Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 8

"Kamu ...." Luna benar-benar marah ketika melihat tatapan meremehkan dan rasa iba yang tidak ditutup-tutupi dari mata Camelia. Dia melirik pagar balkon dekoratif yang rendah di belakang Camelia, lalu sebuah kilatan kejam melintas di matanya. "Mati saja kamu!" Luna tiba-tiba mengulurkan tangan untuk mendorong Camelia sekuat tenaga! Camelia yang tidak siap, langsung kehilangan keseimbangan, lalu tubuhnya terjatuh ke belakang! Di detik ketika dia terjatuh keluar balkon, insting bertahan hidup membuat Camelia tanpa sadar menggapai udara. Entah bagaimana, tangannya berhasil mencengkeram pergelangan tangan Luna yang belum sempat ditarik kembali! "Ah!" Keduanya memekik bersamaan. Separuh tubuh Camelia sudah melayang di udara. Seluruh hidupnya sekarang hanya bergantung pada satu tangan yang mencengkeram erat pergelangan tangan Luna. Luna pun ikut terseret hingga tersungkur di tepian pagar. Dengan nyawa di ujung tanduk, tangan Luna yang lain mencengkeram pagar besi sekuat mungkin agar tidak ikut terjatuh. "Tolong! Kak James! Tolong aku!" teriak Luna dengan histeris. Orang-orang di aula pesta tersentak, langsung bergegas menuju balkon. James berlari paling depan. Ketika melihat pemandangan mengerikan itu, wajahnya langsung berubah sepucat kertas. "Kak James! Tolong aku! Aku mau jatuh! Cepat tarik aku ke atas!" Luna menangis tersedu-sedu, lalu mengulurkan tangannya yang sedang mencengkeram pagar ke arah James. Tatapan James berkelebat cepat antara Camelia yang sedang menggertakkan gigi tanpa suara, lalu Luna yang menangis histeris meminta pertolongan. Dalam sekejap, James menerjang maju tanpa keraguan sedikit pun, lalu langsung menyambar tangan yang diulurkan Luna! "Camelia, bertahanlah sebentar!" James menunduk menatapnya, suaranya gemetar, "Setelah aku menarik Luna ke atas, aku akan segera menyelamatkanmu!" Camelia menatap pria itu, lalu dia tiba-tiba tersenyum. Camelia melepaskan genggamannya. Tubuh Camelia terjatuh bebas di udara, sementara suara angin menderu di telinganya. Hingga akhirnya Camelia menghantam permukaan kolam renang di bawah sana. Air terciprat ke berbagai arah. Air kolam yang dingin menenggelamkan Camelia. Dia memejamkan mata, lalu kehilangan kesadaran. Ketika terbangun lagi, Camelia sudah berbaring di tempat tidur kamarnya sendiri. Tubuhnya sudah mengenakan piama bersih, sementara luka-lukanya sudah diobati. Kamar itu kosong. Dia mengambil ponselnya, melihat sebuah pesan singkat dari James. [Camelia, Luna sangat ketakutan. Aku akan mengantarnya ke rumah sakit dulu. Beristirahatlah dengan baik, aku akan menjelaskan semuanya saat aku kembali. Aku akan memberimu kompensasi.] Kompensasi. Lagi-lagi kompensasi. Camelia menatap kata itu dengan rasa geli yang getir. Jika seseorang benar-benar mencintaimu, kata kompensasi tidak akan pernah digunakan. Camelia berpikir, 'James, aku sudah nggak mencintaimu lagi.' Oleh karena itu, kompensasi ini sama sekali tidak berharga bagi Camelia. Satu-satunya harapan Camelia sekarang adalah memutuskan semua ikatan dengan pria itu sesegera mungkin, lalu pergi sejauh mungkin dari sini. Ponselnya berdenting lagi. Kali ini adalah pesan dari Kantor Catatan Sipil. [Bu Camelia, surat ceraimu dan Pak James sudah selesai diproses. Silakan mengambilnya dalam waktu tiga hari kerja.] Surat cerainya ... sudah keluar. Camelia menggenggam ponselnya, menatap pesan itu untuk waktu yang lama. Kemudian, dia mengembuskan napas panjang secara perlahan. Tarikan napas itu seolah membuang seluruh rasa sakit, luka, perjuangan, serta ketidakrelaan selama lima tahun pernikahan ini. Camelia menyibakkan selimut, turun dari tempat tidur, lalu mulai merapikan sisa barangnya. Sebenarnya, tidak banyak lagi yang perlu dibereskan, sebagian besar sudah dia kemas. Camelia memasukkan beberapa potong baju terakhir ke dalam koper, lalu menutup ritsletingnya. Kemudian, Camelia mengeluarkan ponsel untuk memesan tiket pesawat ke Aropa. Keberangkatannya adalah jam tiga sore ini. Camelia menyeret koper turun ke lantai bawah. Kepala pelayan yang melihatnya langsung tertegun. "Bu Camelia, kamu mau ke mana?" "Aku akan pergi," jawab Camelia. "Terima kasih karena sudah merawatku selama ini." Kepala pelayan berujar, "Apa yang kamu katakan? Pak James, dia ...." "Kami sudah bercerai." Camelia tersenyum simpul. "Mulai hari ini, aku bukan lagi istrinya." Camelia menyeret kopernya keluar dari vila, lalu naik taksi menuju Kantor Catatan Sipil. Ketika memegang surat cerai itu, Camelia membukanya sekilas. Di dalamnya ada fotonya dan James yang sama-sama tanpa ekspresi. Baguslah. Akhirnya semua berakhir. Camelia pergi ke bandara, menyelesaikan seluruh prosesnya, lalu duduk di ruang tunggu. Ponselnya berdering. Itu adalah telepon dari James. Camelia tidak mengangkatnya. Pria itu menelepon lagi, berulang kali. Akhirnya, Camelia mematikan ponselnya. Suara pengumuman keberangkatan terdengar melalui pengeras suara. Camelia berdiri, menyeret kopernya, lalu melangkah menuju pintu keberangkatan. Saat pesawat lepas landas, dia menatap pemandangan kota di bawah yang makin mengecil. Hatinya terasa begitu tenang. Selamat tinggal, James. Selamat tinggal, masa lalu. Mulai sekarang, Camelia hanya milik dirinya sendiri. Pesawat itu menembus awan, terbang menuju angkasa yang luas. Terbang menuju kehidupan barunya.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.