Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 5

Hari-hari berikutnya, Camelia fokus memulihkan diri di rumah sakit. James datang beberapa kali membawa bunga dan suplemen mahal. Namun, pria itu tidak pernah tinggal lama, sementara ponselnya selalu sibuk. Camelia tidak mengeluh ataupun merajuk. Apa pun yang dikatakan pria itu, dia hanya akan menjawab dengan gumaman singkat. Sikap ini membuat James merasa seperti sedang meninju tumpukan kapas, membuatnya merasa tak berdaya Pada hari Camelia keluar dari rumah sakit, James membawa persembahan dan pergi bersama Camelia menuju pemakaman di pinggiran kota. Camelia menatap pemandangan di luar jendela yang makin lama makin tidak asing, sembari merasakan sensasi konyol di benaknya. Sudah lima tahun berlalu, tetapi ini adalah pertama kalinya James datang berziarah ke makam ibunya dengan status sebagai menantu. Pemakaman itu sangat sunyi. Angin bertiup melewati pepohonan pinus, menciptakan suara desiran yang halus. James berdiri di depan batu nisan, menatap foto wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Camelia. Dia terdiam cukup lama. "Ibu," ucap pria itu dengan suara parau. "Maaf, butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk datang mengunjungimu." "Mulai sekarang aku akan menjaga Camelia dengan baik. Ibu jangan khawatir," lanjut James. "Aku nggak akan membiarkannya menderita lagi." Camelia menatap wajah lembut ibunya di foto itu dengan ekspresi mati rasa. Camelia berkata dalam hati, 'Bu, apa kamu mendengarnya?' Pria yang Camelia cintai selama sepuluh tahun mengatakan dia akan menjaganya dengan baik. Namun, kata-kata itu sudah terlambat. Sangat terlambat hingga Camelia tidak lagi membutuhkannya. Setelah berziarah, James membawa Camelia ke sebuah restoran yang selama ini ingin Camelia kunjungi. Itu adalah restoran barat yang sangat sulit untuk dipesan. Dulu Camelia sudah berkali-kali mengajaknya, tetapi James selalu beralasan tidak memiliki waktu. Hari ini, pria itu menyewa seluruh restoran, lalu menyiapkan makan malam romantis dengan cahaya lilin. "Aku ingat kamu pernah mengatakan ingin datang ke sini." James menarik kursi untuknya. "Cobalah, lihatlah apakah restoran ini sesuai dengan seleramu." Camelia duduk sambil menatap hidangan indah di hadapannya tanpa sedikit pun emosi di hatinya. Di tengah jamuan, ponsel James berdering lagi. Itu adalah telepon dari Luna lagi. Suaranya yang penuh kemarahan terdengar begitu nyaring hingga bisa didengar oleh Camelia, "James! Kamu menghabiskan waktu berhari-hari untuk menyiapkan pesta ulang tahun yang megah untukku, tapi kenapa kamu sendiri nggak datang?" James mengerutkan kening, lalu melirik Camelia. Istrinya itu sedang memotong steik dengan gerakan anggun dan ekspresi tenang, seolah tidak mendengar apa pun. "Aku sedang ada urusan," jawab James dengan suara rendah. "Urusan apa yang lebih penting dari ulang tahunku? Kamu harus segera datang. Kalau nggak, aku nggak akan mau merayakan ulang tahun ini!" teriak Luna. James yang merasa terdesak, akhirnya mematikan telepon. Pria itu menatap Camelia, hendak menjelaskan sesuatu, tetapi Camelia sudah meletakkan pisau dan garpunya. "Pergilah," ucap Camelia. "Lagi pula, aku sudah selesai makan." "Camelia, Luna baru saja kembali ke tanah air dan ingin mengumpulkan semua temannya. Tapi dia nggak bisa mengurus pesta, jadi aku membantunya sedikit." James mencoba menjelaskan, "Aku nggak memiliki maksud lain." "Aku tahu." Camelia mengangguk. "Aku mengerti." Kalimat yang sama lagi. Rasa kesal kembali meluap di hati James. "Aku akan membawamu bersamaku," ujar James tiba-tiba. "Pestanya ada di dekat sini. Kita bisa langsung pergi setelah datang sebentar. Anggap saja ini sebagai cara untuk bersantai." Camelia ingin menolak, tetapi James sudah berdiri. "Ayo." Pesta ulang tahun Luna diadakan di aula sebuah hotel mewah. Ketika James dan Camelia tiba, ruangan itu sudah dipenuhi banyak orang. Luna mengenakan gaun merah yang mencolok, tampak seperti burung merak yang sombong di tengah kerumunan. Begitu melihat James, matanya langsung berbinar. Dia mengangkat gaunnya, berlari mendekat, lalu berujar, "Kak James! Akhirnya kamu datang!" Luna langsung merangkul lengan James, benar-benar mengabaikan Camelia yang berdiri di sampingnya. "Luna." James mengernyitkan kening, mencoba menarik lengannya. "Kak James, temani aku untuk dansa pembukaan!" rengek Luna. "Sudah lama sekali kamu nggak menemaniku berdansa." James menoleh ke arah Camelia. Istrinya sedang menatap ke arah lain, seolah sedang mengagumi lukisan di dinding. "Camelia ..." panggil James. "Pergilah," kata Camelia. "Aku akan mengambil makanan di sana." Setelah berkata demikian, Camelia berbalik menuju meja prasmanan. James tertegun. Dulu, meski James hanya berbicara sepatah kata dengan Luna, mata Camelia akan memerah saat menatapnya. Namun, sekarang wanita itu justru secara sukarela mendorongnya ke tangan wanita lain?

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.