnya hanya untuk mencari bayangan orang lain. Namun, Camelia tetap mengangguk. Karena dia terlalu mencintai pria itu. Begitu mencintai hingga dia tetap ingin berada di sisi pria itu meski tanpa perasaan sedikit pun. Setelah menikah, mereka hidup dengan saling menghormati, tetapi semuanya terasa asing. James memperlakukannya dengan sangat baik, tidak pernah pelit dalam hal materi, juga selalu memberinya segala kehormatan sebagai seorang istri. Namun, Camelia tahu bahwa itu bukan cinta. Pria itu tidak pernah menyentuhnya atas keinginan sendiri. Hanya saat Camelia mengenakan pakaian yang mirip dengan Luna, James akan kehilangan akal, memeluknya erat, lalu membisikkan nama Luna. Setiap kali itu terjadi, Camelia berpura-pura tidak mendengar. Lima tahun berlalu begitu saja. Camelia mengira hari-hari mereka akan terus berjalan selamanya, hingga Luna kembali. Saat itu bertepatan dengan usia kehamilan Camelia yang menginjak tiga bulan. Perutnya tiba-tiba terasa sangat sakit. Dia mendekap perutnya, hendak menelepon ambulans, tetapi Luna justru muncul di depan pintunya. "Jadi, kamu yang namanya Camelia itu?" Luna memperhatikannya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Aku dengar kamu merebut posisiku saat aku nggak ada?" Wajah Camelia memucat karena menahan sakit. Dia tidak memiliki tenaga untuk berdebat, hanya ingin segera pergi ke rumah sakit. Namun, saat dia mencoba melewati Luna, wanita itu menghalanginya. Di tengah pertikaian itu, Camelia yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, langsung mendorongnya. Luna terhuyung ke belakang, kepalanya membentur kusen pintu, lalu darah segar langsung mengalir. Malam itu juga, James mengurung Camelia di ruang isolasi sebagai hukuman. Perutnya terasa sangat sakit. Rasanya seperti ada pisau yang mengaduk-aduk di dalam sana. Camelia menggedor pintu, lalu berteriak berulang kali, "James ... tolong aku .... Anak kita ... anak kita ...." Namun, tidak ada seorang pun yang datang. Camelia meringkuk kesakitan di lantai. Dia merasakan cairan hangat mengalir di selangkangannya. Ketika merabanya, tangannya penuh dengan darah. Akhirnya, dia pingsan karena rasa sakit yang tak tertahankan. Saat terbangun, Camelia sudah berada di rumah sakit. Bayinya telah tiada. James berdiri di sisi tempat tidur sambil menatapnya dengan perasaan bersalah. "Ini salahku. Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan memberikanmu anak lagi." "Kalau waktu itu kamu nggak mendorong Luna, aku nggak akan mengurungmu. Dia memiliki gangguan pembekuan darah. Doronganmu itu hampir merenggut nyawanya. Aku hanya terbawa emosi saat itu. Aku akan menebusnya ...." Detik itu juga, Camelia tertawa. Dia tertawa kencang hingga air matanya mengalir deras. "James, menurutmu kompensasi macam apa yang bisa menggantikan satu nyawa?" balas Camelia. Itulah pertama kalinya, sekaligus terakhir kalinya Camelia menangis di depan pria itu. Sejak saat itu, dia berubah. Camelia diam-diam mengajukan gugatan cerai, lalu meminta penempatan kerja di luar negeri kepada perusahaannya. Camelia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi antara James dan Luna. Karena Camelia sudah tidak mencintai pria itu lagi.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.