Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 6

James ditarik ke lantai dansa oleh Luna dalam kondisi setengah linglung. Ketika musik mengalun, James merangkul pinggang Luna, tetapi matanya tidak berhenti melirik ke arah Camelia yang berada di sudut ruangan. Istrinya itu berdiri di depan meja prasmanan, memakan sepotong kecil kue dengan tenang. Ekspresinya tenang, tatapannya acuh tak acuh, seolah dia hanyalah tamu asing di pesta orang yang tak dikenal. Ketika Luna menyadari bahwa pria itu tidak fokus, dia mulai merasa kesal. "Kalau kamu begitu peduli padanya, temani saja dia. Aku akan mencari pria lain untuk berdansa denganku." Setelah berkata demikian, Luna melepaskan tangan James, lalu berbalik menuju seorang pria dengan setelan putih. Pria itu adalah teman kuliah Luna yang sudah lama memendam rasa padanya. Begitu melihat Luna mendekat, pria itu segera mengulurkan tangan dengan penuh semangat. Luna menyambutnya, lalu keduanya meluncur ke tengah lantai dansa. James berdiri terdiam di tempatnya. Wajahnya perlahan menggelap saat melihat Luna tertawa lepas bersama pria itu. Seolah sengaja ingin memancing amarahnya, Luna menempel makin dekat dengan pria itu, bahkan membisikkan sesuatu ke telinga si pria. Pria itu tertawa, lalu menunduk untuk mengecup pipi Luna. Gelas anggur di tangan James pecah berkeping-keping. Darah segar bercampur cairan anggur mengalir dari jemarinya, tetapi dia seolah tidak merasakan perihnya. James bergegas maju, mencengkeram pergelangan tangan Luna, lalu menyeretnya keluar dari lantai dansa. "James! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" teriak Luna sambil meronta. Wajah James tampak pucat menahan amarah. Dia menyeret paksa Luna keluar dari aula pesta tanpa sepatah kata pun, lalu menuju balkon yang sepi dan terbuka. Pria itu menekan Luna ke pagar balkon yang dingin, lalu suaranya bergetar menahan luapan kemarahan, "Luna, apa kamu nggak punya rasa malu?" Luna tersentak dengan ledakan amarah James, tetapi sedetik kemudian dia ikut meledak. Luna menepis tangan James dengan kuat. "Aku nggak punya malu? Aku belum menikah, dia juga belum menikah. Kami melakukannya atas dasar saling suka, apa masalahnya? James, memangnya kamu siapa? Atas dasar apa kamu mengaturku? Sebagai mantan pacar? Atau sebagai suami orang lain?" "Kamu ...." Kalimat itu menusuk James hingga matanya memerah. Benang kewarasannya putus seketika. Saat menatap wajah wanita yang telah dia cintai selama bertahun-tahun, sebuah emosi kompleks antara keinginan untuk memiliki, rasa tidak rela, serta kegelisahan yang tak mampu dia definisikan, tiba-tiba meruntuhkan seluruh pertahanannya. James menundukkan kepala, lalu mencium bibir Luna dengan penuh gairah! Itu bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman penuh hukuman dan penjarahan, buas serta mendominasi. Luna menegang sesaat, tetapi matanya kemudian berkilat penuh kemenangan. Dia tidak meronta, justru mengalungkan lengan ke leher James, lalu membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Kaca balkon itu terbuat dari bahan yang buram, yang membuat orang di luar tidak bisa melihat dengan jelas. Namun, Camelia yang berdiri di sudut ruangan, bisa melihat segalanya melalui celah kecil di antara pintu kaca. Camelia melihat James mencium Luna. Dia melihat Luna merangkul leher pria itu. Dia melihat betapa mereka saling memuja satu sama lain dalam ciuman bergairah itu. Tidak ada rasa sakit di hati Camelia. Yang tersisa hanyalah sensasi mati rasa yang konyol. Ciuman itu berlangsung lama hingga keduanya terengah-engah. James mendadak mendorong Luna menjauh, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk. Dia menatap bibir Luna yang basah kemerahan, serta tatapan matanya yang sayu. Jantung James berdetak kencang, lalu disusul oleh rasa panik yang hebat, serta kebencian pada dirinya sendiri. "Maafkan aku." James memalingkan wajah, sementara suaranya terdengar sangat serak dan penuh rasa bersalah yang memalukan, "Aku ... aku terlalu banyak minum. Aku mengira kamu Camelia." Luna jelas tidak percaya dengan alasan itu. Dia melangkah maju, memeluk pinggang James, menatapnya, lalu berbicara dengan nada yang penuh isakan. "Di hatimu nggak pernah ada Camelia, bagaimana mungkin kamu menganggapku dirinya? Berhentilah membohongi dirimu sendiri! Kamu masih mencintaiku, kamu nggak bisa melepaskanku!" "Kak James, ayo kita berhenti saling menyiksa. Ceraikan Camelia, lalu kita bisa kembali bersama. Aku berjanji nggak akan bersikap egois seperti sebelumnya. Aku akan mencintaimu dan menjadi istri yang baik untukmu, oke?" Cerai? Kembali bersama? Dua kata itu meledak di telinga James seperti petir. Pria itu seolah tersengat, langsung mendorong Luna menjauh, lalu membentak, "Jangan berbicara sembarangan! Aku nggak akan menceraikan Camelia!" "Kenapa? Hanya karena dia mengikutimu seperti anjing selama lima tahun?" tanya Luna dengan suara melengking. "James, sampai kapan kamu akan terus berlari dari perasaanmu sendiri? Kalau memang di hatimu sudah nggak ada diriku, lebih baik aku mati saja!" Setelah mengatakan itu, Luna berbalik untuk berlari menuju tepi balkon, seolah benar-benar ingin melompat. "Luna! Apa kamu sudah gila?" James yang panik langsung bergegas mengejarnya. Tepat pada saat itu, lampu kristal raksasa yang menggantung di plafon tiba-tiba mengeluarkan suara derit yang memilukan, lalu jatuh menghantam ke bawah! Posisi jatuhnya tepat mengarah ke kepala Luna! "Awas!" Pupil mata James mengecil. Tanpa pikir panjang, dia menggunakan tubuhnya untuk melindungi Luna dengan erat dalam pelukannya. Kemudian, James memutar tubuh mereka agar jatuh ke samping! Bum! Prang! Lampu kristal yang berat itu menghantam lantai, hancur berkeping-keping. Pecahannya melesat ke segala arah. Punggung James tergores oleh serpihan besar, membuat darah langsung merembes membasahi jas mahalnya. "Kak James! Apa kamu nggak apa-apa? Kamu berdarah!" Luna berteriak histeris sambil menangis. Orang-orang di aula pesta yang terkejut oleh suara dentuman keras itu berhamburan keluar. Suasana langsung kacau. Ada yang memanggil ambulans, ada pula yang mencoba menolong. Camelia berdiri di pinggiran kerumunan. Hatinya tidak terusik sedikit pun. Dia hanya merasa sandiwara di depannya ini sungguh konyol dan menyakitkan mata. Camelia tidak melangkah maju, tidak bertanya, bahkan tidak berlama-lama sedetik pun. Di tengah suara sirine ambulans yang memekik telinga, Camelia berbalik untuk pergi dalam diam.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.